Tan Malaka di Situs Jejaring Sosial Facebook

 

Melalui http://terselubung.blogspot.com/2010/11/20-negara-pengakses-facebook-terbesar.html mengatakan bahwa ‘Facebook’ Situs jejaring pertemanan yang telah menembus 500 juta pengguna, hasil ini diumumkan Facebook per Juli 2010.

Berdasarkan data yang dikeluarkan situs Royal Pingdom, Amerika Serikat merupakan negara yang menduduki peringkat pertama pengakses terbesar situs yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini.

Amerika menyedot sekitar 24 persen yaitu sekitar 130 juta pengguna pengguna aktif Facebook, disusul oleh Inggris, Indonesia dan Italia. Di inggris terdapat sekitar 28 juta pengguna Facebook. Indonesia dan Italia memiliki jumlah pengguna yang sama yaitu sekitar 26 juta.

Indonesia menduduki peringkat ketiga dan merupakan satu-satunya negara di Asia yang masuk dalam 10 besar pengakses Facebook. Sedangkan Malaysia, Filipina, Taiwan,dan Thailand berada jauh dibawah urutan sepuluh besar pengakses Facebook di dunia.

 

***

Facebook tidak hanya sebagai situs yang mempertemukan jutaan orang di muka bumi ini namun sebagai media online ia mampu untuk menciptakan dialektika yang ajeg, terlepas apakah itu sangat subjektif atau dibilang narsis.

Namun, beberapa hari ini saya menemukan sebuah diskusi yang sangat hangat sekali melalui facebook ini. Diskusi dan mungkin bisa juga dibilang dialektika mengenai seorang tokoh dunia yang sangat saya kagumi meski saya baru berkenalan dengan beliau. Tokoh yang satu ini sering sekali dibincangkan dan kata-katanya sering sekali dikutip oleh aktivis dimanapun. Beliau yang menginginkan MERDEKA 100%. Beliau yang namanya dihilangkan dari buku sejarah nasional Indonesia. Founding Father yang lahir dari ranah Minang dan menjadi tokoh penting komunis di dunia. Ibrahim Datuk Tan Malaka atau yang sering kita kenal Tan Malaka.

Diskusi panjang ini berawal ketika seorang teman menautkan link dengan judul “ Minangkabau : Masyarakat Komunis Pertama di Dunia http://itonesia.com/minangkabau-masyarakat-komunis-pertama-di-dunia/ yang isi tulisan nya saya kutip pada paragraph pertama sebagai berikut :

The Father of Our Founding Fathers, Tan Malaka, pernah mengatakan bahwa Minangkabau adalah masyarakat komunis yang tidak mengenal penjara. Pendapat ini bukan sekedar sindiran Tan Malaka terhadap kaum Bolsevhik Soviet yang pasca revolusi gandrung sekali memenjarakan orang. Suatu hal yang menjadi paradoks dari tujuan komunisme untuk membebaskan masyarakat dari penindasan dan keterasingan. Ucapan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka itu berangkat dari sebuah pemahaman mendalam tentang sistem sosial di tengah-tengah masyarakat Minangkabau yang peradabannya telah berlangsung dan berkembang selama beberapa abad. Ini bukanlah tesis baru tentang masyarakat Minangkabau karena sejarah telah membuktikan bagaimana surau pernah menjadi tempat pembibitan komunis sebelum kita menakar komunisme dalam tafsir tunggal anti Tuhan. Surau Jembatan Besi yang menjadi episentrum pendidikan Sumatra Thawalib di Padang Panjang adalah salah satu tempat yang paling aktif sebelum penindasan komunis oleh pemerintah kolonial 1926. Tetapi apakah sejarah komunis di Minangkabau hanya sebatas gelora masa-masa bergerak sebelum exorbinte rechten memberi kebebasan pada pemerintah kolonial untuk membuang setiap kata “tidak” ke neraka Boven Digoel? Ternyata tidak, komunisme di Minangkabau telah tumbuh dan berkembang bahkan sebelum teori itu dicetuskan.

Dan sengaja juga saya kutip-kan paragraph terakhir dari E.S.Ito ini sebagai berikut :

Saya tidak sedang mengagung-agungkan sebuah kebudayaan yang memang sudah terlanjur agung. Tulisan ini hanya refleksi saya terhadap sebuah suku bangsa yang tengah kehilangan identitas, Minangkabau. Yang terjadi di Minangkabau adalah kebalikan dari tesis Marx yang menyatakan komunisme akan mengalahkan kapitalisme. Di Minangkabau saat ini, komunisme (dalam batas-batas pemahaman ilmiah dan primitif yang mungkin sering juga diartikan sebagai komunalisme) terkapar oleh kekuatan kapitalisme. Masyarakat Minangkabau ciut oleh zaman yang tidak siap mereka hadapi. Supremasi perempuan di rumah tangga tergerus oleh peran bapak yang dominan karena semuanya sekarang diukur dengan materi. Para mamak seringkali menjadi pecundang di antara kemenakannya. Tunganai seringkali “bertinju” dengan Rang Sumando untuk harato pusako. Rang Rantau pulang jadi “Pamanggak” dan bukan jadi suri tauladan. Dalam banyak keluarga yang berantakan itu, masa depan Minangkabau tampaknya semakin suram saja. Bila Tan Malaka sekarang masih hidup, tentu suaranya tidak akan lagi nyaring menyatakan bahwa Minangkabau adalah masyarakat komunis tanpa penjara. Minangkabau tengah sekarat.

Sengaja saya masukkan tulisan E.S. Ito ( Penulis Novel “Negara Kelima” dan “Rahasia Meede” ) ini karena tulisan inilah yang kemudian menimbulkan diskusi panjang mengenai TAN MALAKA selanjutnya di catatan seorang teman yang bernama Devy Kurnia Alamsyah ( Mahasiswa S2 UI, Sutradara film Selopanggung- film mengenai penggalian makam Tan Malaka di Selopanggung- periset dan sekaligus pegiat sinema tamatan S1 sastra Inggris UNP ).

Berikut juga saya copy pastekan kembali tulisan Devy Kurnia Alamsyah (baca : Apik ) yang menjadi sorotan beberapa sahabat lainnya. Akan tetapi saya potong sedikit tulisan awalnya karena bukan merupakan isi tulisan. Untuk membaca lengkapnya silahkan klik http://www.facebook.com/notes/devy-kurnia-alamsyah/tan-malakalagi/492612016263 :

Kubaca satu komen teman di salah satu link yang ku-share di wall-ku. Catatan itu berasal dari satu diskusiku di kosan Bung Ito saatku mengantarkan draft pertama bukuku Grand Homme; Tan Malaka. Dia mengutarakan satu hipotesisnya tentang revolusi Minangkabau yang kemudian kuiyakan dengan memberi sedikit uraian tentang beberapa hipotesisnya Tan Malaka tentang komunisme asli dari Minangkabau. Gayung bersambut, apa yang kami diskusikan itu kemudian ditulis oleh seorang notulen yang langsung menawarkan diri saat itu juga. Sepertinya diskusi itu telah dikembangkan lagi sehingga lebih berisi oleh Bung Ito. Diskusi itu terjadi bulan April lalu namun baru kubaca tulisannya beberapa hari lalu. Namun yang membuatku senang adalah komen temanku itu. Sungguh sangat klasik—namun selalu membuatku terusik. Inilah komennya:

“Tan Malaka bapak sosialis komunis Indonesia. Didikan Rusia dan Cina. Atheis. Sjahrir dan kawan-kawan; didikan Eropa (Belanda) dan dengan sebelumnya telah dibekali tuntunan agama yang kuat.  So, Tan Malaka father of founding fathers (Sjahrir dkk)?! Amat subjektif dan tidak berdasar! Ngaco!”

Aku miris membacanya. Bukan kepada komen temanku tapi dengan bagaimana berhasilnya pemerintah Orde Baru membuat rakyatnya—terutama generasi muda—untuk tak mau menggali sejarah bangsanya. Temanku  itu hanya satu saja dari sekian juta generasi hari ini yang dengan sendirinya berjarak dari sejarah—termasuk aku.

Jika dibilang bahwa Tan Malaka adalah bapak sosialis komunis Indonesia itu benar adanya namun bukan dia yang pertama. Ada nama-nama lain di belakangnya. Ada Sneevliet, ada Semaoen dan nama-nama lain. Satu hal yang harus dimengerti adalah Partai Komunis Indonesia adalah anak keturunan langsung dari Sarekat Islam yang kemudian terpecah dua. Partai Komunis Indonesia adalah turunannya dengan Semaoen sebagai pemimpin utamanya. Ketika Semaoen berangkat ke Rusia maka terjadilah kekosongan kepemimpinan. Dikarenakan ketiadaan kader yang mumpuni maka Tan Malaka melenggang menggantikan Semaoen sebagai ketua PKI.  Tan Malaka kemudian berselisih paham dengan Agus Salim dan Abdul Muis yang menerapkan disiplin partai terhadap mereka yang juga anggota PKI. Bagi Tan Malaka permusuhan Islam dan komunisme ini hanya akan menguntungkan kaum penjajah.

Tan Malaka setelah pulang dari sekolah guru Rijkweekschool di Harleem Belanda—bukan didikan Rusia dan Cina—ia mendirikan sekolah di Deli Sumatera Utara. Tak kuasa melihat bagaimana perlakuan kolonial Belanda terhadap kuli-kuli di Deli, Tan Malaka hijrah ke Semarang. Deli telah membuka matanya. Kolonialisme mesti dihapuskan dari bumi Nusantara—dan Tan Malaka punya metode jitu untuk itu.

Pendidikan.

Ya, melalui pendidikanlah segala kebodohan dan kemiskinan yang selalu dipelihara itu bisa dienyahkan. Dialah satu-satunya tokoh kemerdekaan yang basisnya pendidikan. Ingat Hatta itu lulusan ekonomi Belanda, Sjahrir tak lulus di Belanda, M. Yamin (ia menyebut Tan Malaka sebagai bapak Republik Indonesia) itu master hukum dan Soekarno itu lulusan teknik ITB—sekolah yang dibantu pendiriannya oleh Abdul Muis. Dan keempat orang itu memiliki pemahaman marxisme yang kuat pada diri mereka semua. Hulunya sama di hilir yang berbeda. Jika masih penasaran lihat saja UU kita dan lihat seberapa sosialisnya kita sesungguhnya.

Tan Malaka secara praktik adalah seorang guru—sama seperti temanku yang memberi komen itu. Hari ini kita mempercayai bahwa Ki Hajar Dewantoro adalah Bapak Pendidikan Indonesia tapi tak tahukah kalian bahwa Tan Malaka pernah pula memberikan proposal konsep sekolah yang ia idamkan kepadanya dan kemudian diaplikasikan ke dalam Taman Siswa? Berbekal semangat itulah Tan Malaka kemudian mendirikan sekolah di gedung Sarekat Islam. Dalam beberapa tahun sekolah itu dianggap sukses dalam artian metode pengajaran Tan Malaka sungguh aplikatif. Tak lama kemudian sekolah ini kemudian banyak berdiri pula cabangnya dan bahkan di Sumatera Barat konsep ini juga diaplikasikan di berbagai daerah sehingga pemerintah Sumatera Westkust itu mesti mencipta peraturan ordo sekolah liar. Ketika ia mendirikan sekolah di Bandung, Tan Malaka kemudian ditangkap dan dibuang ke Belanda.

Di Sumatera Barat sendiri pada tahun 20an terjadi kecamuk pemikiran yang luar biasa. Berdirinya Diniyah (Sjahrir lahir di lingkungan ini) dan Tawalib di Padang Panjang menjadikan Kota Serambi Mekkah itu kemudian menjadi pusat penyebaran marxisme di Sumatera Barat. Padang Panjang kemudian menjadi kota di mana ajaran Tan Malaka menyebar tak terbendung ke Padang, Bukit Tinggi, Silungkang hingga Payakumbuh—nagari Suliki di mana Tan Malaka dilahirkan. Di Padang, Adabiyah menjadi tempat penyebaran ajaran marxisme. Tentu hal ini sangat menghawatirkan kaum penjajah—terutama konsep radikal dan revolusioner yang dibawa ajaran itu.

Atheis.

Jika Tan Malaka disebut komunis itu iya dan pasti karena dia sendiri mengaku itu. Tapi jika Tan Malaka disebut atheis, tunggu dulu. Setelah dibuang ke Belanda, pada tahun 1922 Tan Malaka pergi mengikuti suatu kongres tahunan di Rusia. Ia menjadi salah satu pembicara di sana—sehari sebelum Lenin berpidato. Tan Malaka memilih topik Pan-Islamisme sebagai bahasannya. Tesis Marx, seorang keturunan yahudi, tentang agama itu candu—sesuatu yang memiliki sifat adiktif dan merusak—diterima mentah-mentah oleh kaum marxis di seluruh dunia. Tentu marx memakai kerangka filsafatnya sendiri sehingga ia berkesimpulan bagaimana institusi keagamaan—terutama gerejea—terlibat aktif di dalam penghisapan kaum proletar sehingga terciptalah kesadaran palsu di antara mereka. Gereja dianggap dipakai kaum kapital  untuk melenakan kaum proletar tentang surga setelah tiada sehingga dunia bukan sesuatu yang penting. Lalu Lenin pun mengeneralisasi ini ke semua agama yang ada. Komunisme tidak hanya meniadakan agama—ia pun meniadakan Tuhan—bahkan ia malah menjadi agama baru kemudian.

Tan Malaka bersuara di tengah kumpulan orang-orang yang percaya Tuhan itu tiada lalu malah bercerita tentang keberhasilan koalisi Islam dan marxisme di Nusantara. Ia pun dengan cerdik meminta dukungan untuk mendukung konsep Pan-Islamisme yang ia usung. Di sanalah ia memetakan posisinya di kalangan kaum komunis sedunia; jika aku berhadapan dengan Tuhan maka aku seorang muslim tapi jika aku berhadapan dengan manusia aku seorang komunis karena bukankah di antara manusia itu banyak setannya, demikian Tan Malaka.

Tentu kalimat itu mesti kita lihat dari kacamata kolonialisme. Manusia-manusia setan yang dimaksud Tan Malaka adalah para kolonialis—bangsa apapun juga—yang telah menjajah negerinya selama berabad-abad. Lalu jika ada lagi yang bertanya Tan Malaka itu atheis maka ia mesti membaca brosur Tan Malaka yang berjudul Islam dalam Tinjauan Madilog. Hamka—yang diakui keislamannya berkenan memberi pengantar di brosur ini—mengatakan ‘insyaflah saya bahwasanya di zaman modern ini untuk membela agama, perlulah kita memperluas pengetahuan, di dalam ilmu-ilmu yang amat diperlukan di zaman baru’. Hamka percaya bahwa dasar agama yang kuat di diri Tan Malaka itu tak hilang namun malah semakin memukau Tan Malaka tentang konsep Islam sebagai bagian tak terpisahkan untuk sebuah perubahan di negerinya yang sedang terjajah itu. Islam adalah keyakinannya dan komunisme adalah alatnya untuk keluar dari penjajahan.

Jika temanku  itu berkata Sjahrir diberikan agama yang kuat tentu aku tergelak jadinya. Jika itu Hatta tentu itu sudah pasti tapi jika si penggila pesta itu dibandingkan dengan Tan Malaka tentu akan sangat debatable dan tak mungkin sehari dua kita kan membahasnya. Tapi apakah kesalehan seseorang sesuatu yang penting di sini? Iya dan tidak. Iya jika kita sebagai orang timur yang selalu ingin memandang segala sesuatunya dari konteks moral bahkan Kyai Sejuta Umat pun kini bisa kita permasalahkan terkait moralitasnya selama ini. Maka ia kan menjadi tidak jika kita lebih memikirkan apa substansi dari perjuangan Tan Malaka selama ini.

Jika saja temanku itu membaca Madilog—buku yang ia sebutkan itu—maka ia tentu akan paham bagaimana sesungguhnya titik yang ingin dicapai oleh sang guru itu. Melalui Madilog, Tan Malaka memakai aforisma budaya alam minangkabau (BAM) dipadu dengan konsep sains ala Harun Yahya untuk membedah kemunduran masyarakat Indonesia sehingga ia bisa terjajah sekian lamanya. Tak hanya di situ, ia kemudian memberikan solusi—semacam kerangka berpikir maju untuk terbebas dari perangai mistis yang membelenggu masyarakat kita hingga hari ini.

Lihatlah bagaimana Obama ketika atribut kenegaraannya jatuh tatkala ia pidato, apa reaksinya? Bandingkan dengan SBY yang ketika pidato hinggap lalat di pipinya, apa yang ia lakukan? Obama mencoba bercanda dengan audiens sehingga terkesan itu hanya peristiwa biasa sedangkan SBY memanggil timnya untuk berdoa bersama supaya terhindar dari bala bencana yang entah kenapa sangat akrab di masa jabatannya ini.

Lalu jika temanku itu menutup komennya dengan kata ‘sangat tidak berdasar’ dan ‘ngaco’, maka seharusnya ia terbangun dari tidurnya. Sudah saatnya generasi muda bangun dari ketidakingintahuannya akan sejarah. Jangan biarkan pemerintah selalu menang mendiskreditkan anak bangsa seakan kita hanya satu statistik yang senang ditipu mentah-mentah. Bung Ito pernah menyadarkanku akan arti penting sejarah ini dan ia punya cara untuk memperkenalkan kembali sejarah itu kepada kaum muda. Di sini aku berdiri bukan sebagai yang paling tahu tentang sejarah. Aku berdiri di sini sebagai bagian dari mereka yang selama ini tertipu oleh penguasanya. Aku berdiri sebagai seorang anak muda yang haus akan kebenaran masa lalunya yang selama ini dihilangkan dengan paksa. Aku hanya anak muda yang kecewa ketika tahu tidak ada penis yang disayat dan pipi yang disilet di setiap mayat para jenderal di tahun 65. Lalu jika ia mengatakan bahwa tambo itu fiktif maka sefiktif apakah buku sejarah resmi bangsa ini? Lalu sengaco apakah kita yang memamah itu semua tanpa ada kemauan untuk membantah dan mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi?

Jika temanku itu masih berkata apa yang kuutarakan panjang lebar ini sangat tak berdasar dan ngaco maka aku sungguh tak tau lagi harus berbuat apa. Tapi satu hal yang kutahu, bahwa orang-orang seperti Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Hamka, Agus Salim, dll takkan pernah lahir lagi di Sumatera Barat. Nagari itu sudah tamat.

Margonda, 7 November 2010

Catatan ini kemudian mendapat komentar dan banyak kesepakatan dan ketidaksepakatan dengan Apik mengenai ke Atheisan Tan Malaka, yang kemudian mendorong Apik sekali lagi untuk melanjutkan Catatan nya ini di FB. Namun sebelum saya kembali mengajak  membaca catatan Apik tentang Tan Malaka, saya ingin menampilkan Catatan Apik mengenai hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2010 kemaren yang juga masih mengenai Tan Malaka dan peristiwa 10 November silam di Surabaya. Dengan link http://www.facebook.com/notes/devy-kurnia-alamsyah/hari-pahlawan-dan-tan-malaka/493052291263. Tulisan ini pernah dimuat di Haluan pada tanggal 9 November 2010 mengenai kepahlawanan Tan Malaka yang sudah sepantas dan selayaknya diberi gelar “Grand Homme” yang merupakan gelar terhormat atas bukti pengabdiannya di ranah internasional. Tulisan ini menjadi menarik untuk dibaca karena disinilah Apik menjelaskan dengan panjang lebar mengenai kepahlawanan Tan Malaka yang sengaja telah dihilangkan oleh sejarah bangsa ini yang sangat tidak menghargai pahlawannya sendiri.

Kemudian apik melenggang ke note selanjutnya yang menjabarkan bagaimana awal perkenalannya dengan Tan Malaka dan bagaimana komentar buya Mas’oed Abidin  yang berkomentar mengenai keislaman Tan Malaka. “Tan Malaka adalah seorang muslim yang tegas dan konsisten dengan jalan pendiriannya terutama dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.”  Begitulah pendapat awal dari Buya Mas’oed mengenai Tan Malaka yang selanjutnya bisa dibaca di http://www.facebook.com/note.php?note_id=495340976263&comments&ref=notif&notif_t=note_reply. Tulisan ini ia catatkan pada tanggal 12 November 2010.

Catatan Apik ini kemudian mendapat pro dan kontra sekali lagi dari beberapa sahabat dengan dalil masing-masing . Pun kemudian Apik kembali melanjutkan jabarannya mengenai Tan Malaka pada tanggal 13 November 2010 yang bisa dibaca lengkap di http://www.facebook.com/note.php?note_id=495787256263&comments&ref=notif&notif_t=note_reply. Di catatannya yang ketiga mengenai Tan Malaka dan masih membahas mengenai ke atheisan Tan Malaka dan juga Apik menyinggung sedikit mengenai perjalanan kisah cinta Tan Malaka yang sempat disinggung oleh temannya di komentar atas catatan itu yang mengatakan Tan Malaka hidup membujang sampai akhir hayatnya. Serta tak luput juga dia menambahkan bagaimana kisah perjalanan cinta Hatta, Syahrir dan juga Soekarno. Apik pun sedikit membahas mengenai matrilineal Minangkabau yang kemudian mendapat ketidaksetujuan dari saya pribadi. Ini bukanlah catatan dia yang terakhir di Facebook mengenai Tan Malaka, selanjutnya di link “Tan Malaka : Sebuah Pencapaian” yang dimuat pada tanggal 14 November 2010. http://www.facebook.com/note.php?note_id=496543866263&comments&ref=notif&notif_t=note_reply.  Pada intinya Apik mengatakan :

“Lalu  apa yang kuinginkan sebenarnya?

Aku hanya ingin pemerintah kita merehabilitasi nama-nama itu; Tan Malaka, Sjahrir dan (Soekarno) Hatta—walau Hatta tak terlalu tercemar di buku sejarah. Aku ingin mereka memberi porsi yang sewajarnya dalam buku sejarah sehingga generasi ke depan dapat memaknai apa yang sesungguhnya yang mereka perjuangkan. Aku tak peduli di mana Tan Malaka akan dimakamkan karena yang paling penting bagiku bukan itu. Aku ingin generasi muda untuk mengenal bagaimana semangat para pendiri bangsa—dengan perbedaan ideologinya—berusaha untuk menentukan arah masa depan negeri ini.

Terlepas dari Tan Malaka itu atheis atau tidak. Muslim atau tidak. Aku sudah tak lagi peduli. Semua orang punya kebebasan untuk itu. Namun akhirnya aku baru sadar bahwa apa yang kuperjuangkan ini masih sebuah awal untuk perjuangan lebih besar ke depannya.“

***

Bagi saya yang mengikuti diskusi ini dari awal dan juga ikut dalam arus percakapan komentar –yang disetiap catatannya selalu lebih dari 30 komentar — akan tulisan Apik ini menjadi menarik bagi saya. Dialektika itu terbentuk sedemikian rupa  di situs pertemanan Facebook yang kebanyakan orang menggunakannya sebagai ladang narsis-narsisan (mungkin juga termasuk saya sendiri). Teman saya ini pun kemudian menyampaikan pendapatnya mengenai diskusi menarik yang terjadi di facebooknya melalui SMS kepada saya. “Diskusi ini bukan one man show, gw seneng ketika orang yang tak bersetuju dengan gw karna itu artinya dialektika Hegelian terjadi;ada tesis dibantah dengan antithesis untuk mencapai sintesis, tesis yang sempurna”. Namun sayangnya komentar-komentar yang menarik dari beberapa teman itu tidak begitu berani untuk menjadikan sebuah tulisan untuk “melawan” tulisannya Apik. Begitupun dengan saya yang kemudian disindir oleh Apik untuk segera menulis tentang matriakat dari sudut pandang saya sebagai perempuan Minang.

Saya sangat sepakat dengan Apik bahwa untuk membantah sebuah tulisan haruslah dijawab juga dengan sebuah tulisan yang menyangkal tulisan pertama, tentunya dengan dalih-dalih yang tepat. Karena yang terjadi selama ini adalah kita hanya sebagai komentator yang manis. Kita berkomentar terhadap suatu karya orang lain dan kemudian kita menyebarkan retorika kita ke ruang public dan berceloteh banyak tanpa berani untuk kemudian membantah dengan jalur yang lebih intelek yaitu dengan tulisan.

Facebook tentunya menjadi ajang yang sangat mungkin untuk kemudian menciptakan celoteh-celoteh yang tidak berguna. Sepertinya akan lebih menarik meniru sedikit dari cara Apik berceloteh. Meskipun saya juga tau bahwa Apik pun tak luput dari ke-narsisan di Facebook. Namun menjadi catatan penting untuk saya pribadi bagaimana Facebook sangat mampu untuk menyebarkan wacana kita mengenai banyak hal dengan cara berceloteh dengan lebih intelek.

Diakhir kata saya sangat menyarankan untuk kemudian membaca secara utuh, baik tulisan E.S.Ito ataupun tulisan Apik (Devy Kurnia Alamsyah) dari link yang telah saya cantumkan diatas. Saya sebagai generasi muda yang ikut dalam karnaval arak-arakan pembodohan massal atas  sejarah oleh orde baru sangat ingin keluar dari pembodohan sejarah tersebut. Mungkin juga untuk teman-teman yang belum membaca Madilog ( karya terbesar Tan Malaka) dapat mengunduhnya disini http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/Madilog/index.htm.  Kemudian patut dibaca juga http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1948-Islam.htm. Dari sinilah saya kemudian mengerti kenapa belajar filsafat itu sangat penting. Sayang sekali kita Indonesia belajar filsafat baru dari bangku kuliah pada semester VI ( untuk di jurusan Televisi).

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.