3 IDIOTS dalam kacamata saya
11 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in film
Banyak film yang menceritakan kisah sukses kehidupan seseorang. Tentunya dengan kerja keras sampai akhirnya menemukan titik balik kehidupan yang bahagia dan sukses.
Namun berbeda dengan film yang satu ini, meskipun film ini juga bercerita mengenai kisah sukses hidup seseorang, tetapi memakai pendekatan kritis terhadap dunia pendidikan. Pada awal menonton film ini, kita seperti digiring pada sesuatu berita yang penting sekali. Seseorang di dalam pesawat mendapat telefon dari seseorang dan seketika jatuh pingsan. Akhirnya pesawatpun dihentikan dan kembali mendarat karena alasan keselamatan jiwa penumpang. Sesampai di bandara, Farhan yang dibintangi oleh R. Madhavan terjaga dan berlari meninggalkan bandara. Kekonyolan ini berlangsung sampai Farhan menjemput temannnya Raju yang dibintangi oleh Sharman Joshi. Farhan dan Raju menemui Chatur yang dibintangi oleh Omy Vadya di kampus mereka dulu. Pencarian seorang sahabat mereka dimulai dari sini. Seorang sahabat yang sangat penting sekali yang bernama Rancho – Ranchoddas Shamaldas Chanchad. Rancho dibintangi oleh Amir Khan, artis senior India yang juga merupakan sutradara dan produser terkenal Bollywood.
Kisah mengenai Rancho diceritakan oleh Farhan sepanjang perjalanan menuju sebuah kota yang diyakini oleh Chatur sebagai tempat tinggal Rancho. Alur pun menjadi mundur ke belakang menceritakan ketika mereka memasuki bangku perkuliahan di Imperial College of Engineering, sebuah kampus yang bergengsi di India. Rancho yang pada awalnya memasuki kampus ini sudah memperlihatkan gelagat yang berbeda dibandingkan teman-temannya yang lain. Campuran kritis, cerdas, iseng, humoris, berani dan mempunyai pemikiran merdeka (hampir sempurna) dimiliki oleh Rancho. Hal ini lah yang sering membawa masalah kepada dua orang temannya yang lain.
Dengan durasi dua jam dan 43menit, film yang disutradarai oleh Vidhu Vinod Chopra ini tidak terasa membosankan. Alur maju mundur mengenai kisah perjalanan mencari Rancho, serta kisah persahabatan mereka menemukan jalan hidup masing-masing di setting dengan sangat berirama. Artinya ritme film ini tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lamban. Ada kejutan-kejutan yang dibuat sepanjang alurnya. Dengan durasi yang hampir tiga jam masih membuat kita susah untuk memprediksi alur film ini. Sehingga, kejutan-kejutan disetiap alurnya mempunyai daya tarik tersendiri.
Berasal dari novel karangan Chetan Bhagat dengan judul Five Point Someone, kisah di film ini tidak sesederhana sekedar kisah persahabatan anak manusia. Namun lebih dalam dari itu, kisah ini mengkritisi sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah dan tempat perkuliahan. Dimana mahasiswa dituntut seperti mesin dan robot, mahasiswa harus benar-benar menghafalkan pengertian yang ada di buku (teks) tanpa memahami betul konsep dari sebuah teori yang ada. Mahasiswa dituntut bagaikan mesin, bergantung kepada buku-buku yang ada, namun tidak dituntun untuk menciptakan inovasi-inovasi yang mutakhir. Belajar yang keras hanya untuk mendapatkan nilai yang baik, lulus dengan predikat yang tinggi lalu bekerja sebagai pegawai dan mendapatkan gaji yang besar. Begitulah paradigma umum yang berkembang di masyarakat kebanyakan, tidak hanya di India saja, di negara kita pun juga kejadian serupa sering terjadi. Seorang anak yang putus sekolah berusaha bunuh diri. Mentalitas yang dihasilkan dari sistem pendidikan seperti ini telah membuat kampus-kampus hanya sebagai pembunuh masa depan cita-cita dan impian. Dalam film ini, seorang mahasiswa bunuh diri karna merasa telah gagal, dan Raju pun berusaha bunuh diri karena tekanan dan tekanan yang selalu diberikan oleh Rektor ICE. Sebagai rektor, Viru Sahastrebuddhe (ViruS) yang diperankan oleh Booman Irani memerankan seorang rektor yang ortodoks, killer, keras dan keras kepala. Namun Viru sering dibuat tercengang oleh pernyataan kritis dari Rancho yang selalu mengkritisi kebijakan dan pemikirannya. Rancho juga sekaligus mencengangkan karena selalu berhasil berada pada tingkat pertama di kampusnya. Ia pun lulus sebagai lulusan terbaik dari ICE.
India yang merupakan negara berkembang seperti Indonesia, mempunyai kebiasaan bahwa jika seorang anak lelaki yang lahir, maka ia harus menjadi insinyur, dan jika anak perempuan akan menjadi dokter. Hal itulah yang membuat dilema pada diri Farhan, yang sebenarnya sangat mencintai dunia fotografer satwa liar. Pun begitu juga dengan Raju yang belajar dengan segudang tekanan kehidupan yang miskin di keluarganya, sehingga membuat ia menjadi pengecut dan menjadi tidak berani dalam melangkah. Hal ini lah yang dikritisi oleh Rancho, bahwa hidup itu hanya sebuah pilihan, jika pilihan kita salah hari ini maka kehidupan kita tidak akan bahagia. Permasalahan diri Rancho hanya satu, yaitu ia mencintai anak rektornya, Mona. Hal ini pula lah yang dibantu oleh kawan-kawannya agar Rancho juga bahagia. Kisah percintaan yang ada pun hanya sekitar Rancho dan Mona, itupun hanya sebagai pelengkap.
Berbanding terbalik dengan mereka bertiga yang mencari jati diri dan pilihan hidup sendiri. Chatur yang digambarkan sebagai seorang jenius yang hanya pintar menghafal teks selalu mendapatkan ganjaran atas “kepintaran” semu nya. Perbandingan pemikiran telah membawa empat orang mahasiswa ini pada jalan hidup yang berbeda-beda, sesuai dengan pilihannya sendiri-sendiri. Chatur yang selalu rajin menghafal berhasil hidup kaya dengan menjadi pegawai dengan jabatan seorang direktur. Farhan yang memilih menjadi fotografer akhirnya menjadi seorang fotografer satwa liar profesional. Raju pun berhasil mempunyai kehidupan yang sukses dengan menjadi peneliti. Yang paling menarik adalah Rancho dengan pola pikirnya yang merdeka, kuliah bukan saja mencari nilai, namun mencari ilmu dan berusaha untuk meraih kesempurnaan hidup dan sangat menginginkan merubah sistem pendidikan akhirnya menjadi seorang ternama dan sukses. Seorang ilmuwan paling dicari didunia dengan memiliki 400hak paten dibidang keilmuan serta mempunyai sekolah yang luar biasa untuk anak-anak.
Film ini berhasil menggiring kita untuk kembali melihat sistem pendidikan dan memberikan pencerahan terhadap pilihan-pilihan hidup yang nantinya akan menjadi point penting dalam menentukan kebahagiaan kita. Tidak hanya pada pilihan pekerjaan, namun juga pada pilihan menentukan pasangan hidup, seperti cerita Mona dan kekasihnya yang sudah seperti alat pendeteksi harga.
Kritik terhadap institusi pendidikan begitu kental pada film ini. tidak hanya pada keseluruhan cara pengajaran, namun juga pada cara menilai keberhasilan seorang mahasiswa. Tekanan-tekanan yang diberikan oleh institusi pendidikan sebaliknya hanya akan menjadi boomerang kepada mentalitas yang buruk. Begitu juga dengan sistem senioritas yang ada di kampus, logika terkadang sudah tidak terpakai lagi.
Dari sisi sinematografi, menarik sekali ketika film ini bercerita mengenai kehidupan keluarga Raju yang digambarkan dengan warna hitam putih. Dan kembali berwarna ketika cerita beralih pada kisah berikutnya. Pun ketika pada keluarga Raju juga seolah cerita ini terdapat pada TV hitam putih. Sebuah kritik yang cerdas terhadap kelas sosial. Bahwasanya pada saat hidup modern seperti sekarang, masih banyak rakyat India yang hidup di garis kemiskinan, bahkan untuk menikahkan anak perempuan saja kesusahan.
Dari sekian banyak hal positif dan pujian yang layak di diacungkan terhadap film yang dirilis pada Desember 2009 ini juga terdapat beberapa hal yang terlalu berlebihan, seperti keluarbiasaan seorang Rancho yang kelihatan seperti manusia yang sempurna, kecuekannya sampai-sampai membuat ia berani mandi di halaman kampus dengan menggunakan selang air dihadapan banyak orang. Namun keluarbiasaan ini juga diimbangi oleh kisah kehidupan pribadi Rancho, yang sebenarnya adalah anak dari seorang tukang kebun yang disekolahkan oleh majikannya dan menggantikan anak majikannya untuk mendapatkan gelar insinyur di ICE.
Beberapa tahun ini, di Indonesia telah banyak beberapa khursus ataupun pelatihan peningkatan kemampuan berwirausaha dan pengembangan diri. Hal ini terjadi karena masyarakat sudah mulai sadar bahwa pendidikan formal sudah tidak bisa benar-benar menjamin pengembangan diri dan peningkatan kualitas hidup. Dan saya pikir, film 3 Idiots ini mampu mengalahkan khursus – khursus pengembangan diri yang ada. Materi-materi dalam khursus-khursus tersebut sudah disarikan dengan indah melalui film ini.
