Anak-Anak Merupakan Konsum-Teroris
16 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
in Essay
Iklan merupakan proses penyampaian pesan dari komunikan kepada komunikator dengan tujuan mempengaruhi komunikator untuk membeli produk yang diiklankan tersebut. Proses ini sudah terjadi sejak jaman manusia masih dalam proses food gathering ( mengumpulkan makanan ) atau sejak jaman Neolithikum ( batu muda ). Proses penyampaian pesan (iklan) kemudian mengalami fase-fase perkembangan sesuai dengan zaman nya dan sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini tidak luput dari perkembangan teknologi yang semakin berkembang dengan pesat. Pada akhirnya di abad ke – 21 ini fase perkembangan periklanan sudah semakin komplit dan semakin menggebu-gebu untuk memasarkan produknya. Alhasil kita hampir setiap hari, setiap tempat, dan setiap saat selalu diberondong oleh bujukan dan rayuan peng-iklan ( pihak yang mengiklankan/ komunikan ) untuk membeli produk yang diiklankan tersebut.
Perkembangan periklanan pun berkembang sampai kepada pertumbuhan beberapa cabang ilmu yang berkaitan dengan iklan. Seperti misalnya cabang ilmu marketing yang mendalami mengenai pemasaran dengan menjadikan iklan sebagai salah satu bagian penting didalam memasarkan produk. Kemudian cabang ilmu semiotika yang mempelajari mengenai bahasa tanda dan penanda yang kebanyakan juga terdapat di dalam iklan. Keterbatasan kalimat, bahasa, warna dan waktu yang dimiliki oleh iklan menumbuhkan kreativitas pengiklan untuk mencari celah kreatif agar iklan dapat diterima dan melekat dibenak penerima iklan sehingga produknya laku dipasaran. Hal tersebutlah yang dipelajari dalam kajian ilmu semiotika. Lalu cabang ilmu yang tidak kalah pentingnya adalah broadcasting, dimana broadcast merupakan salah satu ilmu yang mempelajari cara pembuatan iklan disamping desain grafis, animasi dan advertising. Tak lupa juga perkembangan iklan membuat ilmu psikologi kemudian mempelajari proses-proses dan gejala kejiwaan yang berhubungan dengan langkah-langkah persuasif yang dimiliki oleh iklan. Lagi
Akan senang jika banyak bertebaran Lala-Lala di bumi Minangkabau ini
16 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
Lili VS Lala
Lili habiskan waktu setiap hari
untuk membentuk tubuhnya
Lala habiskan waktu yang dia punya
Untuk memperkaya jiwanya
Lili sibuk permak wajah sana sini
Menyulap diri seperti barbie
Lala sibuk mengolah kegelisahannya
Bersyukur dengan apa yang dia punya
Lili pantang untuk menginjak tanah
Jadi hitam kotor dan berkeringat
Lala terbang bebas kemana dia suka
Berteman dengan dunia
Lili letih karna s’lalu jaga wibawa
terperangkap labelitas
Lala membuka luas-luas hatinya
Menyapa semua manusia
Lili jadi gamang tak terkendali
Menipu hati tak tahu yang dicari
Lala s’lalu wajar dan jadi membumi
Temukan rumah jiwanya
****
Ini merupakan lirik lagu yang berjudul Lili VS Lala yang dinyanyikan oleh Oppie Andaresta yang berdarah Minangkabau. Lirik lagu ini sangat dalam maknanya bagi diri saya pribadi, mungkin bagi teman-teman yang lainnya. Bagaimana seorang Lili menjadi gamang terhadap jati dirinya yang entah, kemudian Lala yang selalu memperkaya jiwanya. Saya tidak akan menghakimi bahwa Lili tidak benar dan juga tidak akan mengatakan bahwa Lala itu pilihan tepat bagi kaum perempuan. Bagaimanapun juga pilihan hidup tergantung personal masing-masing, mau memilih Lili atau Lala, bahkan dua-duanya. Lagi
Televisi dan Lapangan Kerja
16 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
in Essay
Jika televisi diibaratkan dengan sebuah lahan gembur untuk bercocok tanam, dimana ada petani yang bekerja untuk menanam dan merawat sawah sampai menghasilkan sebuah produk berupa beras atau hasil tanam lainnya. Dan kemudian hasil tanam ini dipasarkan ke distributor atau langsung dan kepada pembeli di sebuah tempat bernama pasar, dimana transaksi jual beli berlangsung. Di pasar terdapat banyak konsumen yang telah menunggu hasil panen dari petani dan kemudian banyak pembeli yang memanfaatkan barang yang ditawarkan untuk berbagai keperluannya. Lagi
KEPAK SAYAP ALANG BANGKEH DAN SABAI NAN ALUIH
16 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
Sanggar seni yang berkembang di Padangpanjang saat ini tidaklah banyak. Salah satu yang masih bertahan sampai saat ini adalah sanggar Alang Bangkeh yang terletak di Silaing Bawah Padangpanjang semenjak tahun 1996. Sanggar yang dikelola oleh seorang guru kesenian sebuah sekolah menengah tingkat pertama di Padangpanjang ini tetap diminati oleh pelajar dan mahasiswa di Padangpanjang. Walaupun banyak alternatif komunitas anak muda yang berkembang, namun anggota sanggar yang dikelola secara kekeluargaan ini tetap eksis mempelajari randai, tari, musik dan kebudayaan Minangkabau. Lagi
