Tema Perempuan dalam Film Indie Sumatera Barat

Istilah Indie adalah kependekan dari independent. Indie dapat berarti ‘bebas’, ‘merdeka’ atau ‘berdiri sendiri’. Sehingga komunitas film indie ini dapat bergerak dengan kreatif. Guna menghilangkan patokan-patokan ideal dalam penciptaan film, kreator film indie perlu membebaskan ide. Keluar dari batasan-batasan perfilman yang umum. Demikian pernyataan Pengamat Film Indie dan Industri Kreatif Gustav Hariman Iskandar dalam diskusi film pendek beberapa waktu lalu.

Sumatera barat saat ini menjadi semarak dengan hadirnya komunitas-komunitas film indipenden (yang disingkat menjadi indie) semenjak begitu gencarnya roadshow film dokumenter yang singgah di kota Padang dan sekitarnya. Komunitas-komunitas itu hadir melalui kesadaran akan pentingnya media audiovisual sebagai saluran untuk menyampaikan ide dan gagasan.

Sejak tahun 2005 beberapa anak muda di Sumatera Barat mulai membentuk komunitas film indie. Diantaranya komunitas Matakata yang didirikan oleh Devy Kurnia Alamsyah dan beberapa orang di fakultas sastra inggris Universitas Negri Padang yang secara berkala memproduksi film indie. Lalu komunitas Seni Belanak yang mengadakan workshop OK VIDEO bersama RuangRupa Jakarta yang kemudian melahirkan beberapa karya video dan dipamerkan di festival OK Video pada tahun 2006 di Jakarta. Komunitas film dan teater Hitam Putih yang berdomisili di Padangpanjang pun kemudian secara berkala mengadakan pemutaran film indie bersama dengan In-Docs dibeberapa tempat di Sumatera Barat. Pada penghujung tahun 2008 kemudian hadir komunitas Sarueh yang memproduksi karya-karya dokumenter dan bekerjasama dengan Forum Lenteng Jakarta dengan mengusung gagasan ide Akumassa. Sementara itu, pertengahan 2009 hadir beberapa komunitas Film lainnya di Padangpanjang seperti Civiliant dengan mengadakan diskusi dan menerbitkan buletin, namun sekarang tak pernah terdengar lagi kabarnya. Kemudian berkembang pula club film di kampus-kampus di Padang seperti UNAND Sinematografi dan Club Film UNP.

Kehadiran komunitas film indie ini di Sumatera Barat tentunya membuat gairah kesenian menjadi lebih berwarna. Hal ini pun memicu beberapa pihak untuk mengadakan lomba-lomba dokumenter dan film indie di Sumatera Barat. Diantaranya TVRI Sumbar, Taman Budaya Padang dan Jurusan Televisi ISI Padangpanjang. Dan festival-festival skala nasional yang kemudian mulai melirik sineas muda dari Sumbar untuk ikut berpartisipasi.

Adapun dari pertumbuhannya cukup menggembirakan walau tidak begitu signifikant. Beberapa karya sineas muda ini telah berbicara di forum-forum yang lebih besar. Seperti karya Yudi Leo “Marosok dalam saruang” yang masuk dalam festival dokumenter di FFTV IKJ. Karya kolaborasi Sarueh dengan Lidya yang berjudul “Padang in Carnival” masuk dalam nominasi FFD di Jogjakarta. Serta karya Akumassa Sarueh yang dipamerkan pada pameran Videobase Forum Lenteng, 2009, Pameran FIXER di Galeri North Art Space, Ancol tahun 2010 dan Presentasi Akumassa dengan memutarkan beberapa karya Akumassa Komunitas Sarueh di Korea, 2010.

Menurut Hafiz dan Abduh Aziz, bahwa film itu sebagai “Cultural Stateman” yang artinya film yang bahkan sangat sederhana pun tetap merupakan gagasan kebudayaan dari pembuatnya . Keinginan untuk menyampaikan gagasan kebudayaan itulah yang melatarbelakangi kehadiran berbagai tema yang beragam mengenai konten lokal yang ada. Jika dilihat dari tema karya, komunitas film indie ini pada umumnya mengangkat isu lokal yang luput dari jangkauan media mainstream. Tema-tema itu adalah seputar tema budaya, sosial masyarakat,dan konten lokal lainnya seperti tema perempuan dan perkembangan pergesekan kebudayaan Minangkabau hari ini dengan perkembangan zaman modern dan post modern.

Tema-tema perempuan dan interaksinya di dalam perkembangan zaman begitu kuat menjadi cultural stateman dari komunitas film indie. Diantaranya film “Kartini Hari Ini” karya Afrigo dan “ Penambang Kapur di Bukit Tui” oleh komunitas Sarueh di Padangpanjang yang begitu kuat menyampaikan isu perempuan melawan pergolakan hidup untuk tetap bertahan dengan kerja keras melawan diskriminasi patriaki.

Penulis melihat bahwa dalam kekerabatan Minangkabau perempuan mempunyai kedudukan tertinggi sebagai pemegang hak waris dan harta kaum, ini ternyata tidak menjamin kehidupan perempuan di Minangkabau menjadi lebih baik. Beberapa tesis yang mengatakan bahwa minangkabau merupakan masyarakat komunis pertama di dunia dengan sistem materilinial yang seharusnya menguntungkan posisi perempuan di Minangkabau ternyata tak mampu dalam melawan arus perkembangan zaman yang semakin dikuasai oleh kaum borjuis kapitalis . Sistem itu kian lama kian tergerus. Hal ini lah yang kemudian diangkat oleh penggiat film indie untuk menggambarkan keberadaan dan posisi perempuan di Minangkabau saat ini.

Hal ini sangat menarik untuk lebih lanjut diteliti. Bagaimana gagasan-gagasan kebudayaan ini disajikan dengan ringan dalam film indie oleh komunitas film maupun secara personal dengan mengusungnya dan menghantarkan menjadi sebuah gagasan yang meluas kepada sistim kekerabatan Minangkabau maupun posisi tawar perempuan dalam kehidupan domestik dan roda perekonomian masyarakat kita. Ini menjadi menarik lagi karena narasi-narasi kecil ini tidak pernah diangkat oleh media mainstream dan ini membuktikan bahwa komunitas indie ini mempunyai peran penting didalam memunculkan wacana-wacana lokal yang luput dari perhatian media mainstream untuk kemudian menjadi wacana yang patut diperbincangkan untuk diterjemahkan secara akademik.

Oleh : Gusnita Linda Tulisan ini adalah sebagai latar belakang yang dibuat untuk proposal penelitian pada tahun 2010.

3 Komentar (+add yours?)

  1. Bagindo s tanjung
    Jan 19, 2012 @ 20:06:23

    Mantap maju terus perfilman indonesia, dengan karya kreatifitas indie, semuga dapat mengangkat adat dan budaya Minang nan sudah mulai pudar. by Komunitas film Indi’e Padang Pariaman sumatra barat

    Balas

  2. Bagindo S Tanjung
    Jan 19, 2012 @ 20:10:58

    Mantap, semoga dengan karya dan kreatifitas indie, mampu mengangkat kembali adat dan budaya nan sudah mulai pudar melalui film film indie dan kekompakan dan persatuan komunitas film indie tentunya sangat mendukung sekali. by bst indie in action komunitas film indie Padang Pariaman sumatra barat.

    Balas

  3. Bagindo S Tanjung
    Jan 19, 2012 @ 20:12:18

    Maju terus Komunitas indie

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.