<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mimpinda&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://mimpinda.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mimpinda.wordpress.com</link>
	<description>Nda Bukan Siapa-Siapa, Tapi Nda Mempunyai Impian Melebihi Mount Everest</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 14:07:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mimpinda.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mimpinda&#039;s Blog</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mimpinda.wordpress.com/osd.xml" title="Mimpinda&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mimpinda.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tema Perempuan dalam Film Indie Sumatera Barat</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2011/06/06/tema-perempuan-dalam-film-indie-sumatera-barat/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2011/06/06/tema-perempuan-dalam-film-indie-sumatera-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 08:36:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Istilah Indie adalah kependekan dari independent. Indie dapat berarti &#8216;bebas&#8217;, &#8216;merdeka&#8217; atau &#8216;berdiri sendiri&#8217;. Sehingga komunitas film indie ini dapat bergerak dengan kreatif. Guna menghilangkan patokan-patokan ideal dalam penciptaan film, kreator film indie perlu membebaskan ide. Keluar dari batasan-batasan perfilman yang umum. Demikian pernyataan Pengamat Film Indie dan Industri Kreatif Gustav Hariman Iskandar dalam diskusi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=114&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah Indie adalah kependekan dari independent. Indie dapat berarti &#8216;bebas&#8217;, &#8216;merdeka&#8217; atau &#8216;berdiri sendiri&#8217;. Sehingga komunitas film indie ini dapat bergerak dengan kreatif. Guna menghilangkan patokan-patokan ideal dalam penciptaan film, kreator film indie perlu membebaskan ide. Keluar dari batasan-batasan perfilman yang umum. Demikian pernyataan Pengamat Film Indie dan Industri Kreatif Gustav Hariman Iskandar dalam diskusi film pendek beberapa waktu lalu.</p>
<p>Sumatera barat saat ini menjadi semarak dengan hadirnya komunitas-komunitas film indipenden (yang disingkat menjadi indie) semenjak begitu gencarnya roadshow film dokumenter yang singgah di kota Padang dan sekitarnya. Komunitas-komunitas itu hadir melalui kesadaran akan pentingnya media audiovisual sebagai saluran untuk menyampaikan ide dan gagasan.</p>
<p>Sejak tahun 2005 beberapa anak muda di Sumatera Barat mulai membentuk komunitas film indie. <span id="more-114"></span>Diantaranya komunitas Matakata yang didirikan oleh Devy Kurnia Alamsyah dan beberapa orang di fakultas sastra inggris Universitas Negri Padang yang secara berkala memproduksi film indie. Lalu komunitas Seni Belanak yang mengadakan workshop OK VIDEO bersama RuangRupa Jakarta yang kemudian melahirkan beberapa karya video dan dipamerkan di festival OK Video pada tahun 2006 di Jakarta. Komunitas film dan teater Hitam Putih yang berdomisili di Padangpanjang pun kemudian secara berkala mengadakan pemutaran film indie bersama dengan In-Docs dibeberapa tempat di Sumatera Barat. Pada penghujung tahun 2008 kemudian hadir komunitas Sarueh yang memproduksi karya-karya dokumenter dan bekerjasama dengan Forum Lenteng Jakarta dengan mengusung gagasan ide Akumassa. Sementara itu, pertengahan 2009 hadir beberapa komunitas Film lainnya di Padangpanjang seperti Civiliant dengan mengadakan diskusi dan menerbitkan buletin, namun sekarang tak pernah terdengar lagi kabarnya. Kemudian berkembang pula club film di kampus-kampus di Padang seperti UNAND Sinematografi dan Club Film UNP.</p>
<p>Kehadiran komunitas film indie ini di Sumatera Barat tentunya membuat gairah kesenian menjadi lebih berwarna. Hal ini pun memicu beberapa pihak untuk mengadakan lomba-lomba dokumenter dan film indie di Sumatera Barat. Diantaranya TVRI Sumbar, Taman Budaya Padang dan Jurusan Televisi ISI Padangpanjang. Dan festival-festival skala nasional yang kemudian mulai melirik sineas muda dari Sumbar untuk ikut berpartisipasi.</p>
<p>Adapun dari pertumbuhannya cukup menggembirakan walau tidak begitu signifikant. Beberapa karya sineas muda ini telah berbicara di forum-forum yang lebih besar. Seperti karya Yudi Leo “Marosok dalam saruang” yang masuk dalam festival dokumenter di FFTV IKJ. Karya kolaborasi Sarueh dengan Lidya yang berjudul “Padang in Carnival” masuk dalam nominasi FFD di Jogjakarta. Serta karya Akumassa Sarueh yang dipamerkan pada pameran Videobase Forum Lenteng, 2009, Pameran FIXER di Galeri North Art Space, Ancol tahun 2010 dan Presentasi Akumassa dengan memutarkan beberapa karya Akumassa Komunitas Sarueh di Korea, 2010.</p>
<p>Menurut Hafiz dan Abduh Aziz, bahwa film itu sebagai “Cultural Stateman” yang artinya film yang bahkan sangat sederhana pun tetap merupakan gagasan kebudayaan dari pembuatnya . Keinginan untuk menyampaikan gagasan kebudayaan itulah yang melatarbelakangi kehadiran berbagai tema yang beragam mengenai konten lokal yang ada. Jika dilihat dari tema karya, komunitas film indie ini pada umumnya mengangkat isu lokal yang luput dari jangkauan media mainstream. Tema-tema itu adalah seputar tema budaya, sosial masyarakat,dan konten lokal lainnya seperti tema perempuan dan perkembangan pergesekan kebudayaan Minangkabau hari ini dengan perkembangan zaman modern dan post modern.</p>
<p>Tema-tema perempuan dan interaksinya di dalam perkembangan zaman begitu kuat menjadi cultural stateman dari komunitas film indie. Diantaranya film “Kartini Hari Ini” karya Afrigo dan “ Penambang Kapur di Bukit Tui” oleh komunitas Sarueh di Padangpanjang yang begitu kuat menyampaikan isu perempuan melawan pergolakan hidup untuk tetap bertahan dengan kerja keras melawan diskriminasi patriaki.</p>
<p>Penulis melihat bahwa dalam kekerabatan Minangkabau perempuan mempunyai kedudukan tertinggi sebagai pemegang hak waris dan harta kaum, ini ternyata tidak menjamin kehidupan perempuan di Minangkabau menjadi lebih baik. Beberapa tesis yang mengatakan bahwa minangkabau merupakan masyarakat komunis pertama di dunia dengan sistem materilinial yang seharusnya menguntungkan posisi perempuan di Minangkabau ternyata tak mampu dalam melawan arus perkembangan zaman yang semakin dikuasai oleh kaum borjuis kapitalis . Sistem itu kian lama kian tergerus. Hal ini lah yang kemudian diangkat oleh penggiat film indie untuk menggambarkan keberadaan dan posisi perempuan di Minangkabau saat ini.</p>
<p>Hal ini sangat menarik untuk lebih lanjut diteliti. Bagaimana gagasan-gagasan kebudayaan ini disajikan dengan ringan dalam film indie oleh komunitas film maupun secara personal dengan mengusungnya dan menghantarkan menjadi sebuah gagasan yang meluas kepada sistim kekerabatan Minangkabau maupun posisi tawar perempuan dalam kehidupan domestik dan roda perekonomian masyarakat kita. Ini menjadi menarik lagi karena narasi-narasi kecil ini tidak pernah diangkat oleh media mainstream dan ini membuktikan bahwa komunitas indie ini mempunyai peran penting didalam memunculkan wacana-wacana lokal yang luput dari perhatian media mainstream untuk kemudian menjadi wacana yang patut diperbincangkan untuk diterjemahkan secara akademik.</p>
<p>Oleh : Gusnita Linda Tulisan ini adalah sebagai latar belakang yang dibuat untuk proposal penelitian pada tahun 2010.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=114&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2011/06/06/tema-perempuan-dalam-film-indie-sumatera-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>3 IDIOTS dalam kacamata saya</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/3-idiots-dalam-kacamata-saya/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/3-idiots-dalam-kacamata-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 16:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Banyak film yang menceritakan kisah sukses kehidupan seseorang. Tentunya dengan kerja keras sampai akhirnya menemukan titik balik kehidupan yang bahagia dan sukses. Namun berbeda dengan film yang satu ini, meskipun film ini juga bercerita mengenai kisah sukses hidup seseorang, tetapi memakai pendekatan kritis terhadap dunia pendidikan. Pada awal menonton film ini, kita seperti digiring pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=109&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p>Banyak film yang menceritakan kisah sukses kehidupan seseorang. Tentunya dengan kerja keras sampai akhirnya menemukan titik balik kehidupan yang bahagia dan sukses.</p>
<p>Namun berbeda dengan film yang satu ini, meskipun film ini juga bercerita mengenai kisah sukses hidup seseorang, tetapi memakai pendekatan kritis terhadap dunia pendidikan. Pada awal menonton film ini, kita seperti digiring pada sesuatu berita yang penting sekali. Seseorang di dalam pesawat mendapat telefon dari seseorang dan seketika jatuh pingsan. Akhirnya pesawatpun dihentikan dan kembali mendarat karena alasan keselamatan jiwa penumpang. Sesampai di bandara, Farhan yang dibintangi oleh R. Madhavan terjaga dan berlari meninggalkan bandara. Kekonyolan ini berlangsung sampai Farhan menjemput temannnya Raju yang dibintangi oleh Sharman Joshi. Farhan dan Raju menemui Chatur yang dibintangi oleh Omy Vadya di kampus mereka dulu. Pencarian seorang sahabat mereka dimulai dari sini. Seorang sahabat yang sangat penting sekali yang bernama Rancho &#8211; Ranchoddas Shamaldas Chanchad. Rancho dibintangi oleh Amir Khan, artis senior India yang juga merupakan sutradara dan produser terkenal Bollywood.<span id="more-109"></span></p>
<p>Kisah mengenai Rancho diceritakan oleh Farhan sepanjang perjalanan menuju sebuah kota yang diyakini oleh Chatur sebagai tempat tinggal Rancho. Alur pun menjadi mundur ke belakang menceritakan ketika mereka memasuki bangku perkuliahan di  Imperial College of Engineering, sebuah kampus yang bergengsi di India. Rancho yang pada awalnya memasuki kampus ini sudah memperlihatkan gelagat yang berbeda dibandingkan teman-temannya yang lain. Campuran kritis, cerdas, <em>iseng</em>, humoris, berani dan mempunyai pemikiran merdeka (hampir sempurna) dimiliki oleh Rancho. Hal ini lah yang sering membawa masalah kepada dua orang temannya yang lain.</p>
<p>Dengan durasi dua jam dan 43menit, film yang disutradarai oleh Vidhu Vinod Chopra ini tidak terasa membosankan. Alur maju mundur mengenai kisah perjalanan mencari Rancho, serta kisah persahabatan mereka menemukan jalan hidup masing-masing di setting dengan sangat berirama. Artinya ritme film ini tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lamban. Ada kejutan-kejutan yang dibuat sepanjang alurnya. Dengan durasi yang hampir tiga jam masih membuat kita susah untuk memprediksi alur film ini. Sehingga, kejutan-kejutan disetiap alurnya mempunyai daya tarik tersendiri.</p>
<p>Berasal dari novel karangan Chetan Bhagat dengan judul Five Point Someone, kisah di film ini tidak sesederhana sekedar kisah persahabatan anak manusia. Namun lebih dalam dari itu, kisah ini mengkritisi sistem pendidikan dan pengajaran di sekolah dan tempat perkuliahan. Dimana mahasiswa dituntut seperti mesin dan robot, mahasiswa harus benar-benar menghafalkan pengertian yang ada di buku (teks) tanpa memahami betul konsep dari sebuah teori yang ada. Mahasiswa dituntut bagaikan mesin, bergantung kepada buku-buku yang ada, namun tidak dituntun untuk menciptakan inovasi-inovasi yang mutakhir. Belajar yang keras hanya untuk mendapatkan nilai yang baik, lulus dengan predikat yang tinggi lalu bekerja sebagai pegawai dan mendapatkan gaji yang besar. Begitulah paradigma umum yang berkembang di masyarakat kebanyakan, tidak hanya di India saja, di negara kita pun juga kejadian serupa sering terjadi. Seorang anak yang putus sekolah berusaha bunuh diri. Mentalitas yang dihasilkan dari sistem pendidikan seperti ini telah membuat kampus-kampus hanya sebagai pembunuh masa depan cita-cita dan impian. Dalam film ini, seorang mahasiswa bunuh diri karna merasa telah gagal, dan Raju pun berusaha bunuh diri karena tekanan dan tekanan yang selalu diberikan oleh Rektor ICE. Sebagai rektor, Viru Sahastrebuddhe (ViruS) yang diperankan oleh Booman Irani memerankan seorang rektor yang ortodoks, <em>killer, </em>keras dan keras kepala. Namun Viru sering dibuat tercengang oleh pernyataan kritis dari Rancho yang selalu mengkritisi kebijakan dan pemikirannya. Rancho juga sekaligus mencengangkan  karena  selalu berhasil berada pada tingkat pertama di kampusnya. Ia pun lulus sebagai lulusan terbaik dari ICE.</p>
<p>India yang merupakan negara berkembang seperti Indonesia, mempunyai kebiasaan bahwa jika seorang anak lelaki yang lahir, maka ia harus menjadi insinyur, dan jika anak perempuan akan menjadi dokter. Hal itulah yang membuat dilema pada diri Farhan, yang sebenarnya sangat mencintai dunia fotografer satwa liar. Pun begitu juga dengan Raju yang belajar dengan segudang tekanan kehidupan yang miskin di keluarganya, sehingga membuat ia menjadi pengecut dan menjadi tidak berani dalam melangkah. Hal ini lah yang dikritisi oleh Rancho, bahwa hidup itu hanya sebuah pilihan, jika pilihan kita salah hari ini maka kehidupan kita tidak akan bahagia. Permasalahan diri Rancho hanya satu, yaitu ia mencintai anak rektornya, Mona. Hal ini pula lah yang dibantu oleh kawan-kawannya agar Rancho juga bahagia. Kisah percintaan yang ada pun hanya sekitar Rancho dan Mona, itupun hanya sebagai pelengkap.</p>
<p>Berbanding terbalik  dengan mereka bertiga yang mencari jati diri dan pilihan hidup sendiri. Chatur yang digambarkan sebagai seorang jenius yang hanya pintar menghafal teks selalu mendapatkan ganjaran atas “kepintaran” semu nya. Perbandingan pemikiran telah membawa empat orang mahasiswa ini pada jalan hidup yang berbeda-beda, sesuai dengan pilihannya sendiri-sendiri. Chatur yang selalu rajin menghafal berhasil hidup kaya dengan menjadi pegawai dengan jabatan  seorang direktur. Farhan yang memilih menjadi fotografer akhirnya menjadi seorang fotografer satwa liar profesional. Raju pun berhasil mempunyai kehidupan yang sukses dengan menjadi peneliti. Yang paling menarik adalah Rancho dengan pola pikirnya yang merdeka, kuliah bukan saja mencari nilai, namun mencari ilmu dan berusaha untuk meraih kesempurnaan hidup dan sangat menginginkan merubah sistem pendidikan akhirnya menjadi seorang ternama dan sukses. Seorang ilmuwan paling dicari didunia dengan memiliki 400hak paten dibidang keilmuan serta mempunyai sekolah yang luar biasa untuk anak-anak.</p>
<p>Film ini berhasil menggiring kita untuk kembali melihat sistem pendidikan dan memberikan pencerahan terhadap pilihan-pilihan hidup yang nantinya akan menjadi point penting dalam menentukan kebahagiaan kita. Tidak hanya pada pilihan pekerjaan, namun juga pada pilihan menentukan pasangan hidup, seperti cerita Mona dan kekasihnya yang sudah seperti alat pendeteksi harga.</p>
<p>Kritik terhadap institusi pendidikan begitu kental pada film ini. tidak hanya pada keseluruhan cara pengajaran, namun juga pada cara menilai keberhasilan seorang mahasiswa. Tekanan-tekanan yang diberikan oleh institusi pendidikan sebaliknya hanya akan menjadi boomerang kepada mentalitas yang buruk. Begitu juga dengan sistem senioritas yang ada di kampus, logika terkadang sudah tidak terpakai lagi.</p>
<p>Dari sisi sinematografi, menarik sekali ketika film ini bercerita mengenai kehidupan keluarga Raju yang digambarkan dengan warna hitam putih. Dan kembali berwarna ketika cerita beralih pada kisah berikutnya. Pun ketika pada keluarga Raju juga seolah cerita ini terdapat pada TV hitam putih. Sebuah kritik yang cerdas terhadap kelas sosial. Bahwasanya pada saat hidup modern seperti sekarang, masih banyak rakyat India yang hidup di garis kemiskinan, bahkan untuk menikahkan anak perempuan saja kesusahan.</p>
<p>Dari sekian banyak hal positif dan pujian yang layak di diacungkan terhadap film yang dirilis pada Desember 2009 ini juga terdapat beberapa hal yang terlalu berlebihan, seperti keluarbiasaan seorang Rancho yang kelihatan seperti manusia yang sempurna, kecuekannya sampai-sampai membuat ia berani mandi di halaman kampus dengan menggunakan selang air dihadapan banyak orang. Namun keluarbiasaan ini juga diimbangi oleh kisah kehidupan pribadi Rancho, yang sebenarnya adalah anak dari seorang tukang kebun yang disekolahkan oleh majikannya dan menggantikan anak majikannya untuk mendapatkan gelar insinyur di ICE.</p>
<p>Beberapa tahun ini, di Indonesia telah banyak beberapa khursus ataupun pelatihan peningkatan kemampuan berwirausaha dan pengembangan diri. Hal ini terjadi karena masyarakat sudah mulai sadar bahwa pendidikan formal sudah tidak bisa benar-benar menjamin pengembangan diri dan peningkatan kualitas hidup. Dan saya pikir, film 3 Idiots ini mampu mengalahkan khursus – khursus pengembangan diri yang ada. Materi-materi dalam khursus-khursus tersebut sudah disarikan dengan indah melalui film ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=109&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/3-idiots-dalam-kacamata-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tan Malaka di Situs Jejaring Sosial Facebook</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/tan-malaka-di-situs-jejaring-sosial-facebook/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/tan-malaka-di-situs-jejaring-sosial-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 16:06:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Melalui http://terselubung.blogspot.com/2010/11/20-negara-pengakses-facebook-terbesar.html mengatakan bahwa &#8216;Facebook&#8217; Situs jejaring pertemanan yang telah menembus 500 juta pengguna, hasil ini diumumkan Facebook per Juli 2010. Berdasarkan data yang dikeluarkan situs Royal Pingdom, Amerika Serikat merupakan negara yang menduduki peringkat pertama pengakses terbesar situs yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini. Amerika menyedot sekitar 24 persen yaitu sekitar 130 juta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=106&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Melalui <span style="text-decoration:underline;">http://terselubung.blogspot.com/2010/11/20-negara-pengakses-facebook-terbesar.html </span>mengatakan bahwa &#8216;Facebook&#8217; Situs jejaring pertemanan yang telah menembus 500 juta pengguna, hasil ini diumumkan Facebook per Juli 2010.</p>
<p>Berdasarkan data yang dikeluarkan situs Royal Pingdom, Amerika Serikat merupakan negara yang menduduki peringkat pertama pengakses terbesar situs yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini.</p>
<p>Amerika menyedot sekitar 24 persen yaitu sekitar 130 juta pengguna pengguna aktif Facebook, disusul oleh Inggris, Indonesia dan Italia. Di inggris terdapat sekitar 28 juta pengguna Facebook. Indonesia dan Italia memiliki jumlah pengguna yang sama yaitu sekitar 26 juta.</p>
<p>Indonesia menduduki peringkat ketiga dan merupakan satu-satunya negara di Asia yang masuk dalam 10 besar pengakses Facebook. Sedangkan Malaysia, Filipina, Taiwan,dan Thailand berada jauh dibawah urutan sepuluh besar pengakses Facebook di dunia.<span id="more-106"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>Facebook tidak hanya sebagai situs yang mempertemukan jutaan orang di muka bumi ini namun sebagai media online ia mampu untuk menciptakan dialektika yang ajeg, terlepas apakah itu sangat subjektif atau dibilang narsis.</p>
<p>Namun, beberapa hari ini saya menemukan sebuah diskusi yang sangat hangat sekali melalui facebook ini. Diskusi dan mungkin bisa juga dibilang dialektika mengenai seorang tokoh dunia yang sangat saya kagumi meski saya baru berkenalan dengan beliau. Tokoh yang satu ini sering sekali dibincangkan dan kata-katanya sering sekali dikutip oleh aktivis dimanapun. Beliau yang menginginkan MERDEKA 100%. Beliau yang namanya dihilangkan dari buku sejarah nasional Indonesia. Founding Father yang lahir dari ranah Minang dan menjadi tokoh penting komunis di dunia. Ibrahim Datuk Tan Malaka atau yang sering kita kenal Tan Malaka.</p>
<p>Diskusi panjang ini berawal ketika seorang teman menautkan link dengan judul “ Minangkabau : Masyarakat Komunis Pertama di Dunia <a href="http://itonesia.com/minangkabau-masyarakat-komunis-pertama-di-dunia/">http://itonesia.com/minangkabau-masyarakat-komunis-pertama-di-dunia/</a> yang isi tulisan nya saya kutip pada paragraph pertama sebagai berikut :</p>
<p><em>The Father of Our Founding Fathers, Tan Malaka, pernah mengatakan bahwa Minangkabau adalah masyarakat komunis yang tidak mengenal penjara. Pendapat ini bukan sekedar sindiran Tan Malaka terhadap kaum Bolsevhik Soviet yang pasca revolusi gandrung sekali memenjarakan orang. Suatu hal yang menjadi paradoks dari tujuan komunisme untuk membebaskan masyarakat dari penindasan dan keterasingan. Ucapan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka itu berangkat dari sebuah pemahaman mendalam tentang sistem sosial di tengah-tengah masyarakat Minangkabau yang peradabannya telah berlangsung dan berkembang selama beberapa abad. Ini bukanlah tesis baru tentang masyarakat Minangkabau karena sejarah telah membuktikan bagaimana surau pernah menjadi tempat pembibitan komunis sebelum kita menakar komunisme dalam tafsir tunggal anti Tuhan. Surau Jembatan Besi yang menjadi episentrum pendidikan Sumatra Thawalib di Padang Panjang adalah salah satu tempat yang paling aktif sebelum penindasan komunis oleh pemerintah kolonial 1926. Tetapi apakah sejarah komunis di Minangkabau hanya sebatas gelora masa-masa bergerak sebelum exorbinte rechten memberi kebebasan pada pemerintah kolonial untuk membuang setiap kata “tidak” ke neraka Boven Digoel? Ternyata tidak, komunisme di Minangkabau telah tumbuh dan berkembang bahkan sebelum teori itu dicetuskan.</em></p>
<p>Dan sengaja juga saya kutip-kan paragraph terakhir dari E.S.Ito ini sebagai berikut :</p>
<p><em>Saya tidak sedang mengagung-agungkan sebuah kebudayaan yang memang sudah terlanjur agung. Tulisan ini hanya refleksi saya terhadap sebuah suku bangsa yang tengah kehilangan identitas, Minangkabau. Yang terjadi di Minangkabau adalah kebalikan dari tesis Marx yang menyatakan komunisme akan mengalahkan kapitalisme. Di Minangkabau saat ini, komunisme (dalam batas-batas pemahaman ilmiah dan primitif yang mungkin sering juga diartikan sebagai komunalisme) terkapar oleh kekuatan kapitalisme. Masyarakat Minangkabau ciut oleh zaman yang tidak siap mereka hadapi. Supremasi perempuan di rumah tangga tergerus oleh peran bapak yang dominan karena semuanya sekarang diukur dengan materi. Para mamak seringkali menjadi pecundang di antara kemenakannya. Tunganai seringkali “bertinju” dengan Rang Sumando untuk harato pusako. Rang Rantau pulang jadi “Pamanggak” dan bukan jadi suri tauladan. Dalam banyak keluarga yang berantakan itu, masa depan Minangkabau tampaknya semakin suram saja. Bila Tan Malaka sekarang masih hidup, tentu suaranya tidak akan lagi nyaring menyatakan bahwa Minangkabau adalah masyarakat komunis tanpa penjara. Minangkabau tengah sekarat.</em></p>
<p>Sengaja saya masukkan tulisan E.S. Ito ( Penulis Novel “Negara Kelima” dan “Rahasia Meede” ) ini karena tulisan inilah yang kemudian menimbulkan diskusi panjang mengenai TAN MALAKA selanjutnya di catatan seorang teman yang bernama Devy Kurnia Alamsyah ( Mahasiswa S2 UI, Sutradara film Selopanggung- film mengenai penggalian makam Tan Malaka di Selopanggung- periset dan sekaligus pegiat sinema tamatan S1 sastra Inggris UNP ).</p>
<p>Berikut juga saya copy pastekan kembali tulisan Devy Kurnia Alamsyah (baca : Apik ) yang menjadi sorotan beberapa sahabat lainnya. Akan tetapi saya potong sedikit tulisan awalnya karena bukan merupakan isi tulisan. Untuk membaca lengkapnya silahkan klik <span style="text-decoration:underline;">http://www.facebook.com/notes/devy-kurnia-alamsyah/tan-malakalagi/492612016263</span> :</p>
<p><em>Kubaca satu komen teman di salah satu link yang ku-share di wall-ku. Catatan itu berasal dari satu diskusiku di kosan Bung Ito saatku mengantarkan draft pertama bukuku Grand Homme; Tan Malaka. Dia mengutarakan satu hipotesisnya tentang revolusi Minangkabau yang kemudian kuiyakan dengan memberi sedikit uraian tentang beberapa hipotesisnya Tan Malaka tentang komunisme asli dari Minangkabau. Gayung bersambut, apa yang kami diskusikan itu kemudian ditulis oleh seorang notulen yang langsung menawarkan diri saat itu juga. Sepertinya diskusi itu telah dikembangkan lagi sehingga lebih berisi oleh Bung Ito. Diskusi itu terjadi bulan April lalu namun baru kubaca tulisannya beberapa hari lalu. Namun yang membuatku senang adalah komen temanku itu. Sungguh sangat klasik—namun selalu membuatku terusik. Inilah komennya:</em></p>
<p><em>“Tan Malaka bapak sosialis komunis Indonesia. Didikan Rusia dan Cina. Atheis. Sjahrir dan kawan-kawan; didikan Eropa (Belanda) dan dengan sebelumnya telah dibekali tuntunan agama yang kuat.  So, Tan Malaka father of founding fathers (Sjahrir dkk)?! Amat subjektif dan tidak berdasar! Ngaco!”</em></p>
<p><em> Aku miris membacanya. Bukan kepada komen temanku tapi dengan bagaimana berhasilnya pemerintah Orde Baru membuat rakyatnya—terutama generasi muda—untuk tak mau menggali sejarah bangsanya. Temanku  itu hanya satu saja dari sekian juta generasi hari ini yang dengan sendirinya berjarak dari sejarah—termasuk aku.</em></p>
<p><em>Jika dibilang bahwa Tan Malaka adalah bapak sosialis komunis Indonesia itu benar adanya namun bukan dia yang pertama. Ada nama-nama lain di belakangnya. Ada Sneevliet, ada Semaoen dan nama-nama lain. Satu hal yang harus dimengerti adalah Partai Komunis Indonesia adalah anak keturunan langsung dari Sarekat Islam yang kemudian terpecah dua. Partai Komunis Indonesia adalah turunannya dengan Semaoen sebagai pemimpin utamanya. Ketika Semaoen berangkat ke Rusia maka terjadilah kekosongan kepemimpinan. Dikarenakan ketiadaan kader yang mumpuni maka Tan Malaka melenggang menggantikan Semaoen sebagai ketua PKI.  Tan Malaka kemudian berselisih paham dengan Agus Salim dan Abdul Muis yang menerapkan disiplin partai terhadap mereka yang juga anggota PKI. Bagi Tan Malaka permusuhan Islam dan komunisme ini hanya akan menguntungkan kaum penjajah.</em></p>
<p><em>Tan Malaka setelah pulang dari sekolah guru Rijkweekschool di Harleem Belanda—bukan didikan Rusia dan Cina—ia mendirikan sekolah di Deli Sumatera Utara. Tak kuasa melihat bagaimana perlakuan kolonial Belanda terhadap kuli-kuli di Deli, Tan Malaka hijrah ke Semarang. Deli telah membuka matanya. Kolonialisme mesti dihapuskan dari bumi Nusantara—dan Tan Malaka punya metode jitu untuk itu.</em></p>
<p><em>Pendidikan.</em></p>
<p><em>Ya, melalui pendidikanlah segala kebodohan dan kemiskinan yang selalu dipelihara itu bisa dienyahkan. Dialah satu-satunya tokoh kemerdekaan yang basisnya pendidikan. Ingat Hatta itu lulusan ekonomi Belanda, Sjahrir tak lulus di Belanda, M. Yamin (ia menyebut Tan Malaka sebagai bapak Republik Indonesia) itu master hukum dan Soekarno itu lulusan teknik ITB—sekolah yang dibantu pendiriannya oleh Abdul Muis. Dan keempat orang itu memiliki pemahaman marxisme yang kuat pada diri mereka semua. Hulunya sama di hilir yang berbeda. Jika masih penasaran lihat saja UU kita dan lihat seberapa sosialisnya kita sesungguhnya.</em></p>
<p><em>Tan Malaka secara praktik adalah seorang guru—sama seperti temanku yang memberi komen itu. Hari ini kita mempercayai bahwa Ki Hajar Dewantoro adalah Bapak Pendidikan Indonesia tapi tak tahukah kalian bahwa Tan Malaka pernah pula memberikan proposal konsep sekolah yang ia idamkan kepadanya dan kemudian diaplikasikan ke dalam Taman Siswa? Berbekal semangat itulah Tan Malaka kemudian mendirikan sekolah di gedung Sarekat Islam. Dalam beberapa tahun sekolah itu dianggap sukses dalam artian metode pengajaran Tan Malaka sungguh aplikatif. Tak lama kemudian sekolah ini kemudian banyak berdiri pula cabangnya dan bahkan di Sumatera Barat konsep ini juga diaplikasikan di berbagai daerah sehingga pemerintah Sumatera Westkust itu mesti mencipta peraturan ordo sekolah liar. Ketika ia mendirikan sekolah di Bandung, Tan Malaka kemudian ditangkap dan dibuang ke Belanda.</em></p>
<p><em> Di Sumatera Barat sendiri pada tahun 20an terjadi kecamuk pemikiran yang luar biasa. Berdirinya Diniyah (Sjahrir lahir di lingkungan ini) dan Tawalib di Padang Panjang menjadikan Kota Serambi Mekkah itu kemudian menjadi pusat penyebaran marxisme di Sumatera Barat. Padang Panjang kemudian menjadi kota di mana ajaran Tan Malaka menyebar tak terbendung ke Padang, Bukit Tinggi, Silungkang hingga Payakumbuh—nagari Suliki di mana Tan Malaka dilahirkan. Di Padang, Adabiyah menjadi tempat penyebaran ajaran marxisme. Tentu hal ini sangat menghawatirkan kaum penjajah—terutama konsep radikal dan revolusioner yang dibawa ajaran itu.</em></p>
<p><em>Atheis.</em></p>
<p><em>Jika Tan Malaka disebut komunis itu iya dan pasti karena dia sendiri mengaku itu. Tapi jika Tan Malaka disebut atheis, tunggu dulu. Setelah dibuang ke Belanda, pada tahun 1922 Tan Malaka pergi mengikuti suatu kongres tahunan di Rusia. Ia menjadi salah satu pembicara di sana—sehari sebelum Lenin berpidato. Tan Malaka memilih topik Pan-Islamisme sebagai bahasannya. Tesis Marx, seorang keturunan yahudi, tentang agama itu candu—sesuatu yang memiliki sifat adiktif dan merusak—diterima mentah-mentah oleh kaum marxis di seluruh dunia. Tentu marx memakai kerangka filsafatnya sendiri sehingga ia berkesimpulan bagaimana institusi keagamaan—terutama gerejea—terlibat aktif di dalam penghisapan kaum proletar sehingga terciptalah kesadaran palsu di antara mereka. Gereja dianggap dipakai kaum kapital  untuk melenakan kaum proletar tentang surga setelah tiada sehingga dunia bukan sesuatu yang penting. Lalu Lenin pun mengeneralisasi ini ke semua agama yang ada. Komunisme tidak hanya meniadakan agama—ia pun meniadakan Tuhan—bahkan ia malah menjadi agama baru kemudian.</em></p>
<p><em>Tan Malaka bersuara di tengah kumpulan orang-orang yang percaya Tuhan itu tiada lalu malah bercerita tentang keberhasilan koalisi Islam dan marxisme di Nusantara. Ia pun dengan cerdik meminta dukungan untuk mendukung konsep Pan-Islamisme yang ia usung. Di sanalah ia memetakan posisinya di kalangan kaum komunis sedunia; jika aku berhadapan dengan Tuhan maka aku seorang muslim tapi jika aku berhadapan dengan manusia aku seorang komunis karena bukankah di antara manusia itu banyak setannya, demikian Tan Malaka.</em></p>
<p><em>Tentu kalimat itu mesti kita lihat dari kacamata kolonialisme. Manusia-manusia setan yang dimaksud Tan Malaka adalah para kolonialis—bangsa apapun juga—yang telah menjajah negerinya selama berabad-abad. Lalu jika ada lagi yang bertanya Tan Malaka itu atheis maka ia mesti membaca brosur Tan Malaka yang berjudul Islam dalam Tinjauan Madilog. Hamka—yang diakui keislamannya berkenan memberi pengantar di brosur ini—mengatakan ‘insyaflah saya bahwasanya di zaman modern ini untuk membela agama, perlulah kita memperluas pengetahuan, di dalam ilmu-ilmu yang amat diperlukan di zaman baru’. Hamka percaya bahwa dasar agama yang kuat di diri Tan Malaka itu tak hilang namun malah semakin memukau Tan Malaka tentang konsep Islam sebagai bagian tak terpisahkan untuk sebuah perubahan di negerinya yang sedang terjajah itu. Islam adalah keyakinannya dan komunisme adalah alatnya untuk keluar dari penjajahan.</em></p>
<p><em>Jika temanku  itu berkata Sjahrir diberikan agama yang kuat tentu aku tergelak jadinya. Jika itu Hatta tentu itu sudah pasti tapi jika si penggila pesta itu dibandingkan dengan Tan Malaka tentu akan sangat debatable dan tak mungkin sehari dua kita kan membahasnya. Tapi apakah kesalehan seseorang sesuatu yang penting di sini? Iya dan tidak. Iya jika kita sebagai orang timur yang selalu ingin memandang segala sesuatunya dari konteks moral bahkan Kyai Sejuta Umat pun kini bisa kita permasalahkan terkait moralitasnya selama ini. Maka ia kan menjadi tidak jika kita lebih memikirkan apa substansi dari perjuangan Tan Malaka selama ini.</em></p>
<p><em>Jika saja temanku itu membaca Madilog—buku yang ia sebutkan itu—maka ia tentu akan paham bagaimana sesungguhnya titik yang ingin dicapai oleh sang guru itu. Melalui Madilog, Tan Malaka memakai aforisma budaya alam minangkabau (BAM) dipadu dengan konsep sains ala Harun Yahya untuk membedah kemunduran masyarakat Indonesia sehingga ia bisa terjajah sekian lamanya. Tak hanya di situ, ia kemudian memberikan solusi—semacam kerangka berpikir maju untuk terbebas dari perangai mistis yang membelenggu masyarakat kita hingga hari ini.</em></p>
<p><em>Lihatlah bagaimana Obama ketika atribut kenegaraannya jatuh tatkala ia pidato, apa reaksinya? Bandingkan dengan SBY yang ketika pidato hinggap lalat di pipinya, apa yang ia lakukan? Obama mencoba bercanda dengan audiens sehingga terkesan itu hanya peristiwa biasa sedangkan SBY memanggil timnya untuk berdoa bersama supaya terhindar dari bala bencana yang entah kenapa sangat akrab di masa jabatannya ini.</em></p>
<p><em>Lalu jika temanku itu menutup komennya dengan kata ‘sangat tidak berdasar’ dan ‘ngaco’, maka seharusnya ia terbangun dari tidurnya. Sudah saatnya generasi muda bangun dari ketidakingintahuannya akan sejarah. Jangan biarkan pemerintah selalu menang mendiskreditkan anak bangsa seakan kita hanya satu statistik yang senang ditipu mentah-mentah. Bung Ito pernah menyadarkanku akan arti penting sejarah ini dan ia punya cara untuk memperkenalkan kembali sejarah itu kepada kaum muda. Di sini aku berdiri bukan sebagai yang paling tahu tentang sejarah. Aku berdiri di sini sebagai bagian dari mereka yang selama ini tertipu oleh penguasanya. Aku berdiri sebagai seorang anak muda yang haus akan kebenaran masa lalunya yang selama ini dihilangkan dengan paksa. Aku hanya anak muda yang kecewa ketika tahu tidak ada penis yang disayat dan pipi yang disilet di setiap mayat para jenderal di tahun 65. Lalu jika ia mengatakan bahwa tambo itu fiktif maka sefiktif apakah buku sejarah resmi bangsa ini? Lalu sengaco apakah kita yang memamah itu semua tanpa ada kemauan untuk membantah dan mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi?</em></p>
<p><em>Jika temanku itu masih berkata apa yang kuutarakan panjang lebar ini sangat tak berdasar dan ngaco maka aku sungguh tak tau lagi harus berbuat apa. Tapi satu hal yang kutahu, bahwa orang-orang seperti Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Hamka, Agus Salim, dll takkan pernah lahir lagi di Sumatera Barat. Nagari itu sudah tamat.</em></p>
<p><em>Margonda, 7 November 2010</em></p>
<p>Catatan ini kemudian mendapat komentar dan banyak kesepakatan dan ketidaksepakatan dengan Apik mengenai ke Atheisan Tan Malaka, yang kemudian mendorong Apik sekali lagi untuk melanjutkan Catatan nya ini di FB. Namun sebelum saya kembali mengajak  membaca catatan Apik tentang Tan Malaka, saya ingin menampilkan Catatan Apik mengenai hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2010 kemaren yang juga masih mengenai Tan Malaka dan peristiwa 10 November silam di Surabaya. Dengan link <a href="http://www.facebook.com/notes/devy-kurnia-alamsyah/hari-pahlawan-dan-tan-malaka/493052291263">http://www.facebook.com/notes/devy-kurnia-alamsyah/hari-pahlawan-dan-tan-malaka/493052291263</a>. Tulisan ini pernah dimuat di Haluan pada tanggal 9 November 2010 mengenai kepahlawanan Tan Malaka yang sudah sepantas dan selayaknya diberi gelar “Grand Homme” yang merupakan gelar terhormat atas bukti pengabdiannya di ranah internasional. Tulisan ini menjadi menarik untuk dibaca karena disinilah Apik menjelaskan dengan panjang lebar mengenai kepahlawanan Tan Malaka yang sengaja telah dihilangkan oleh sejarah bangsa ini yang sangat tidak menghargai pahlawannya sendiri.</p>
<p>Kemudian apik melenggang ke note selanjutnya yang menjabarkan bagaimana awal perkenalannya dengan Tan Malaka dan bagaimana komentar buya Mas’oed Abidin  yang berkomentar mengenai keislaman Tan Malaka. “Tan Malaka adalah seorang muslim yang tegas dan konsisten dengan jalan pendiriannya terutama dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.”  Begitulah pendapat awal dari Buya Mas’oed mengenai Tan Malaka yang selanjutnya bisa dibaca di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=495340976263&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_reply">http://www.facebook.com/note.php?note_id=495340976263&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_reply</a>. Tulisan ini ia catatkan pada tanggal 12 November 2010.</p>
<p>Catatan Apik ini kemudian mendapat pro dan kontra sekali lagi dari beberapa sahabat dengan dalil masing-masing . Pun kemudian Apik kembali melanjutkan jabarannya mengenai Tan Malaka pada tanggal 13 November 2010 yang bisa dibaca lengkap di <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=495787256263&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_reply">http://www.facebook.com/note.php?note_id=495787256263&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_reply</a>. Di catatannya yang ketiga mengenai Tan Malaka dan masih membahas mengenai ke atheisan Tan Malaka dan juga Apik menyinggung sedikit mengenai perjalanan kisah cinta Tan Malaka yang sempat disinggung oleh temannya di komentar atas catatan itu yang mengatakan Tan Malaka hidup membujang sampai akhir hayatnya. Serta tak luput juga dia menambahkan bagaimana kisah perjalanan cinta Hatta, Syahrir dan juga Soekarno. Apik pun sedikit membahas mengenai matrilineal Minangkabau yang kemudian mendapat ketidaksetujuan dari saya pribadi. Ini bukanlah catatan dia yang terakhir di Facebook mengenai Tan Malaka, selanjutnya di link “Tan Malaka : Sebuah Pencapaian” yang dimuat pada tanggal 14 November 2010. <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=496543866263&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_reply">http://www.facebook.com/note.php?note_id=496543866263&amp;comments&amp;ref=notif&amp;notif_t=note_reply</a>.  Pada intinya Apik mengatakan :</p>
<p><em>“Lalu  apa yang kuinginkan sebenarnya?</em></p>
<p><em>Aku hanya ingin pemerintah kita merehabilitasi nama-nama itu; Tan Malaka, Sjahrir dan (Soekarno) Hatta—walau Hatta tak terlalu tercemar di buku sejarah. Aku ingin mereka memberi porsi yang sewajarnya dalam buku sejarah sehingga generasi ke depan dapat memaknai apa yang sesungguhnya yang mereka perjuangkan. Aku tak peduli di mana Tan Malaka akan dimakamkan karena yang paling penting bagiku bukan itu. Aku ingin generasi muda untuk mengenal bagaimana semangat para pendiri bangsa—dengan perbedaan ideologinya—berusaha untuk menentukan arah masa depan negeri ini.</em></p>
<p><em>Terlepas dari Tan Malaka itu atheis atau tidak. Muslim atau tidak. Aku sudah tak lagi peduli. Semua orang punya kebebasan untuk itu. Namun akhirnya aku baru sadar bahwa apa yang kuperjuangkan ini masih sebuah awal untuk perjuangan lebih besar ke depannya.“</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p>Bagi saya yang mengikuti diskusi ini dari awal dan juga ikut dalam arus percakapan komentar &#8211;yang disetiap catatannya selalu lebih dari 30 komentar &#8212; akan tulisan Apik ini menjadi menarik bagi saya. Dialektika itu terbentuk sedemikian rupa  di situs pertemanan Facebook yang kebanyakan orang menggunakannya sebagai ladang narsis-narsisan (mungkin juga termasuk saya sendiri). Teman saya ini pun kemudian menyampaikan pendapatnya mengenai diskusi menarik yang terjadi di facebooknya melalui SMS kepada saya. <strong><em>“Diskusi ini bukan one man show, gw seneng ketika orang yang tak bersetuju dengan gw karna itu artinya dialektika Hegelian terjadi;ada tesis dibantah dengan antithesis untuk mencapai sintesis, tesis yang sempurna”.</em></strong><em> </em>Namun sayangnya komentar-komentar yang menarik dari beberapa teman itu tidak begitu berani untuk menjadikan sebuah tulisan untuk “melawan” tulisannya Apik. Begitupun dengan saya yang kemudian disindir oleh Apik untuk segera menulis tentang matriakat dari sudut pandang saya sebagai perempuan Minang.</p>
<p>Saya sangat sepakat dengan Apik bahwa untuk membantah sebuah tulisan haruslah dijawab juga dengan sebuah tulisan yang menyangkal tulisan pertama, tentunya dengan dalih-dalih yang tepat. Karena yang terjadi selama ini adalah kita hanya sebagai komentator yang manis. Kita berkomentar terhadap suatu karya orang lain dan kemudian kita menyebarkan retorika kita ke ruang public dan berceloteh banyak tanpa berani untuk kemudian membantah dengan jalur yang lebih intelek yaitu dengan tulisan.</p>
<p>Facebook tentunya menjadi ajang yang sangat mungkin untuk kemudian menciptakan celoteh-celoteh yang tidak berguna. Sepertinya akan lebih menarik meniru sedikit dari cara Apik berceloteh. Meskipun saya juga tau bahwa Apik pun tak luput dari ke-narsisan di Facebook. Namun menjadi catatan penting untuk saya pribadi bagaimana Facebook sangat mampu untuk menyebarkan wacana kita mengenai banyak hal dengan cara berceloteh dengan lebih intelek.</p>
<p>Diakhir kata saya sangat menyarankan untuk kemudian membaca secara utuh, baik tulisan E.S.Ito ataupun tulisan Apik (Devy Kurnia Alamsyah) dari link yang telah saya cantumkan diatas. Saya sebagai generasi muda yang ikut dalam karnaval arak-arakan pembodohan massal atas  sejarah oleh orde baru sangat ingin keluar dari pembodohan sejarah tersebut. Mungkin juga untuk teman-teman yang belum membaca Madilog ( karya terbesar Tan Malaka) dapat mengunduhnya disini <a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/Madilog/index.htm">http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/Madilog/index.htm</a>.  Kemudian patut dibaca juga <a href="http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1948-Islam.htm">http://www.marxists.org/indonesia/archive/malaka/1948-Islam.htm</a>. Dari sinilah saya kemudian mengerti kenapa belajar filsafat itu sangat penting. Sayang sekali kita Indonesia belajar filsafat baru dari bangku kuliah pada semester VI ( untuk di jurusan Televisi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=106&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/tan-malaka-di-situs-jejaring-sosial-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RUANG JANTAN</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/ruang-jantan/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/ruang-jantan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 15:56:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu di kelas mata kuliah Seminar mahasiswa Jurusan Televisi ISI Padangpanjang yang digelar pada hari Rabu, Tanggal  November 2010 lalu, sebuah rancangan proposal karya Dokumenter oleh Setio Romi yang berjudul “Ruang Jantan” cukup menarik perhatian saya. Ruang Jantan yang dimaksud Setio Romi disini adalah Ruang kolektif yang dimiliki oleh laki-laki Minangkabau. Ruang kolektif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=102&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu di kelas mata kuliah Seminar mahasiswa Jurusan Televisi ISI Padangpanjang yang digelar pada hari Rabu, Tanggal  November 2010 lalu, sebuah rancangan proposal karya Dokumenter oleh Setio Romi yang berjudul “Ruang Jantan” cukup menarik perhatian saya. Ruang Jantan yang dimaksud Setio Romi disini adalah Ruang kolektif yang dimiliki oleh laki-laki Minangkabau. Ruang kolektif yang tercipta sebagai bentuk dari sistem kekerabatan Matrilinial dimana hak rumah gadang jatuh ketangan perempuan dan anak laki-laki setelah akhil balig sampai sebelum menikah menurut kebiasaannya pada waktu itu harus tinggal di surau serta rumah patandangan. Surau sebagaimana kita ketahui merupakan tempat beribadah umat Islam yang sering dikatakan juga sebagai tempat sekolah masyarakat Minangkabau ketika itu ( sebelum ada sekolah formal ) dan selanjutnya juga sebagai basis perjuangan melawan penjajah. Sedangkan untuk rumah patandangan sendiri merupakan istilah baru yang saya ketahui dihari itu. Menurut teman saya ini, rumah patandangan merupakan rumah kosong, dimana penghuninya pergi merantau, kemudian rumah ini dijadikan oleh pemuda sebagai tempat berkumpul selain di Surau dan Lapau yang selanjutnya kemudian menjadi tempat tinggal untuk menggantikan Surau yang sudah berubah fungsi sebagai tempat ibadah ketika Islam masuk ke Indonesia. Ketertarikan saya ini berlanjut dengan mencari beberapa refrensi dan kemudian saya lanjutkan berdiskusi melalui media online dengan seorang teman di kota Kembang yang  mempunyai pengetahuan dan ketertarikan yang besar terhadap Minangkabau yang juga merupakan kampungnya sendiri. Teman saya ini juga seorang penyair, penulis dan editor. Berikut saya coba paparkan kembali diskusi kami mengenai Ruang Jantan yang diantaranya Surau, Rumah Patandangan dan Lapau, hal ini menjadi melebar kewilayah perempuan dan posisinya di Minangkabau dalam hal menerima transfer ilmu ketika itu ( sebelum Islam masuk dan sebelum ada sekolah ).<span id="more-102"></span><br />
+ Saya<br />
- Afnaldi Afrinal</p>
<p><strong>+ </strong> :  Hm&#8230;mau nanyain soal ruang kolektif laki-laki di Minangkabau&#8230; surau, rumah patandang dan lapau <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>-           : Kalau surau dan lapau mungkin tahu, tapi kalau &#8220;rumah patandang&#8221; indak tahu</p>
<p>+          :  Rumah patandangan itu menurut salah satu teman merupakan rumah tempat berkumpul dan nginap nya laki-laki di Minangkabau yang belum menikah, sama seperti surau, rumah patandangan biasanya merupakan rumah yang ditinggal karena penghuni nya pergi merantau. Adanya sejak islam masuk, sejak surau beralih menjadi tempat sholat&#8230;begitu di makalah yang ditulis oleh seorang teman di kampus.<br />
Hm&#8230;dia juga mengaitkan dengan kekerabatan Matrilinial, dimana laki-laki tidak punya ruang kolektif di rumah gadang&#8230;</p>
<p>-           : Kalau soal itu tidak paham soal &#8220;rumah patandangan&#8221;. Tapi kalau konsep surau memang ada dalam budaya minangkabau dimana di surau merupakan salah satu unsur dimana di tempat inilah salah satu arena pendidikan bagi lelaki Minang. Istilah kerennya saat ini  adalah sebagai pusat transformasi ilmu bagi kaum laki-laki selain sebagai tempat untuk tinggal sementara sebelum dia berrumah tangga.<br />
Kalau rumah patandangan itu kayaknya tidak berlaku di seluruh Minangkabau ya?</p>
<p>+          : Gak tau juga siy&#8230; baru tau juga istilah rumah patandangan ini&#8230;kalo menurut teman ini yang banyak itu di daerah Solok Selatan, Pariaman dan Batusangkar&#8230;hm&#8230;di tempat tinggal KKN ( Taluak IV Suku, Agam ) kemaren rumah yang kita tempati sebelumnya juga rumah tinggal buat pemuda disana karena keluarga yang punya rumah juga merantau semua, hanya saja tidak dikatakan &#8220;rumah patandangan&#8221;.<br />
Hm&#8230;kalo misalnya laki-laki di Minangkabau punya akses besar karena mereka punya ruang kolektif diluar rumah gadang serta sering mendapatkan transformasi ilmu di surau dan di lapau, lalu bagaimana dengan perempuan Minangkabau? Artinya perempuan Minangkabau dulu nya mempunyai akses yang sedikit terhadap dunia luar secara tidak langsung <em>dunk</em>?</p>
<p>-           : Perempuan mendapatkan pendidikan di rumah gadang.<br />
Oh, ya sebelumnya kita harus pahami dulu kalau pendidikan pada zaman dulu itu bukan seperti saat ini <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Ini harus dipahami dulu biar tidak salah persepsi.</p>
<p>+          :  Iya&#8230;paham&#8230;<br />
trus&#8230;pendidikan yang bagaimana yang didapatkan perempuan di rumah gadang?<br />
-           : Pada dasarnya, secara filosofis, pendidikan yang diterima lelaki dengan perempuan sama. Pelajaran tentang kehidupan.</p>
<p>+          :  Akses informasi nya terbatas jadinya untuk perempuan karena perempuan &#8220;menunggu&#8221; rumah dan laki-laki punya ruang untuk berkumpul di luar rumah dengan sesamanya ( berdiskusi, tukar menukar informasi dll ) &#8230;.<br />
-           : Ingat, surau itu dulunya juga lingkupnya terbatas. Dulu itu satu surau hanya diperuntukan untuk satu buah “paruik”. Paling luas untuk satu suku dalam satu kampung. Jadi dalam satu kampung dulu itu ada banyak surau. Artinya, lelaki pun menerima pendidikan dari mamak dalam satu kaumnya.<br />
Jangan berpikir kalau surau itu seperti saat ini dimana 1 kampung mungkin hanya 1 surau .</p>
<p>+          : iya&#8230;<br />
Yang jadi pikiran nda adalah,&#8230;akses informasi untuk perempuannya menjadi terbatas dan tidak seluas yang didapatkan laki-laki kan?<br />
Belum lagi budaya merantau yang dominan oleh laki-laki, lalu perempuan hanya dapat akses informasi dirumah saja, karena belum ada sekolah, pun ketika ada sekolah itupun sesudah Islam masuk, dan perempuan dianggap tidak penting untuk sekolah, karena keluar rumah bagi perempuan dianggap tidak baik kecuali ditemani muhrim nya&#8230;</p>
<p>-           :  Apakah benar akses informasi perempuan lebih sedikit? Apakah pada dasarnya sama saja?<br />
Cobalah kita mengikuti pola pikir pada zaman dahulu itu, bukan pola pikir zaman sekarng <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>+          : Iya&#8230;karena mikirnya dulu itu gak ada media elektronik dan media cetak&#8230;yang ada adalah media tutur saja, dari mulut kemulut&#8230;trus perempuan perginya ke pasar untuk wilayah publiknya&#8230;atau acara-acara adat&#8230;hm&#8230;kalau untuk rapat-rapat  adat nagari itu, apa perempuan yang belum menikah ( tidak Bundo Kanduang) juga boleh ikut?</p>
<p>-           : Apa itu bundo kanduang? Apa itu mamak? Apa itu kamanakan? Apakah kamanakan itu laki-laki saja?<br />
Anak di pangku kamanakan dibimbing merupakan adagium adat untuk tugas seorang mamak. Artinya kamanakan dibimbing oleh mamak. Dan pertanyaan di atas muncul lagi. Apakah kamanakan itu hanya laki-laki?<br />
Untuk wilayah publik antara perempuan dan laki-laki di Minangkabau pada dasarnya sama. Pakan (pasar sekarang), sawah-ladang, yang beda hanyalah wilayah tidur. Laki-laki di surau yang dingin, perempuan di rumah gadang nan hangat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>+          : Hm&#8230;waktu nda kecil, kalo bertemu mamak itu hanya bersalaman, trus membuatkan kopi atau menghidangkan makanan, trus mamak menasehati dan mengucapkan pepatah petitih adat, trus mengobrol serius dengan orang tua, tetapi kita tidak boleh ikut dalam pembicaraan orangtua ini&#8230;trus mamak pergi dengan memberi uang jajan&#8230;<br />
Artinya kalaupun ada dialog, hanya bersifat pasif&#8230;tidak ada semacam dialog diantara mamak dan ponakan&#8230;tapi itu kan yang nda rasakan&#8230;<br />
Kalau dulunya seperti apa?</p>
<p>-           : Nah, kita harus paham dulu bahwa suatu &#8220;filosofis&#8221; akan bisa berbeda dengan &#8220;aturan&#8221;. Begitu juga &#8220;aturan&#8221; bisa akan berbeda dengan &#8220;praktik di lapangan&#8221;<br />
 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>+          : hahayyy&#8230;..<br />
Mata seperti nya sudah tidak bersahabat nih&#8230;sedangkan kerjaan masih belum selesai&#8230;kopi pun sudah habis&#8230;sepertinya juga akan bikin gelas kedua untuk kopi yang sedikit pahit sebentar lagi&#8230;</p>
<p>-           : Ehm, udah paham akan kemungkinan terjadi perbedaan antara &#8220;aturan&#8221; dengan &#8220;praktik di lapangan&#8221;?</p>
<p>+          :  Hm&#8230;.mudah-mudahan paham&#8230;tetapi&#8230;aturan mainnya seperti apa? Kalo praktik dilapangan kan seperti istilah yang entah dari mana &#8220;peraturan dibikin untuk dilanggar&#8221;&#8230;.tetapi garis-garis besar nya seperti apa? Trus&#8230;jika perempuan Minang itu menjadi Bundo Kanduang, berarti tidak mungkin kan dia tidak punya &#8220;bekal pengetahuan&#8221;, artinya secara pemikiran harus cerdas, dan sudah mendapatkan &#8220;pendidikan&#8221; sebelumnya&#8230;.sementara proses transformasi pendidikan untuk perempuan di Minangkabau itu dulu bagaimana?</p>
<p>-           :  Kembali kita harus ingat bahwa pada zaman dahulu itu pengertian pendidikan tidak seperti saat ini. Transformasi (ilmu) pengetahun berlangsung secara nyata dalam kehidupan. Mereka tidak &#8220;mempelajari&#8221; tapi &#8220;mengalami&#8221; baik secara langsung maupun tidak langsung. Nah, proses &#8220;mengalami&#8221; inilah yang menjadi proses transformasi (ilmu) pengetahuan mereka.</p>
<p>Berbeda dengan &#8220;peraturan dibikin untuk dilanggar&#8221;. Jauh berbeda. Maksudnya adalah bahwa dalam pelaksanaan aturan, sanggat mungkin terjadi penyimpangan. Misalnya aturan tentang tugas dari &#8220;mamak&#8221; yang menyatakan &#8220;anak dipangku kamanakan dibimbiang&#8221;. Terjadi penyimpangan di lapangan bahwa mamak merasa telah membimbiang kamanakan padahal mereka tidak menyadari bahwa mereka baru secuil membimbingnya, atau mereka hanya membimbing kamanakan yang laki-laki saja. Ini lebih banyak karena faktor ketidaktahuan. Kalau saya ambil sebuah perumpamaan, Niniak Mamak itu aturannya adalah &#8220;suluah&#8221; bendrang dalam nagari. Suluah yang akan menerangi buah paruiknya, kaumnya, kampuangnya, dan ujungnya adalah nagarinya. Namun sayangnya &#8220;suluah&#8221; itu terbuat dari daun karambia basah. Jan kan ka manarangan urang lain, untuak diri sendiri sajo indak bisa tarang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mudah2an bisa paham jo perumpamaan itu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>+          : Hm&#8230;iya &#8230;ngerti&#8230;<br />
trus&#8230;jika mamak tidak bisa memberi pengetahuan lebih kepada anak dan kemenakannya&#8230;setidaknya hal itu kan bisa terbantu karena ada ruang-ruang dialog dan ruang-ruang diskusi untuk menyampaikan buah pikiran si perempuan atau laki-laki&#8230;.sementara laki-laki punya ruang untuk menyampaikan buah pikirannya dan mendiskusikannya dengan laki-laki yang lain seperti di surau dan di lapau&#8230;</p>
<p>Sementara perempuan yang misalkan seperti Siti Nurbaya yang mempunyai pemikiran yang bagus tetapi tidak punya ruang untuk menyampaikan aspirasi atau pandangan-pandangannya ketika masih gadis&#8230;<br />
Sedangkan ketika sudah berkeluarga, dia menjadi Bundo Kanduang dan terlibat aktif mengatur negri dan bisa menyampaikan pendapat-pendapatnya di ruang publik.<br />
Kalau hanya sekedar mengalami secara langsung dan secara tidak langsung tanpa dikomunikasikan, jadinya pemikirannya yang bagus itu tidak atau akan susah berkembang.</p>
<p>-           : Kalau perempuan pun dapat mendiskusinya. Tidak ada larangan bagi perempuan untuk mendiskusikan pikirannya.<br />
Justru yang ketangkap, apa yang kamu katakan itu setelah Islam masuk dimana kegiatan perempuan dibatasi oleh aturan Islam.<br />
Pada dasarnya aturan adat alam Minangkabau tidak pernah membatasi laki-laki atau perempuan berkembang, berdiskusi. Bahkan Datuak Parpatiah nan Sabatang selalu berdiskusi dengan ibunya, dimana sang ibu justru mendapat banyak ilmu dari Datuak Parpatiah Nan Sabatang yang pernah berkelana. Sebaliknya Datuak Parpatiah Nan Sabatang pun banyak belajar dari ibunya, terutama tentang kelembutan dan nilai-nilai kemanusiaan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>+          : Hm&#8230;.keterbatasan ruang diskusi untuk perempuan yang masih gadis maksudnya&#8230;dan ruang publik yang mempertemukan laki-laki dan perempuan di ruang publik untuk mengembangkan pemikiran&#8230;dimana? Ruang publik yang mana, bahkan sebelum Islam masuk?<br />
Khusus laki-laki                      : Surau, lapau, &#8230;., &#8230;., &#8230;.merantau&#8230;<br />
Perempuan                              : Di sungai, hm&#8230;dapur,&#8230;.,&#8230;., &#8230;..merantau????<br />
Laki-laki dan perempuan        : Di rumah gadang? Di pasar? Di sawah atau ladang?<br />
Tidak ada ruang publik yang mempertemuakannya untuk bertukar pikiran&#8230;sementara setelah menikah si perempuan menjadi Bundo Kanduang&#8230;artinya menjadi pemimpin&#8230;hm&#8230;.kira-kira umur berapa ya perempuan Minangkabau dahulu menikah sebelum Islam masuk? Umur jadi faktor kedewasaan gak dari psikologisnya?</p>
<p>-           : Tidak sesimpel itu. Ini kayaknya merumuskan bahwa di Minangkabau perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu sangat tajam. Tidak. Perbedaan laki-laki dan perempuan itu sebatas tugas. Mereka lebih belajar pada tugas mereka.<br />
Gini deh, kalau memang mau menggali aspek transformasi pengetahuan, harus tahu dulu aspek pengetahuan apa yang harus dimiliki laki-laki dan aspek pengetahuan apa yang harus dimiliki perempuan dalam menjalankan tugasnya. Kita harus ingat bahwa pada saat awal berkembangnya peradaban Minangkabau, ilmu pengetahuan tidak seperti sekarang. Bagi orang zaman dulu itu, ilmu pengetahuan bagi mereka adalah segala sesuatu yang sesuai dengan yang dia butuhkan. Kalau memang paham dengan apa yang ditulis Es Ito tentang Masyarakat Minang adalah Masyarakat Komunis pertama di dunia, maka akan paham.<br />
Pahami dululah dasarnya, baru nanti bicara tentang &#8220;ruang diskusi&#8221; dan keterbatasan ruang diskusi itu.<br />
+          : heheeheee&#8230;.<br />
Kan nanya ini mah karna gak paham&#8230; <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>-           :  Makanya harus urut pembahasannya. Tidak bisa hanya dengan melihat pelaksanaan zaman sekarang. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Diskusi ini terjadi pada 4 November 2010 lalu. Dimulai pukul 24:00wib dan berakhir pada pukul 03:57 pagi. Karena sudah lelah dan sudah harus membaca refrensi lainnya serta harus memahami kembali maka ngantuk pun membatasi diskusi saat ini. Dan saya berharap bahwa diskusi ini juga dapat kembali berkembang menjadi lebih luas lagi sebagai pembelajaran untuk menggali nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh Minangkabau yang sangat kaya dengan nilai-nilai filosofis .</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=102&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/11/ruang-jantan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SINETRON (SINEMA ELEKTRONIK )</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/01/sinetron-sinema-elektronik/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/01/sinetron-sinema-elektronik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2010 08:23:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Sinetron (Di sadur dari beberapa sumber). Dalam bahasa Inggris, sinetron berarti soap opera alias opera sabun. Cikal bakalnya adalah siaran drama berseri di radio- radio Amerika pada sekitar tahun 1930-an. Para pendengar radio yang kebanyakan ibu- ibu rumah tangga, biasa mendengarkan drama berseri itu sembari membersihkan rumah. Peluang ini ditangkap oleh para pemasang iklan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=78&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sejarah Sinetron</strong></p>
<p><em>(Di sadur dari beberapa sumber)</em>. Dalam bahasa Inggris, sinetron berarti soap opera alias opera sabun. Cikal bakalnya adalah siaran drama berseri di radio- radio Amerika pada sekitar tahun 1930-an. Para pendengar radio yang kebanyakan ibu- ibu rumah tangga, biasa mendengarkan drama berseri itu sembari membersihkan rumah. Peluang ini ditangkap oleh para pemasang iklan di radio untuk mempromosikan produk perusahaan mereka berupa deterjen dan produk- produk pembersih di sela- sela siaran drama berseri.  Selanjutnya, ketika  era radio berganti menjadi televisi pada tahun 1950, siaran drama berseri ini dilanjutkan ke televisi namun nama ‘opera sabun’ tetap terpakai.</p>
<p>Di Indonesia, istilah sinetron pertama kali dicetuskan oleh Bapak Soemardjono, salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tak banyak yang mengetahui jika sinetron adalah kepanjangan dari <em>Sinema Elektronik</em>.  Disebut demikian, sebab sinetron adalah sebuah tayangan sinema (film) berseri yang ditonton melalui media elektronik (baca : TV).  Sinetron berbeda dengan film. Sinetron adalah sebuah tayangan berseri yang dibuat (bisa) sampai berpuluh- puluh episode sementara Film adalah sebuah tayangan lepas serta berdurasi pendek.<span id="more-78"></span></p>
<p>Ditelusuri dari sejarahnya, <em>booming</em> sinetron di Indonesia muncul pada tahun 90-an.  Pada waktu itu tv swasta baru bermunculan di Indonesia. RCTI adalah stasiun tv swasta pertama di Indonesia, sebelumnya stasiun tv yang mengudara hanya satu, yaitu TVRI, milik pemerintah Republik Indonesia.</p>
<p>Pelopor sinetron pertama yang hadir di layar kaca adalah Losmen, drama serial produksi TVRI pada tahun 80-an. Losmen bercerita tentang kehidupan sehari- hari keluarga Pak Broto yang mengelola penginapan losmen. Drama ini dibintangi oleh aktor dan aktris senior seperti Dewi Yull, Mieke Wijaya dan Mathias Muchus.  Uniknya, berbeda dengan sinetron jaman sekarang yang penayangannya setiap hari, drama Losmen ditayangkan sebulan sekali karena jam siaran TVRI yang masih terbatas. Jadi, untuk menonton episode selanjutnya harus menunggu bulan berikutnya.  Meskipun demikian, istilah sinetron baru digunakan pada drama berseri Jendela Rumah Kita (1989).</p>
<p><strong>Perkembangan Sinetron </strong></p>
<p>Sepanjang tahun 90-an, istilah sinetron mulai banyak digunakan. Tayangan sinetron pun mulai membanjiri saluran tv swasta. Sebutlah diantaranya Lenong Rumpi, Si Cemplon, Si Doel Anak Sekolahan dan masih banyak lainnya. Diantara sinetron- sinetron yang ada pada masa itu, Si Doel Anak Sekolahan adalah sinetron paling populer dan mendapat tempat di hati masyarakat. Buktinya, sinetron Si Doel dibuat hingga beberapa sekuel.  Pemeran utamanya adalah Rano Karno, bintang film tahun 80-an.</p>
<p>Memasuki tahun 1995 hingga 1998, tema sinetron sedikit bergeser. Para sutradara membuat sinetron yang diadaptasi dari film layar lebar tahun 80-an, misalnya Lupus, Olga dan Catatan Si Boy. Di era ini pula, sinetron dari negeri latin alias telenovela membanjiri layar kaca Indonesia. Diantara yang populer adalah Maria Mercedes yang melambungkan nama pemainnya, Thalia.</p>
<p>Berikutnya di tahun 1998, Multivision Plus sebagai salah satu perusahaan pembuat film / Production House di Indonesia, membuat sinetron Tersanjung. Sinetron ini adalah sinetron terpanjang yang pernah dibuat, terdiri dari 356 episode yang dibagi beberapa sekuel. (<em>Terakhir, sinetron terpanjang adalah Cinta Fitri yang sudah 5 sesion</em>).  Pada masa ini, tema sinetron kembali berubah. Kebanyakan sinetron yang diproduksi merupakan adaptasi dari novel- novel terkenal seperti Karmila.</p>
<p>Era Millenium, yang ditandai pergantian tahun dari 1999 ke 2000 menjadi puncak bagi dunia sinetron Indonesia.  Tema sinetron lebih beragam, mulai dari horor sampai kehidupan masyarakat Jakarta.  Hingga kini terdapat beberapa pembagian jenis sinetron misalnya : sinetron religi ( agama ), sinetron komedi,  sinetron horor, sinetron dewasa, sinetron remaja dan sinetron anak.</p>
<p><strong>Sinetron menuai kritik</strong></p>
<p>Tujuan sinetron yang bertumpu pada tujuan komersil membuat jengah banyak kalangan. Selain cerita yang tidak mendidik, sinetron telah menjerumuskan masyarakat kita pada bunga-bunga mimpi. Masyarakat tidak dididik untuk kritis namun justru dididik untuk menjadi pemalas. Berikut beberapa point-point kritik terhadap sinetron yang terdapat di wikipedia.or.id :</p>
<p>1.Keluarga Berada</p>
<p>Kritik terhadap tema ini datang dari pandangan bahwa konflik yang terjadi dalam suatu keluarga berasal dari kebencian mendalam yang berlarut-larut. Dalam beberapa sinetron, konflik akibat kebencian tersebut bahkan mencapai puluhan tahun.</p>
<p>Akibat konflik yang berlarut-larut tersebut, sinetron dengan latar keluarga berada biasanya banyak memuat redudansi (berulang-ulang) cerita.</p>
<p>2.Religius</p>
<p>Kritik terhadap sinetron yang mengangkat tema religi biasanya berpusat pada cerita sinetron yang dianggap terlalu mendogmakan ajaran agama daripada pesan-pesan moral yang lebih mengena dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>3. Mistis</p>
<p>Sinetron mistis memuat cerita yang kental dengan unsur mistis dan mengabaikan logika penonton. Pengkritik sinetron ini biasanya menyoroti cerita yang dianggap merendahkan ajaran agama. Sementara pengkritik lain mengangkat kualitas cerita yang umumnya rendah.</p>
<p><strong>Penonton setia sinetron dan wajah negri ini </strong></p>
<p>Sinetron kita ataupun luar negri tak jauh beda. Wajah perempuan mendominasi disana. Mulai dari judul, kisah, iklan, sampai peruntukkan. Yup, sinetron kita diperuntukkan kepada kaum hawa. Yang artinya perempuan disini menjadi konsumen sinetron itu sendiri. Dengan tingkat perekonomian Indonesia sebagai negara berkembang yang rendah, sinetron menjadi alternatif hiburan yang murah dan mudah. Tanpa perlu memakai tv berlangganan atau mengeluarkan sejumlah uang seperti menonton film di bioskop.</p>
<p>Sinetron yang dikonsumsi oleh kebanyakan perempuan menjadikan kapitalis hidup subur dengan mengantongi uang hasil dari iklan mereka yang dikonsumsi oleh penonton sinetron. Disinilah wajah negri kita. Wajah yang telah di “lukis” dengan mimpi-mimpi glamour yang melambungkan mimpi-mimpi sampai kelangit-langit tak bertuan. Yang membuat hiburan picisan murahan yang ternyata mempunyai pasar yang kuat. Dilihat dari rating yang tinggi pada sinetron-sinetron itu.</p>
<p><a href="http://nonamayo.wordpress.com/2008/09/12/sinetron-oh-sinetron-part-1/">http://nonamayo.wordpress.com/2008/09/12/sinetron-oh-sinetron-part-1/</a></p>
<p><a href="http://nofieiman.com/2006/12/sinetron-indonesia-dan-pembodohan/">http://nofieiman.com/2006/12/sinetron-indonesia-dan-pembodohan/</a></p>
<p><a href="http://blog.budiyono.net/2006/12/satu-liter-air-mata-dan-sinetron-indonesia/">http://blog.budiyono.net/2006/12/satu-liter-air-mata-dan-sinetron-indonesia/<!--more--></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=78&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/12/01/sinetron-sinema-elektronik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uni Tina dan Cerita Rabu</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/14/uni-tina-dan-cerita-rabu/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/14/uni-tina-dan-cerita-rabu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 16:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perempuan Hebat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/14/uni-tina-dan-cerita-rabu/</guid>
		<description><![CDATA[Minangkabau sangat terkenal dengan makanan tradisionalnya yang khas, dia ntaranya dendeng kering dan dendeng batokok. Banyak orang bisa membuat jenis makanan yang satu ini, namun tidak semuanya menjadikan bisnis keluarga seperti yang dilakukan oleh Hj. Rostina yang telah berusia 75 tahun. Beliau adalah penjual dendeng kering yang cukup terkenal di Padangpanjang dan merupakan satu-satunya produsen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=69&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minangkabau sangat terkenal dengan makanan tradisionalnya yang khas, dia ntaranya <em>dendeng </em>kering dan <em>dendeng batokok</em>. Banyak orang bisa membuat jenis makanan yang satu ini, namun tidak semuanya menjadikan bisnis keluarga seperti yang dilakukan oleh Hj. Rostina yang telah berusia 75 tahun. Beliau adalah penjual <em>dendeng </em>kering yang cukup terkenal di Padangpanjang dan merupakan satu-satunya produsen <em>dendeng rabu</em> di Padangpanjang. <em>Dendeng rabu</em> merupakan dendeng yang dibuat dari paru-paru sapi. Di Minangkabau, paru disebut juga dengan <em>rabu</em>.</p>
<div id="attachment_5110"><img title="Uni Tina dan Cerita Rabu1" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/uni-tina-470x376.jpg" alt="Ibu Hj. Rostina (Uni Tina)" width="470" height="376" />Ibu Hj. Rostina (Uni Tina)<span id="more-69"></span>&nbsp;</p>
</div>
<p>Beliau memulai usahanya sejak tahun 1988, yang artinya telah 20 tahun menggeluti usaha ini. Usaha ini telah menghantarkan empat orang anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Salah satunya Emil Bustaman yang berusia 31 tahun yang saat ini meneruskan usaha <em>dendeng</em> Uni Tina (sapaan akrab beliau).  Bahkan berkat usahanya ini Uni Tina juga telah naik haji ke Mekah.</p>
<p>Setiap bulannya Ibu Rostina dapat memproduksi 300 kilogram <em>dendeng rab</em>u. Harga satu kilogramnya tiga ratus ribu rupiah, jika dikalikan menjadi sembilan juta rupiah perbulan. Tetapi <em>dendeng</em> ini pun tidak dijual per kilo semuanya. Terkadang dijual pula ke toko-toko dan warung nasi dengan harga per bungkus enam ribu.</p>
<div id="attachment_5109"><img title="Uni Tina dan Cerita Rabu2" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/dendeng-rabu-yg-sdah-dibungkus1-470x376.jpg" alt="Dendeng rabu yang telah dibungkus" width="470" height="376" />Dendeng rabu yang telah dibungkus&nbsp;</p>
</div>
<p><em>Dendeng rabu</em> setiap tahunnya juga dipasok ke Mekah oleh jamaah haji Indonesia. Dan beberapa pelanggan membeli<em> dendeng</em> ini untuk oleh-oleh kepada sanak saudara yang berada di luar daerah seperti Jawa dan daerah lainnya.</p>
<p>Selain itu Ibu Rostina masuk ke dalam organisasi IWAPI ( Ikatan Wanita Pedagang Indonesia) cabang Padangpanjang dan telah pernah beramah tamah dengan Presiden Indonesia pada tahun 2007.</p>
<p>Walaupun begitu Uni Tina masih tinggal di rumah kontrakan di depan Taman Kota Padangpanjang. Di usia senjanya beliau tinggal bersama anak-anak dan cucunya yang masih tetap meneruskan usaha beliau ini.</p>
<p>Perkenalan ku dengan ibu yang gigih ini diawali ketika bertamu ke rumah beliau untuk membeli <em>dendeng rabu </em>sebagai oleh-oleh untuk tamu Teater Sakata. Di rumahnya yang sederhana beliau bekerja keras untuk menyekolahkan anak-ananknya setelah suaminya meninggal dunia. Dan kali kedua pertemuan ku dengan ibu ini adalah ketika aku tertarik untuk menjadikan profil dan usaha<em> dendeng rabu </em>beliau menjadi karya dokumenter untuk tugas kuliah. Maka aku pun datang kembali dan <em>ngobrol</em> banyak dengan beliau.</p>
<div id="attachment_5107"><img title="Uni Tina dan Cerita Rabu3" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/dendeng-balado-470x352.jpg" alt="Dendeng kering" width="470" height="352" />Dendeng kering&nbsp;</p>
</div>
<p>Nampak dari raut muka beliau perasaan puas dengan perjuangan hidupnya, ketika bercerita tentang sejarah panjang usaha Uni Tina yang saat ini dikelola Emil Bustamam, anak bungsunya. Beliau bercerita dengan semangat bagaimana awalnya sebelum usaha ini beliau sempat menjadi guru di salah satu sekolah Kristen di Padangpanjang. Setelah tidak mengajar lagi, beliau berdagang kain dari rumah ke rumah dengan sistem kredit. Dan disela itu beliau juga membuat makanan basah khas padang dan di jual di Pasar Padangpanjang. Bisa dikatakan beliau sangat gigih dan jeli melihat peluang usaha. Sampai akhirnya beliau mencoba membuat <em>dendeng rabu</em> dan dijual ke beberapa warung nasi. Resep <em>dendeng rabu</em> ini ia dapat dari resep khas keluarganya. Beliau asli Pariaman dan merantau ikut suami ke Padangpanjang.</p>
<p>Aku juga sempat <em>ngobrol </em>dengan pemasok bahan baku <em>rabu</em> (paru) ini di los penjual daging, yaitu Bapak Irwan. Beliau sangat salut atas kerja keras nenek berumur 75 tahun ini. Uni Tina sudah langganan bahan baku <em>dendeng rabu</em> dengan beliau sejak awal Uni Tina berusaha <em>dendeng rabu</em>. Bahkan Bapak irwan juga menjadi salah satu pelanggan setia <em>dendeng rabu</em> Uni Tina.</p>
<p>Selain Bapak Irwan, aku juga mewawancarai pemilik Rumah Makan Gumarang, Bapak H. Susirman Sutan Marlaut. Pak Susirman pernah bertanya ke beberapa rumah makan di Bukittinggi, ternyata pemasok <em>dendeng rabu</em>-nya juga dari Uni Tina.  Uni Tina sosok pekerja keras yang sangat ulet.</p>
<div id="attachment_5108"><img title="Uni Tina dan Cerita Rabu4" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/dendneg-rabu-di-antara-masakan-lainnya-di-gumarang-470x376.jpg" alt="Dendeng rabu di antara masakan lainnya di Rumah Makan Gumarang" width="470" height="376" />Dendeng rabu di antara masakan lainnya di Rumah Makan Gumarang&nbsp;</p>
</div>
<p>Aku juga mewawancarai tetangga lama Uni Tina yang tahu sejak awal bagaimana beliau menjalankan usaha ini, serta anak-anak yang tahu diuntung dan ikut membantu beliau walau masih kecil. Kesuksesan beliau yang tidak hanya dalam berusaha tetapi juga dalam mendidik anak-anaknya membuat aku terharu dan menjadi ingat dengan ibu ku sendiri di Padang. Bagaimana seorang ibu dapat berjuang sedemikian rupa untuk anak-anaknya agar menjadi ‘orang’.</p>
<p>Aku sangat terenyuh sekali ketika <em>ngobrol </em>dengan Uni Tina, sekaligus membuat ku sangat bersemangat untuk kerja keras. Karena seorang Uni Tina yang umurnya sudah berkepala tujuh saja masih sangat sangat bersemangat di hari tuanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=69&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/14/uni-tina-dan-cerita-rabu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/uni-tina-470x376.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Uni Tina dan Cerita Rabu1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/dendeng-rabu-yg-sdah-dibungkus1-470x376.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Uni Tina dan Cerita Rabu2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/dendeng-balado-470x352.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Uni Tina dan Cerita Rabu3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2010/04/dendneg-rabu-di-antara-masakan-lainnya-di-gumarang-470x376.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Uni Tina dan Cerita Rabu4</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NASKAH : Marlena Si Padendang dari Naskah Tiga Perempuan ( Via Suswati )</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/11/62/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/11/62/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 10:49:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Naskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Marlena si Padendang merupakan naskah teater karya Via Suswati. Pada beberapa waktu lalu sudah dipentaskan di beberapa kota di Indonesia. Dan bulan ini juga dipentaskan di Goethe Institute, Jakarta. Namun, beberapa bulan kemaren saya mengadopsi naskah teater ini ke dalam naskah film,, hanya saja belum sempat di produksi. Well&#8230;rencananya siiy ada&#8230;cm masih sibuk aja dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=62&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Marlena si Padendang merupakan naskah teater karya Via Suswati. Pada beberapa waktu lalu sudah dipentaskan di beberapa kota di Indonesia. Dan bulan ini juga dipentaskan di Goethe Institute, Jakarta. Namun, beberapa bulan kemaren saya mengadopsi naskah teater ini ke dalam naskah film,, hanya saja belum sempat di produksi. Well&#8230;rencananya siiy ada&#8230;cm masih sibuk aja dengan beberapa urusan. Doain aja keinginan ini bisa terwujud nantinya. Hehehehe&#8230;Cayooo&#8230;.</p>
<div id="attachment_64" class="wp-caption aligncenter" style="width: 241px"><a href="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/marlena.jpg"><img class="size-medium wp-image-64" title="marlena" src="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/marlena.jpg?w=231&#038;h=300" alt="" width="231" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Pementasan Tiga Perempuan - Judul Teater Marlena si Padendang</p></div>
<p><span id="more-62"></span></p>
<p><strong>Tokoh   : </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Marlena</li>
</ol>
<p>Karakter : usia 45 tahun, seorang padendang, mementingkan materi dan mempunyai watak yang keras, berpikiran sempit</p>
<ol>
<li>Sari</li>
</ol>
<p>Karakter : anak Marlena, usia 27 tahun dan merupakan tamatan S 2 di kota besar dan mempunyai pemikiran terbuka</p>
<ol>
<li>Ipah</li>
</ol>
<p>Karakter  : adik kandung Marlena, usia 40 tahun, mempunyai pribadi yang alim dan bersahaja,serta meemilki pemikiran terbuka</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>STORYLINE</strong></p>
<p><strong> </strong>Marlena merupakan seorang padendang yang telah berusia 45 tahun. Masa mudanya dihabiskan dengan menjadi padendang. Ia terkenal dengan julukan Marlena si padendang dari Koto Nan Ampek. Banyak lelaki yang pernah singgah dalam kehidupannya karena perkawinan siri. Jikalau kita mengenal pologami, tetapi Marlena merupakan salah satu yang melakukan poliandri.</p>
<p>Sekarang dimasa tuanya, walaupun masih tetap menjadi padendang, namun kondisi fisiknya tidak sekuat dulu. Anaknya Sari, seorang tamatan pasca sarjana sebuah perguruan tinggi di Pulau Jawa baru saja pulang dan meminta izin untuk menikah dengan seorang pria pujaannya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di kedokteran. Marlena bukannya tidak setuju dengan pria pilihan Sari, tetapi dia tidak suka dengan cara berfikir Sari yang mengijinkan calon suami untuk mengabdikan diri menjadi dokter di pelosok negeri. Menurut Marlena, gajinya akan kecil jika bekerja di pelosok desa.</p>
<p>Namun Sari terobati hatinya yang resah dengan adanya Ipah (yang merupakan adik kandung ibunya) dengan sabar meneduhkan hati Sari dan membantu segala kebutuhan Sari untuk menyambut pinangan Hendra ( calon suami Sari ). Sari yang akan segera menikah tentunya berusaha ingin tahu siapa bapak kandungnya. Karena sampai usianya sekarang Marlena tidak pernah memberitahukan siapa bapak kandung Sari sebenarnya. Dan ketika menanyakan kepada ibunya mengenai siapa bapak kandungnya, Marlena tidak pernah mau mengatakan siapa bapak kandung Sari.</p>
<p>Konflik terjadi ketika untuk kedua kalinya Sari meminta Marlena untuk memberitahukan siapa bapak kandungnya namun Marlena naik pitam dan dengan amarahnya ia memberitahu siapa bapak kandung Sari sebenarnya. Yang ternyata adalah almarhum suami adiknya Ipah. Mendengar hal tersebut ipah dan sari menjadi terpukul dengan pengakuan Marlena. Ipah yang dikhianati oleh kakak kandungnya sendiri tidak dapat menahan iba hatinya dan berniat pergi dari rumah karna tidak tahan hidup serumah dengan orang yang telah mengkhianatinya. Ipah yang berusaha untuk pergi namun dicegah oleh Sari dengan berbagai alasan, tetapi Ipah tetap berniat pergi. Akhirnya Sari memutuskan pergi dengan Ipah ke kota tempat Hendra berada. Ipah dan Sari meninggalkan Marlena.</p>
<p><strong>Konflik utama</strong></p>
<p>Ketika untuk kedua kalinya Sari meminta Marlena untuk memberitahukan siapa bapak kandungnya namun Marlena naik pitam dan dengan amarahnya ia memberitahu siapa bapak kandung Sari sebenarnya. Yang ternyata adalah almarhum suami adiknya Ipah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>MARLENA SI PADENDANG</strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">INT.      RUMAH MARLENA &#8211; PAGI</span></strong></li>
</ol>
<p><strong>IPAH , MARLENA, SARI</strong></p>
<p><strong>Ipah sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Marlena. Muncul sari dari kamar sembari mendengarkan MP3 yang dibawanya.</strong></p>
<p>Sari                         : Hari sudah tinggi, tidakkah amak bersiap-siap (SARI MEMEGANG TANGAN MARLENA)<strong> </strong>Dia sudah berjanji akan datang pukul sepuluh tepat, bu…(MENYAPA IPAH YANG  LEWAT MEMBAWA PAKAIAN YANG HABIS DISETRIKA).</p>
<p>Marlena               : Urang ma nyo..(MASIH MENGHEMBUSKAN SEBATANG ROKOKNYA)</p>
<p>Sari                         : Bukan orang kampung kita, namun kakek dari papanya masih orang sini juga, orang darek.</p>
<p>Marlena               : Ambiakan aia minum di arak balakang, tuangan aia angeknyo sakali, jan panuah pulo kau isian, cukuik saparampeknyo sajo. Lai alun pernah babini lai&#8230;.</p>
<p>Sari                         : Pernah beristri?..(TERSENYUM KECIL) tentu saja belum mak..mana mungkin</p>
<p>Marlena               : Mungkin sajo nyoh tu! Wak padusi harus hati-hati, sia tau nyo tu bujang ayam sajo, alah banyak anak baserak sabalik pinggang. Kau ko mudo matah baru. Lah jaleh bana inyo tu bujang?</p>
<p>Sari                         : Iya mak&#8230;</p>
<p>Marlena               : Lai karajo tetap, paliang indak PNS..</p>
<p>Sari                         : Dokter</p>
<p>Marlena               : (MATANYA BERBINAR, WAJAHNYA LANGSUNG CERAH) Apo? Dokter? Rancak bana tu mah, pasti cocok jo kau nan tacelak ko,Alah S2 pula lai. Ondeh mandeh..babaju putiah, indak takalahan gai dek anak si Malan nan karajo di kantua camaik tu do. Punya rumah, oto, yang pasti pitihnyo banyak balindak. Kau pasti sanang  jo inyo, sia namonyo..</p>
<p>Sari                         : Baru lulus enam bulan yang lalu mak, sedang menunggu  penempatan dinasnya. Tapi ia berharap akan ditempatkan di daerah yang jauh dari kota besar. Katanya akan lebih tenang dan menyenangkan berada di pedalaman, di dusun-dusun, di sana ia dapat menyumbangkan seluruh tenaga dan fikirannya. Namanya Hendra, Hendra Pratama mak..</p>
<p>Marlena               :Tugas dokter di padalaman tu sangaik barek, cubo kau bayangan sajo, gayanya kampuangan, udiak, bakawan jo urang ka sawah kaparak sajo, indak ado dokter kampuang nan kayo do sari&#8230;kok lai bana baoto, oto tui acok pulo rusak, isi paruikna dapek sajo dietoang. Sudah tu harus pai-pai pula katampek jauah, kau kan acok ditinggaanyo.</p>
<p>Sari                         :Tidak mak..Tugas dokter dimanapun berada tetap sama. Di kota besar, pelosok, dusun-dusun terpencil sekalipun, tugasnya tetap  mengobati orang, mereka adalah orang-orang yang dipercaya sebagai pusat dari lingkara sosial yang akan menopang nyawa  insan yang dipercayakan ke tangannya.</p>
<p>Marlena               :Kau indak mangarati sari&#8230;Kalau karajo di kota gadang, inyo bisa pulo mambukak praktek satiok sore jo hari libut, saat nan pas untuak mandulang pitiah.Kau tau kan sari, tampek prakteknyo tu bisa manjadi tambang ameh. Pernah den barubek katampek praktek dokter tu, sakik kaki biaso sajo nyoh, asam urat, kau tau sari, bara den harus manabuih ubek tu, maha! Maha bana. Pitih tu bisa untuak makan den sabulan!</p>
<p>Sari                         :Mak, Sari ingin amak meresetui hubungan kami, sari yakin hendra adalah laki-laki yang baik, sari sudah mengenalnya hampir enam tahun, mak pasti akan suka jika sudah bertemu nanti..</p>
<p>Marlena               :Ahh&#8230;.kau jan capek picayo jo muluik manih, kilaki tu manihnyo sampai dapek sajo nyoh, sudah tu indak ado gai nan dikecekkan urang sanang sapanjang ari.</p>
<p>Sari                         :Hendra tidak begitu mak..(MENGHELA NAFAS PANJANG) sudah satu minggu sari di sini, mencari titik temu dengan mak..emak selalu ngotot kalau calon suami sari mesti punya banyak uang. Kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan materi mak&#8230;</p>
<p>Marlena               :Kini kau bisa mangecek bantuak tu, tapi cubolah nanti kalau kau alah baranak tigo, indak ado gai kau diacuhannyo. Lain halnyo  kalau inyo punya pitih banyak, bisa sakoati kau mambali badak jo baju nan rancak, pitih bisa mambali sagalonyo sari tamasuak&#8230;</p>
<p>Sari                         :Harga diri mak&#8230;</p>
<p>Marlena               <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> TERTAWA LEBAR) baa baru kini kau bapikia janiah, kama sajo painyo kau nan banyak tu&#8230;</p>
<p>(SARI TERSENYUM MENDENGAR AMAKNYA BERBICARA)</p>
<p><strong>FADE IN TO</strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">EXT. RUMAH MARLENA      SORE</span></strong></li>
</ol>
<p><strong>Sari dan Marlena</strong></p>
<p><strong>Sari menanyakan kepada Marlena (yang sedang duduk santai sambil merokok didepan rumah ) mengenai siapa bapak kandungnya  sebenarnya.</strong></p>
<p><strong>HENING BEBERAPA SAAT (MUSIK SALUANG/BANSI) </strong></p>
<p>Sari                         :Ada yang ingin sari tanyakan kembali kepada amak, karena setiap kali sari menanyakan hal ini , amak selalu menghindar. Begitu juga etek ipah, karena etek mungkin tidak tahu..</p>
<p>Marlena               <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> akaro apo tu sari..(MENAHAN CURIGA)</p>
<p>Sari                         :Mak berjanjilah dengan hati mak yang paling dalam kalau amak tidak akan menyembunyikan lagi persoalan ini, sari telah dewasa mak, sari sangat berharap amak tidak marah..</p>
<p>Marlena               :Langsuang sajo kapakaro nan kau makasuikan tu, dak usah kau buek den bafikia, den dak suko jo pamainan kato seperti etek kau tu do, (MULAI SEDIKIT EMOSI)</p>
<p>Sari                         :Iyo mak, masalah yang amat pelik namun butuh kejujuran..</p>
<p>Marlena               <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> MEMOTONG PEMBICARAAN SARI)  Apo pula mukasuik kau, Apo nan alah den padutoan!</p>
<p>Sari                         :Mak, bagaikan membungkus durian dengan daun keladi, tercium namun tersamar, ada kisi-kisi kokoh yang tak mampu sari tembus  selama ini. Mak bagai karang es besar menutupinya, hingga kita tak punya sedikitpun ruang untuk membuka pembicaraan tentang hal ini.</p>
<p>Marlena               : (TERSINGGUNG) Anak kapunduang anyuik, tasapo setan Baringin ma kau! Kau sindia-sindia den bantuak urang dak tau diampek. Batambah gadang, tambah tinggi sikola kau, mantang-mantang alah S2, bakato awak sajo muncuang nan kalapeh, indak diagak ati urang nan kasakik, babiso lidah kau..!!</p>
<p>(MENINGGALKAN SARI SAMBIL TERUS MERACAU)</p>
<p><strong>SARI MENANGIS TERTAHAN, SALAH TINGKAH, GELISAH (SAMAR-SAMAR TERDENGAR LAGU BLUES AWAL) MUNCUL IPAH MEMBAWA KERANJANG BELANJA YANG MASIH KOSONG</strong></p>
<p>Ipah                       :Cubo perlahan-lahan kita dekati amak, amakmu selalu begitu kalau sudah mengungkit masalah itu, beri amak waktu untuk menenangkan diri, ibu akan bantu, meskipun tidak banyak yang dapat ibu lakukan.</p>
<p>Sari                         :Iya bu..terima kasih bu</p>
<p>Ipah                       :Nanti ibu belikan pical lontong kegemaran sari yo, oh iyo sari, baa persiapan beko? Di kamar ado baju kuruang nan telah ibu siapkan sebulan yang lalu, sari pasti suko, modelnya ibu ambiak dari majalah.</p>
<p>Sari                         :Terima kasih bu, semua yang ibu berikan sudah lebih dari cukup. Sari bersyukur, kita masih sempat mempersiapkan segala Sesuatunya bersama ya bu (MEMELUK IPAH)</p>
<p>Ipah                       :Sari, nanti ibu pulangnya mungkin agak lambat, amak jo sari sajo yang menunggu Hendra..(IPAH BERLALU MENINGGALKAN SARI)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>CUT TO</strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">INT.      RUMAH MARLENA – PAGI MENJELANG SIANG</span></strong></li>
</ol>
<p><strong>Sari, Marlena, Ipah</strong></p>
<p><strong>Marlena sedang menonton televisi sambil merokok dan sari duduk di sebelahnya, gugup dan gelisah.beberapa saat hening</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Marlena               :Apo sabananyo mukasuik kau mangatoan den barasio,buliah dak bajaleh-jaleh wak mangecek, dak lapeh kama-kama, jan kau bamain kato juo, samantara ati den sadang elok, kok patang yo paneh rasonyo dadoko.</p>
<p>Sari                         :Mak, sari tidak ingin membuat kecewa ataupun&#8230;mak akhirnya merasa tidak menjadi orang tua yang baik, sekarang sari telah dewasa mak, sudah saatnya sari mengetahui siapa&#8230;</p>
<p>Marlena               :Oooh&#8230;jadi dari patang kau mangecek babalik-balik untuak mananyokan sia apak kanduang kau..</p>
<p>Sari                         :Iya mak, tidak mungkin sari selamanya&#8230;.</p>
<p>Marlena               :Sabananyo salamo ko kalian acok basuo, raso pasti ado, indak tau apo aratinyo..</p>
<p>Sari                         :Siapa bapak sari mak&#8230;? (PENUH SEMANGAT) kenapa sari harus dipisah dengan bapak,kenapa rasa itu seolah-olah dosa yang amat besar, hingga untuk dapat menyadari hangatnya kasih sayang, harus dibayar mahal.</p>
<p>Marlena               :Ipah, etek kaulah nan manggadangan kau sajak dari kete, kau lah tingga jo inyo, taunyo sia apak kau,manga kau tanyoan ka aden&#8230;</p>
<p>Sari                         :Amak adalah orang tua sari, perempuan yang telah mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan sari penuh kebahagiaan, sari memahami kehidupan amak sebagai tukang dendang, mencari uang dengan berpayung bulan,meski semua orang memandang rendah pada amak&#8230;(TERBATA-BATA) sari tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang serta perhatian seorang bapak dalam perjalanan hidup sari..</p>
<p>Marlena               <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> TERSINGGUNG DENGAN UCAPAN SARI) sungguah sari mambana den sabaleh kapalo, indak takana den sia apak kau lai do, kau kan mancaliak baa den baiduik,mambanting tulang nan salapan karek. Dulu, den bamain jo nasib, indak namuah mandanga pangajian nan manuntun den untuak manarimo baitu sajo aturan-aturan inyiak kau, mamak kau sajo takuik kaden, tapi sasudah tu nasib mampainan den sainggo den babaliak pulang ka rumah gadang ko,den dak bisa mangarajoan karajo nan lain,wakatu mudo matah, den acok ko bana mambayangan balaki jo urang elok-elok, sagalo kabutuhan den disadioan,iduik sanang jo anak-anak nan siak. Tapi kini apo,.takdir nan mambao den bakatauan jo pasaluang, kau tau sari dapek den rasoan baa entak an jo irama, dari sinan den mulai baraja dendang, pai-pai jo pasaluang nantun, tiok mandapek panggilan ka acara rang baralek atau duduak dipasa maabihan malam mangumpuan pitih nan Sakete, disainan den sadar kalau pitih dapek manuka apo sajo,iduik jo mimpi-mimpi seperti si bisu barasian.</p>
<p>Sari                         <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> GUGUP) Sari tidak pernah menghujat ataupun merendahkan profesi amak sebagai padendang,..</p>
<p>Marlena               :Manga aden nan kau pasalahan, manga aden nan dapek upek jo cerca, kau tau sari, laki-laki tu saroman di anjiang tasapik, lai pernah kau mancaliak baa anjiang tu maibo-ibo minta tolong malapehan,tapi sudah nyo manyarenggeh babaliak manggigik awak,nyo nio sanang sajo nyoh,aden puntang pantiang mancari pitih, inyo maongkang-ongkang kaki sajo nyoh, aden sibuk bakarajo, inyo sibuk pulo bajudi jo bamain padusi!</p>
<p>Sari                         :Tidak mak, tidak semuanya seperti itu, tidak seburuk yang amak fikirkan,mungkin maksud amak adalah lali-laki yang tidak memiliki kesadaran dan masih mempertahankan pandangan masyarakat lama, bahwa laki-laki merupakan sosok agung yang tidak dapat diusik, kedudukannya dalam rumah tangga adalah harga mati.sehingga tidak memiliki kesadaran untuk saling memahami serta saling mengisi kekurangan dengan pasangan hidupnya..</p>
<p>Marlena               <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> asetan jo sadonyo tu..!! kau tau, apo nan urang-urang pagunjiangan,aden dikatoan padusi indak bana, poyok!!</p>
<p>Sari                         :Mereka siapa mak?</p>
<p>Marlena               :Sadonyo urang&#8230;!!!</p>
<p><strong>HENING BEBERAPA SAAT</strong></p>
<p>Sari                         :Mak, mereka salah..amak seorang wanita yang tegar,amak mampu bekerja malam hari menjual suara, semua itu amak lakukan dengan profesional, amak adalah pekerja seni. Ya, pekerjaan yang mulia..</p>
<p>Marlena               :Baa sadonyo urang bisanya manyalahan den sajo&#8230;</p>
<p>Sari                         :Sekarang sari datang pada mak untuk memionta restu, sari menginginkan bapak kandungku mak&#8230;beliaulah yang akan menjadi wali nikahku kelak.</p>
<p>Marlena               :Bapak&#8230;kalau kau nio tau sia apak kau, kau tanyoanlah ka nyiak suki,inyo nan manolongan kau lahir.</p>
<p>Sari                         :Nyiak Suki, sudah dicoba mak, beliau sudah sangat renta,yang diingatnya hanya marlena padendang biduan koto nan ampek, dan selebihnya hanya ceracau tidak jelas.</p>
<p><strong>MASUK IPAH DENGAN MEMBAWA PENUH BELANJAAN</strong></p>
<p>Marlena               :Untuang kau lakeh pulang pah&#8230;.</p>
<p>Sari                         :Ibu banyak sekali belanjaannya, bukankah kemarin sudah kita cicil sebagian keperluan dapur&#8230;(IPAH TIDAK MENJAWAB)</p>
<p>Ipah                       :Apa sudah uni beritahu sia apak sari?</p>
<p>Marlena               <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ak tau den lai do pah, sakik palo den raso kapacah sajo dek mamikiannya.(PERGI MENINGGALKAN RUANG TV)</p>
<p><strong>FADE IN </strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">INT. KAMAR SARI &#8211;      MALAM</span></strong></li>
</ol>
<p><strong>Sari, Ipah</strong></p>
<p><strong>Sari sedang dikamar mematut-matut baju pengantinnya. Datang Ipah menghampiri Sari.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sari                         :Ibu, ach Sari jadi malu&#8230;</p>
<p>Ipah                       :ach tidak apa-apa Sari. Namanya juga calon anak daro, pasti ingin tampil sempurna nanti disaat istimewa Sari, ya kan?</p>
<p>Sari                         :iya bu&#8230;(SAMBIL MEMATUT-MATUT DIRI DICERMIN )</p>
<p>Ipah                       :Sari, Ibu ingin sekali memberi tahu siapa bapak kandung Sari, tapi ibu sama sekali tidak tau.</p>
<p>Sari                         :Kalau Ibu tidak tau ya tidak apa-apa, tapi tidakkah ibu bisa bercerita sedikit kepada Sari</p>
<p>Ipah                       <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> HENING SESAAT) Sidi adalah suami pertama marlena, amakmu sari&#8230;meskipun ia  seorang petani, namun dia baik, uni bertengkar hanya lantaran tak sabar dalam kemiskinan, uni kemudian meninggalkannya untuk hidup bersama laki-laki lain,seorang pemuda dari pulau jawa yang tampan,bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit, dia terbakar cemburu lantaran uni menikah siri dengan mandor yang sering bertandang ke rumah kala itu,Setelah itu uni menikah lagi dengan  pegawai PJKA, hidup di rumah yang hangat,tubuhnya dihiasi giwang yang indah, rantai emas melilit seluruh badannya,ibu masih ingat,,ketika ibu membuatkan bubur sumsum dengan gula enau seperti kebiasaan emak kalau anaknya sakit, uni menangis memukul dada, ternyata uni tidak bahagia.setelah itu ibu tidak tahu apa yang terjadi, empat tahun lamanya uni menghilang dan kembali dengan membawa seorang anak perempuan berumur tiga tahun,uni menitipkan padaku dengan dalih bahwa dirinya bukan ibu yang baik. Ibu bahagia menerimanya,ibu ikhlas,ibu sadar ibu tidak bisa memberi keturunan kepada menan, marlena adalah kakak perempuan kami yang tidak bisa lepas dari saluang, saban hari,semakin jauh dari kami, hingga kembali menuntut bahwa sari adalah anaknya..(SARI MEMELUK IPAH DENGAN HARU) <strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>FADE IN</strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">EKT. RUMAH MARLENA      –PAGI</span></strong></li>
</ol>
<p><strong>Marlena, Ipah, Sari</strong></p>
<p><strong>Ipah yang sangat iba melihat Sari, kembali menanyakan kepada Marlena siapa bapak kandung Sari kepada Marlena, namun Marlena sudah salah paham duluan terhadap maksud Ipah.</strong></p>
<p><strong>(DARI DALAM RUMAH TERDENGAR RIBUT-RIBUT, PIRING DAN PERALATAN DAPUR DI LEMPAR OLEH MARLENA KELUAR RUMAH)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Marlena               :Aden tingga di koto nan ampek, disinan den mancari pitih, di sinan den marasa manjadi manusia baru.</p>
<p>Ipah                       :Uni, bukan maksud awak untuak&#8230;.</p>
<p>Marlena               :Alahh, dak usah manggurui den jo pituah-pituah kuno nantun, kau pikia kau padusi nan samparono pah, kau santiang,pandai bamanih muko, batanam tabu dibibia, urang di kampuang ko sagan jo kau, dalam rapek kau tampek baiyo, kapai tampek babarito, pulang tampek bakaba, mangarati jo agamo, tapi indak baitu jo rumah tangga kau..!</p>
<p>Ipah                       :Apo makasud uni, rumah tangga ambo jo menan bermasalah?</p>
<p>Marlena               <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ilua sajo kau nan diaguangan urang pah, tapi nan sabananyo kau indak ado aratinyo samo sakali, kau sarupo karambia nanlah dirameh santannyo tingga samparah,cando gulai nan indak  bagaram, langkok isinyo rancak bantuaknyo tapi tawa sajo, kau indak bisa manyanangan menan,inyo maraso sepi dek kau dak bisa magiahan anak untuaknyo, kau padusi indak barahim pah!</p>
<p>Ipah                       :Uni! Ambo memang indak bisa magiahan katurunan jo menan, tapi  menan tidak pernah mempermasalahkan kekuranganku, kami saling mencintai dan setia hingga tembilang memisahkan kami.</p>
<p>Marlena               :Apo kecek kau, setia?cinta? makan dek kau sadonyo tu!! Pernah den katoan ka kau jan picayo sajo bulek-bulek, ha ! kini alun juo  kau sadar.</p>
<p>Ipah                       :Ada apo sabananyo uni, kenapa uni baitu menghina ambo jo Menan sedemikian rupa, rasonyo ambo indak ado salah ni.., atau mulut ambo ini telah khilaf hingga uni baitu benci.</p>
<p><strong>HENING BEBERAPA SAAT (MUSIK SALUANG/BANSI)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Marlena               <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ulu, den pai dari rumah ko untuak mainda dari kalian, den buntiang tigo bulan, den dak nio marusak rumah tanggo kalian..</p>
<p>Ipah                       :Jadi makasud uni,,,sari tu anak siapo ??!</p>
<p>Sari                         <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> MEMANGGIL DARI DALAM) Mak&#8230;&#8230;</p>
<p>Marlena               <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> iam kau sari den alun salasai mangecek,jan kau selo den. Den antaan anak tu pulang sasuai nan diminta menan, den maambiak kaputusan untuak pai, manjauh dari kalian..</p>
<p>Ipah                       :Jadi iko balasan untukku uni, kenapa baru kini uni menceritakannya, setelah menan meninggal,. Ternyata sari adalah darah daging&#8230;.</p>
<p>Marlena               :Iyo!! Sari adalah anak den jo menan !! (MUSIK SALUANG)</p>
<p><strong>IPAH TERDUDUK LEMAS, MUNCUL SARI DENGAN EKSPRESI KEBINGUNGAN</strong></p>
<p><strong>FADE IN</strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">EXT.      RUMAH MARLENA &#8211; PAGI</span></strong></li>
</ol>
<p><strong>IPAH DAN SARI</strong></p>
<p><strong>Sari dan Ipah akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan merantau bersama Sari ketempat Hendra, calon suami Sari.</strong></p>
<p><strong>FADE IN</strong></p>
<ol>
<li><strong><span style="text-decoration:underline;">EXT.      PASAR PAYAKUMBUH</span></strong></li>
</ol>
<p><strong>MARLENA DAN PASALUANG</strong></p>
<p><strong>Marlena membawa bantal kecil, tas kecil dan tikar pandan yang di gulung, kemudian bergerak ke sentral, melebarkan tikar di lantai.duduk mengambil lipstik dan cermin kecil dari tasnya kemudian berhias dan kemudian basaluang.</strong></p>
<p>Marlena               :Aden nan badendang dalam saluang mengantarkan kaba, aden Nan dipilih sebagai buluh perindu, mengisi panggung penuh cerita. Di siko gurindam air mata nan perkasa, indak lai warnai panggung malam.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=62&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/11/62/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/marlena.jpg?w=231" medium="image">
			<media:title type="html">marlena</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSEP PENGARAHAN ACARA DALAM PRODUKSI VARIETY SHOW</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/11/konsep-pengarahan-acara-dalam-produksi-variety-show/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/11/konsep-pengarahan-acara-dalam-produksi-variety-show/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 09:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Pengarah Acara (P.A) merupakan salah satu profesi yang cukup menjadi perhatian dalam dunia Penyiaran Televisi. Karena sebuah produksi acara televisi tidak akan berjalan mulus apabila tidak mempunyai seorang pengarah acara. Terlebih jika dalam sebuah produksi variety show yang sangat komplit dengan beberapa program acara yang diusungnya. &#160; Seorang pengarah acara menjadi penentu arah produksi yang sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=55&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengarah Acara (P.A) merupakan salah satu profesi yang cukup menjadi perhatian dalam dunia Penyiaran Televisi. Karena sebuah produksi acara televisi tidak akan berjalan mulus apabila tidak mempunyai seorang pengarah acara. Terlebih jika dalam sebuah produksi variety show yang sangat komplit dengan beberapa program acara yang diusungnya.</p>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_56" class="wp-caption aligncenter" style="width: 280px"><a href="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/dsc_0316.jpg"><img class="size-medium wp-image-56" title="DSC_0316" src="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/dsc_0316.jpg?w=270&#038;h=180" alt="" width="270" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Dokumentasi Produksi &quot;Bingkai Tradisi&quot; - 2010</p></div>
<p>Seorang pengarah acara menjadi penentu arah produksi yang sedang ditangani, atau dengan kata lain pengarah acara sebagai komandan produksi acara televisi. Dengan predikat tersebut, seorang pengarah acara seharusnya memiliki kompetisi atau kriteria yang menjadikannya memang patut untuk menjadi leader sebuah produksi, yaitu sebagai berikut :<span id="more-55"></span></p>
<p>•Memiliki pengetahuan yang cukup tentang perencanaan dan produksi acara televisi<br />
•Memiliki wawasan yang luas (sehingga memiliki kemampuan konseptual)<br />
• Mampu menterjemahkan naskah kedalam bentuk visual</p>
<p>• Memahami Philosofis Gambar / Visual<br />
• Memahami Grammer of Edit<br />
• Berjiwa seni (pekerja televisi adalah perpaduan antara pekerja teknis dan artistik)<br />
• Mampu berkomunikasi dengan kelompok produksi (tentunya sesuai kaidah-kaidah pertelevisian)<br />
• Memiliki ketegasan<br />
• Memiliki Komitment yang jelas</p>
<p>Seorang pengarah acara pada sebuah produksi yang kecil akan sekaligus menjadi seorang produser yang bertugas untuk memutuskan gagasan dan konsep produksi yang akan dipakai untuk produksi acara televisi. Konsep acara yang akan diproduksi dimulai dari menentukan gagasan ide yang akan diproduksi. Bisa dirincikan kegiatan awal yang dilakukan untuk membuat konsep produksi adalah sebagai berikut :</p>
<p>Menghimpun dan meneliti gagasan</p>
<p>Pendekatan yang dipakai untuk membangun kesatuan acara</p>
<p>Pendekatan membangun pesan acara ( pendekatan isian dan pendekatan pengaruh sebab akibat )</p>
<p>Menyusun usulan acara</p>
<p>Merencanakan biaya</p>
<p>Sebuah produksi dimulai dari ide atau gagasan program acara yang akan diproduksi. Ide tersebut bisa datang dari siapa saja dan kapan saja, tetapi yang pasti ide atau gagasan yang diambil adalah telah melalui beberapa proses seperti berikut :</p>
<p>ü  Apakah gagasan itu menarik</p>
<p>Jika menarik, mengapa? Jika tidak menarik, mengapa?</p>
<p>ü  Seberapa jauh kekuatan (kemampuan) gagasan ini</p>
<p>Apakah gagasan ini benar-benar dianggap bernilai?</p>
<p>ü  Bila gagasan ini dikembangkan menjadi acara, manfaat apa yang didapatkan oleh pemirsa?</p>
<p>ü  Apa alasan-alasan untuk menyajikan gagasan ini, apa sasarannya?</p>
<p>ü  Bila gagasan ini dijadikan acara, apa masalah-masalah produksi yang harus dipertimbangkan</p>
<p>Seperti halnya kegiatan produksi dan penyajian acara merupakan suatu proses yang terkait (tidak bisa terputus). Dalam produksi variety show,  berbagai  item dan kegiatan akan menunjang keberhasilan produksi. Tetapi pada tahap ini setelah gagasan didapatkan, berikut yang harus dilakukan :</p>
<p>ü  Siapa orang-orang yang diperlukan ( kerabat kerja, narasumber,ahli, pengisi acara )</p>
<p>ü  Membagi pembagian kerja berdasarkan spesifikasi wilayah kerja masing-masing ( pembagian kerja pada variety show akan lebih komplit dibandingkan kerabat kerja pada produksi biasa, karena pada acara variety show terdapat minimal tiga item format acara. Hal ini menjadikan seorang pengarah acara harus detail dalam membagi kerabat kerja dan jobdiscriptionnya masing-masing ).</p>
<p>Setelah pembagian kerja dilakukan, tentunya gagasan ide produksi telah terlebih dahulu dipahami oleh kerabat kerja yang ada. Seorang pengarah acara variety show harus bisa memberikan suport dan motivasi kepada kerabat kerja. Dan pada tahap perumusan konsep acara, seorang pengarah acara harus menanamkan tujuan acara ini diproduksi, dan mengapa acara ini dibuat, serta pesan yang ingin disampaikan seperti apa dan khalayak yang menontonnya(sasaran penonton) sudah direncanakan pada tahap ini.</p>
<p>Seorang pengarah acara variety show harus bisa memimpin kerabat kerja didalam menentukan konsep acara yang terdiri dari :</p>
<p>Judul acara (seri )</p>
<p>Tujuan acara (pesan-proses)</p>
<p>Khalayak sasaran</p>
<p>Isian acara keseluruhan/ rincian item acara (segment per segment )</p>
<p>Kerangka acara (treatment )</p>
<p>Saluran dan penyiaran ideal</p>
<p>Biaya produksi</p>
<p>Jadwal produksi</p>
<p><strong>TUGAS DAN PERAN PENGARAH ACARA DALAM TAHAP-TAHAP PRODUKSI</strong></p>
<p>Menyandang predikat Pengarah Acara memiliki konsekuensi logis yang harus dipertanggung jawabkan, bukan hanya puas dengan predikat semata, apa lagi numpang ngetop saja. Seorang pengarah acara akan bekerja sebelum orang lain bekerja dan belum selesai kerja meskipun orang lain sudah selesai bekerja, karena dari empat tahapan produksi acara televisi, pengarah acara selalu terlibat didalamnya.</p>
<p>Empat Tahapan Produksi Acara Televisi / Prosedur kerja ( standar operation procedure )  itu meliputi<br />
1. Pre Production Planning</p>
<p>1). Pengembangan konsep</p>
<p>2). Menetapkan tujuan dan pendekatan produksi</p>
<p>3). Penulisan nasakah</p>
<p>4). Planning meeting dan semua anggota inti ( membicarakan project proposal )<br />
2. Setup dan Rehearsal</p>
<p>Setup/ persiapan produksi:</p>
<p>1). Penataan dekorasi (artistik)</p>
<p>2). Penataan cahaya</p>
<p>3). Penataan suara</p>
<p>4). Penataan video tape dan film playback (caption, kredit title, iklan, bumper, feature, berita)</p>
<p>Rehearsal/ latihan :</p>
<p>1). Dry rehearsal proses</p>
<p>2). Camera blocking</p>
<p>3). Run trough</p>
<p>4). Dress rehearsal</p>
<p>3. Production</p>
<p>Siaran berlangsung sesuai dengan program siaran yang dipilih, diantaranya:</p>
<p>1). Live on tape</p>
<p>2). Recording in segment</p>
<p>3). Single camera and single VTR</p>
<p>4). Multiple camera  and  Multiple VTR<br />
4. Post Production</p>
<p>1). Menghentikan kegiatan di studio rekaman</p>
<p>2). Editing video</p>
<p>3). Memperbaiki kualitas audio</p>
<p>4). Evaluasi program bersama dengan sample khalayak</p>
<p>Prosedur kerja pada saat pelaksanaan produksi tidak bersifat kaku, mengingat bahwa pelaksanaan produksi  kompleksitasnya tidak sama. Sehingga empat tahapan diatas tidak semuanya dilalui, disebabkan produksi dapat dilaksanakan dengan produksi rekaman atau produksi siaran langsung. Pada produksi rekaman tentu saja semua tahap produksi dilakukan, sebaliknya pada produksi siaran langsung ada tahapan yang tidak diperlukan, yaitu tahapan post production.</p>
<p>Konsep Pengarah Acara pada saat Pre Production lah yang akan menjadi dasar acuan kerabat kerja dalam melaksanakan produksi. Jadi dengan kata lain, Seorang Pengarah Acara harus sudah mempunyai bayangan acaranya akan menjadi seperti apa / bagaimana sebelum acara itu diproduksi.</p>
<p>Dengan adanya tahapan kegiatan produksi, semua anggota kerabat kerja produksi akan melakukan aktivitas disetiap tahapan yang berbeda,sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya. Dan seperti yang telah disebutkan diatas, untuk produksi kecil, peran produser dipegang oleh pengarah acara. Hal ini bisa dilihat dibawah ini :</p>
<p><strong>1. Tahap Pra Produksi</strong></p>
<p><strong> </strong>1). Mengembangkan konsep gagasan</p>
<p>2). Membuat rencana biaya produksi</p>
<p>3). Menentukan kerabat kerja dan jobdiscription</p>
<p>4). Mengadakan pembicaraan dengan penulis naskah</p>
<p>5). Memimpin dan mengkordinasi seluruh rencana produksi</p>
<p>6). Mengikuti dan mencatat hasil pertemuan perencanaan produksi</p>
<p>7). Melakukan pendekatan produksi</p>
<p>8). Bekerjasama dengan penulis naskah jika ada pengembangan naskah</p>
<p>9). Menentukan talent</p>
<p>10). Mendiskusikan hasil pendekatan produksi (tekhnik dan artistik ) dengan kerabat kerja produksi.</p>
<p>11). Merencanakan peralatan tambahan (pemanfaatan efek khusus ) dengan technical director.</p>
<p>12). Merencanakan bentuk pengambilan gambar dan gerakan kamera dalam bentuk recording plan.</p>
<p>13). Memimpin kerabat kerja dalam mempersiapkan bahan-bahan materi untuk produksi</p>
<p>14). Mengevaluasi semua kebutuhan materi acara</p>
<p><strong>2. Tahap Setup dan Rehearsal</strong></p>
<p><strong> </strong>1). Memimpin pertemuan produksi dan latihan dengan dibantu Floor Director</p>
<p>2). Mengarahkan dan melatih pengisi acara</p>
<p>3). Mengarahkan dan melatih pengambilan gambar ( camera blocking )</p>
<p>4). Mengintegrasikan unsur-unsur pendukung produksi kedalam suatu tontonan yang terkendali.<strong> </strong></p>
<p><strong>3. Produksi</strong></p>
<p><strong> </strong>1). Memimpin rangkaian kegiatan dibantu Floor Director</p>
<p>2). Melakukan kordinasi dengan stasiun penyiaran untuk promo on air</p>
<p><strong>4. Pasca Produksi</strong></p>
<p><strong> </strong>1). Sebelum pelaksanaan editing, terlebih dahulu melakukan editing image</p>
<p>2). Memimpin pelaksanaan penyuntingan</p>
<p>3). Menentukan pemakaian ilustrasi musik dan jenis huruf dalam pelaksanaan proses mixing.</p>
<p><strong>TUGAS DAN PERAN FLOOR DIRECTOR DALAM TAHAP-TAHAP PRODUKSI</strong></p>
<p>Floor Director merupakan pimpinan alias bos di studio, di beberapa stasiun televisi dan <em>production house,</em> Floor Director biasa juga disebut sebagai Floor Manager. Floor Director adalah kepanjangan tangan dari Pengarah acara. Floor Director mendengarkan perintah PA melalui sistem komunikasi intercom dari control room. Ibarat anggota tubuh, seorang FD menjadi telinga, mata, dan mulut seorang PA. Tugas utama seorang Floor Director adalah berkomunikasi dengan talent/pengisi acara. Dalam acara siaran langsung di studio, FD memiliki otoritas terakhir.</p>
<p>Sebelum produksi dimulai alias di pra produksi, seorang Floor Director harus memahami rundown terlebih dahulu. Jika ada perubahan dalam rundown, maka sebagai pemimpin di studio, FD harus segera mengkomunikasikannya dengan seluruh kru yang ada di studio. Juga jika ada perubahan yang melibatkan pengisi acara misalnya, maka FD secepat mungkin memberitahukan pada pengisi acara tersebut. <em>Andrew Utterback </em>dalam bukunya <em>Studio-Based Television Production and Directing, </em>menyarankan agar seorang FD memiliki semua pengetahuan hal teknis yang ada di studio, karena jika diperlukan FD bisa ”menggantikan” posisi tersebut.</p>
<p><strong>FD dengan Crew di Studio</strong></p>
<p>Komunikasi antar FD dan talent harus terjalin sejak sebelum produksi dan ketika produksi itu berlangsung. Misalnya ketika talent sudah berada di posisi yang baik, FD harus meyakinkan bahwa posisi <em>clip on</em> yang dikenakan talent sudah terpasang dengan baik. Atau ketika pengisi acara ”salah melihat kamera” maka FD harus segera memberitahukan talent tersebut untuk melihat ke arah kamera yang diinginkan. FD harus berperan aktif agar pengisi acara merasa nyaman dan akhirnya terlihat baik ketika berinteraksi dengan kamera. Ketika talent sudah berada pada <em>blocking set</em>, FD selalu berkomunikasi dengan crew yang ada di studio jika misalnya ada perubahan blocking pada talent.</p>
<p>Jika pada saat produksi belum berlangsung, FD bisa memberikan arahan dengan bahasa verbal, maka tidak halnya ketika produksi berlangsung. FD memberitahukan semua perintahnya dengan <em>cue</em> alias tanda. Memberitahu tanda atau isyarat pada para pemain dan kru di studio harus dilakukan seefisien mungkin, sehingga talent dan juga crew faham betul dengan isyarat yang diberikan FD.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Command Hand </strong><strong> </strong></p>
<p>Bahasa non verbal, seperti isyarat tangan, banyak dilakukan oleh Floor Director untuk memberi isyarat, baik pada crew yang ada di studio maupun pada para pengisi acara atau talent. Command hand sudah sangat lazim dipergunakan dalam produksi acara televisi di studio, bahkan command hand sudah menjadi kesepakatan umum di stasiun televisi mana saja.</p>
<p>Berikut peran floor director dalam tahap-tahap produksi variety show :</p>
<ol>
<li><strong>Tahap Pra Produksi</strong></li>
</ol>
<p>1).Mengikuti setiap pertemuan sehingga paham naskah dan rundown acara</p>
<p>2). Selalu berkomunikasi dengan Pengarah Acara terhadap perubahan naskah.</p>
<p>3). Menjalin komunikasi dengan talent ( mengikuti latihan yang dilakukan PA dengan talent pada saat pra produksi )</p>
<ol>
<li><strong>Setup dan Rehearsal</strong></li>
</ol>
<p>1). Bertanggungjawab penuh terhadap kegiatan di studio</p>
<p>2). Bertindak selaku pengarah acara ( melihat dan mendengar ) apa yang terjadi di lantai studio saat latihan maupun produksi</p>
<p>3). Melanjutkan aba-aba ke pengisi acara yang datangnya dari pengarah acara</p>
<p>4). Bertanggungjawab terhadap properti dan kostum selama latihan</p>
<p>5). Mencatat dan mengatur rundown acara</p>
<p><strong>3. produksi</strong></p>
<p>1). Bertanggungjawab penuh terhadap kegiatan di studio</p>
<p>2). Bertindak selaku pengarah acara ( melihat dan mendengar ) apa yang terjadi di lantai studio saat latihan maupun produksi</p>
<p>3). Melanjutkan aba-aba ke pengisi acara yang datangnya dari pengarah acara</p>
<p>4). Mencatat dan mengatur rundown acara</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Janganlah puas dengan predikat Pengarah Acara apabila belum mampu membuat suatu acara yang bisa dipahami oleh orang buta dan orang tuli. Seorang PA seharusnya mampu menyampaikan isi pesan acara itu melalui visualisasi untuk orang tuli, dan menyampaikan isi pesan dalam bentuk suara buat orang yang buta. Karena Televisi adalah media Audio Visual maka singkronisasi antara keduanya haruslah menjadi perhatian seorang Pengarah Acara.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka dan Refrensi</strong></p>
<ol>
<li>S.H Sukanto, “PROSES PRODUKSI TELEVISI DAN PERAN      PENGARAH ACARA “ : Fakultas Film &amp; TV Institut Kesenian Jakarta, 1994.</li>
<li><a href="http://bahanskripsi.com/index.php/download-skripsi-full-content-gratis/98-skripsi-lengkap-jurusan-informatika/180-fungsi-pengarah-acara-dalam-produksi-acara-televisi.html">http://bahanskripsi.com/index.php/download-skripsi-full-content-gratis/98-skripsi-lengkap-jurusan-informatika/180-fungsi-pengarah-acara-dalam-produksi-acara-televisi.html</a></li>
<li><a href="http://edwi.dosen.upnyk.ac.id/">Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id</a></li>
<li>Website pusat pengembangan bahan ajar-UMB,      Drs. Joni Arman. News&amp;Cuurent Affair Production</li>
<li>Website pusat pengembangan bahan ajar-UMB,      Drs. Morissen SH, MA. Programming Televisi.</li>
<li>www. Dikiumbara.wordpress.com</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=55&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/11/konsep-pengarahan-acara-dalam-produksi-variety-show/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/dsc_0316.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_0316</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“PERAN INDIVIDU SEBAGAI SDM KREATIF DALAM PRODUKSI PROGRAM TELEVISI”</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/10/%e2%80%9cperan-individu-sebagai-sdm-kreatif-dalam-produksi-program-televisi%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/10/%e2%80%9cperan-individu-sebagai-sdm-kreatif-dalam-produksi-program-televisi%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 19:42:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Produksi Televisi Sebagai Proses Kreatif Produksi televisi adalah proses kreatif yang kompleks. Dimana orang dan peralatan berinteraksi sedemikian rupa. Dan sudah menjadi sifat televisi, memerlukan sumber daya manusia yang kreatif untuk mengekspresikan suatu gagasan atau pesan dengan cara kerjasama tim kerabat kerja dan pengoperasian peralatan yang rumit untuk menghasilkan acara dalam memenuhi tuntutan khalayak. Menyelenggarakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=48&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Produksi Televisi Sebagai Proses Kreatif</strong></p>
<p>Produksi televisi adalah proses kreatif yang kompleks. Dimana orang dan peralatan berinteraksi sedemikian rupa. Dan sudah menjadi sifat televisi, memerlukan sumber daya manusia yang kreatif untuk mengekspresikan suatu gagasan atau pesan dengan cara kerjasama tim kerabat kerja dan pengoperasian peralatan yang rumit untuk menghasilkan acara dalam memenuhi tuntutan khalayak.</p>
<div id="attachment_49" class="wp-caption aligncenter" style="width: 461px"><a href="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/dsc_1115.jpg"><img class="size-large wp-image-49" title="DSC_1115" src="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/dsc_1115.jpg?w=451&#038;h=303" alt="" width="451" height="303" /></a><p class="wp-caption-text">Rapat produksi  pada &quot;Bingkai Tradisi&quot;</p></div>
<p>Menyelenggarakan siaran televisi pada hakekatnya adalah berkomunikasi menggunakan media televisi. Sedangkan komunikasi yang efektif optimal <span id="more-48"></span>tidak akan didapat sebelum dipahami kemampuan dan kelemahan media bersangkutan yaitu peralatan dan cara penggunaannya sesuai kaidah komunikasi yang berlaku. Penanganan operasi peralatan oleh kerabat tekhnik atau kerabat seniman selalu berunsur kreatif, dan akan tampak dan disadari nilai seninya bila mampu memilih alat-alat yang tepat diperlukan dan dioperasikan sesuai spesifikasinya.</p>
<p>Menciptakan kreasi audio visual dengan maksud bertutur cerita atau menyampaikan pesan dalam bentuk pertunjukan gambar hidup sudah terbiasa dilakukan dengan film secara teatrikal jauh sebelum dimulai era televisi. Kesamaan tujuan menciptakan pertunjukan gambar bergerak membuat banyak diangkatnya ketentuan dan cara-cara kerja produksi sinematografi dalam kebiasaan cara kerja produksi televisi. Dan tidak mengherankan timbulnya pendapat kontroversial memasalahkan batasan-batasan perbedaan sifat-sifat, kemampuan media, tujuan dan dampak pertunjukan film sinematik teatrikal ataupun pertunjukan acara siaran televisi.</p>
<p>Perkembangan teknologi membuat televisi menjadi suatu industri penyiaran dengan dampak ampuh secara instant bagi khalayak yang tersebar tanpa batas geografis. Dengan keampuhan daya mencapai khalayak luas sekaligus berbagai strata masyarakat. Timbul berbagai usaha penyelenggaraan televisi khusus, seperti dalam bidang niaga, hiburan dan pendidikan selain penyiaran televisi untuk publik. Dan perkembangan penyiaran dengan tujuan spesifik ini membuat lebih terpacunya kreatifitas menciptakan bentuk-bentuk lain acara siaran. Dalam jangka lanjutnya timbul kebutuhan menciptakan sistem manajemen pengadaan acara yang lebih menjamin kesinambungan penyiaran dengan acara-acara yang lebih tepat mengena pada khalayak sasarannya.</p>
<p><strong>Pelaksanaan Produksi Televisi Sebagai Suatu Team</strong></p>
<p>Pelaksanaan produksi televisi sebagai suatu team memerlukan kerjasama yang baik antara anggota kerabat kerja staf produksi, teknik, seniman dan pemain atau pengisi acara.</p>
<p>Team produksi televisi terdiri dari dua kelompok besar:</p>
<ol>
<li>KERABAT      STAF PRODUKSI (kerabat staf produksi bukan teknik ), terutama      mempertanggungjawabkan isi dan penyelenggaraan acara.</li>
<li>KERABAT      TEKNIK ( kerabat operasional peralatan teknik produksi, terdiri dari      orang-orang yang berkecimpung dalam pengoperasian perangkat keras produksi      dan berbagai peralatan produksi lainnya).</li>
</ol>
<p>Sudah tidak dipertanyakan lagi bahwa anggota kedua kelompok ini memberikan sumbangan keahlian tekhnik, karya kesenimanan dengan terampil, kreatifitas dan imajinasi yang diperlukan demi keberhasilan pertunjukan.</p>
<p>Tiap pelaksanaan produksi memerlukan bakat dan keterampilan khusus. Pada studio-studio yang besar, pekerjaan-pekerjaan tertentu dilakukan oleh ahli ( specialist ). Tetapi pada stasiun2 televisi yang relatif lebih kecil seseorang anggota kerabat kerja bisa saja dibebani beberapa tugas dan tanggungjawab sekaligus. Seperti contoh, tidak jarang seorang penata artistik juga harus menangani pencahayaan atau juga harus menangani switcher. Pada intinya, apapun pekerjaan tambahan atau bantuan yang dikerjakan, tiap anggota kerabat kerja mempunyai fungsi-fungsi pokoknya.</p>
<p><strong>Satuan Kerja Produksi</strong></p>
<p>Dan untuk membuat suatu format acara televisi yang nantinya bisa menjadi suatu acara televisi bermutu dan berbobot, diperlukan suatu satuan kerja produksi yang handal. Penayangan sebuah program acara televisi bukan hanya tergantung pada konsep penyutradaraannya saja atau kreatifitas penulisan naskah, melainkan sangat bergantung pada kemampuan profesionalisme dari seluruh kelompok kerja di dunia broadcast dengan seluruh mata rantai divisinya. Dalam memproduksi suatu televisi diperlukan suatu kerjasama yang profesional antar setiap divisi satuan kerja produksi, agar dapat menyajikan sebuah acara televisi yang dapat memberikan informasi dan hiburan untuk pemirsa televisi.</p>
<p>Meskipun satuan kerja produksi bekerja dibidang tugas yang berbeda, tetapi semuanya hanya mempunyai satu tujuan; yaitu menghasilkan karya produksi yang akan digunakan sebagai acara siaran dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Karena itu sebelum melangkah kepelaksanaan produksi semua anggota kerabat kerja harus mendapat informasi yang secukupnya, sehingga semua kegiatan yang mereka lakukan sesuai dengan rencana produksinya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Leader Sebuah Program Produksi Televisi</strong></p>
<p>Oleh karena itu menjadi penting bilamana dalam satuan kerja produksi terdapat seorang pengarah acara yang bertindak sebagai pemimpin dan panutan dari seluruh kerabat kerjanya, sekaligus dapat mengarahkan segala pandangan kreativitasnya kepada seluruh kerabat kerjanya, agar dalam memproduksi sebuah acara televisi dapat secara benar memenuhi selera, keinginan dan kebutuhan pemirsa televisi.</p>
<p>Karena sebuah produksi program televisi merupakan kerja kolektif. Setiap kerabat kerja produksi menyumbangkan keahlian masing-masing sesuai terjemahan visi pengarah acara terhadap naskah dibawah komando sutradara dan produser.</p>
<p>Kemampuan dalam menterjemahkan visi tersebut merupakan kunci keberhasilan pembuatan program televisi. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan masing-masing kerabat kerja dan masing-masing divisi dalam menterjemahkan visi produksi itu sendiri. Kunci keberhasilan pembuatan sebuah program bermuara disini. Sehebat apapun visi yang diajukan sutradara pada sebuah produksi, hasil akhirnya adalah sebuah gabungan kreatif banyak pihak. Pada prinsipnya setiap kreatifitas diakomodasi dalam sebuah “proses kreatif” yang dieksekusi oleh Pengarah Acara melalui “ACTION” sebagai kata kunci. Karena kreativitas muncul dengan adanya kebiasaan yang kontinyu, dengan kata lain kreatifitas muncul dengan proses belajar melalui referensial dan praktis. Sementara untuk menjaga kreatifitasnya, sebuah kru produksi televisi harus tetap bisa menjaga kreatifitas dan daya inovasi dengan rasa humor yang tinggi. <strong> </strong></p>
<p><strong>Pentingnya Manajemen SDM  Produksi Televisi</strong></p>
<p>Stasiun televisi membutuhkan sumberdaya manusia yang cukup banyak. Begitu pula dalam organisasi kerabat kerja sebuah program produksi yang semuanya bekerja sebagai satu kesatuan tim. Pada kenyataannya memang dibutuhkan banyak orang-orang untuk menayangkan suatu program acara produksi televisi. Fungsi setiap orang itu seperti mata rantai atau bagian dari mata rantai yang panjang.</p>
<p>Sehingga dalam satuan kerja produksi televisi yang terdiri dari banyak orang dibutuhkan adanya manajemen yang bagus untuk mengkordinir kru selain dari adanya seseorang yang menjadi leader produksi.</p>
<p>Manajemen produksi tidak hanya menjadi tanggung jawab pengarah acara saja, melainkan manajemen yang dimaksud disini adalah manajerial keseluruhan tim produksi agar sebuah produksi televisi dapat berjalan sempurna sesuai rancangan awalnya.</p>
<p>Manajerial produksi yang berfungsi untuk mengatur keseluruhan tim dan produksi tidak hanya terdiri dari satu atau dua orang. Apalagi untuk sebuah produksi skala besar. Pada dasarnya manajerial produksi televisi terdiri dari Produser dan Manajer Produksi. Dan pekerjaan dua orang inilah yang nantinya akan dibagi lagi menjadi beberapa bagian didalam sebuah produksi televisi. Yaitu produser dibagi lagi menjadi Executiv Producer, Associate Producer, Producer, Line Producer, sedangkan seorang manajer produksi dibagi menajdi Assisten Unit Produksi, Sekretaris Produksi, dan Sutradara.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari rangkaian proses produksi yang terdiri dari pra produksi, produksi dan Post Produksi diperlukan orang-orang yang bekerja secara tanggungjawab sesuai jobdiscriptionnya masing-masing. Sehingga sumberdaya manusia kreatif yang dikordinir oleh sebuah manajemen yang bagus akan menghasilkan sebuah produksi yang berhasil.  Dalam artian, setiap bagian pekerjaan(sekecil apapun itu) dari setiap individu yang terdapat dalam suatu produksi televisi mempunyai peran penting untuk terciptanya sebuah acara yang bermutu tinggi.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka dan Refrensi</strong></p>
<ol>
<li>S.H Sukanto, “PROSES PRODUKSI TELEVISI DAN PERAN      PENGARAH ACARA “ : Fakultas Film &amp; TV Institut Kesenian Jakarta, 1994.</li>
<li><a href="http://bahanskripsi.com/index.php/download-skripsi-full-content-gratis/98-skripsi-lengkap-jurusan-informatika/180-fungsi-pengarah-acara-dalam-produksi-acara-televisi.html">http://bahanskripsi.com/index.php/download-skripsi-full-content-gratis/98-skripsi-lengkap-jurusan-informatika/180-fungsi-pengarah-acara-dalam-produksi-acara-televisi.html</a></li>
<li><a href="http://edwi.dosen.upnyk.ac.id/">Http://edwi.dosen.upnyk.ac.id</a></li>
<li>Website pusat pengembangan bahan ajar-UMB,      Drs. Joni Arman. News&amp;Cuurent Affair Production</li>
<li>Website pusat pengembangan bahan ajar-UMB,      Drs. Morissen SH, MA. Programming Televisi.</li>
<li>www. Dikiumbara.wordpress.com</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=48&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/10/%e2%80%9cperan-individu-sebagai-sdm-kreatif-dalam-produksi-program-televisi%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mimpinda.files.wordpress.com/2010/04/dsc_1115.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">DSC_1115</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEMIOTIKA : Pada Iklan</title>
		<link>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/10/semiotika-pada-iklan/</link>
		<comments>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/10/semiotika-pada-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 18:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mimpinda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mimpinda.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Ini tugas semiotika saya pada ujian semiotika semester V kemaren. Saya Share untuk berbagi dengan kawan-kawan. Sunber nya pada waktu itu lumayan banyak, saya lupa mencatatnya selamat mengapresiasi PENDAHULUAN Masalah periklanan tampaknya tetap menyimpan misteri, mistik dan kontradiktif. Tidak sedikit orang percaya bahwa iklan memiliki kekuatan luar biasa, melalui sebuah mekanisme yang disebut subliminal (bawah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=41&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ini tugas semiotika saya pada ujian semiotika semester V kemaren. Saya Share untuk berbagi dengan kawan-kawan. Sunber nya pada waktu itu lumayan banyak, saya lupa mencatatnya <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">selamat mengapresiasi <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Masalah periklanan tampaknya tetap menyimpan misteri, mistik dan kontradiktif. Tidak sedikit orang percaya bahwa iklan memiliki kekuatan luar biasa, melalui sebuah mekanisme yang disebut subliminal (bawah sadar). Untuk memaksimalkan efektivitas iklan, pihak pengiklan berlomba-lomba untuk mengembangkan gaya yang unik, namun kreativitas tidak akan cukup tanpa didasari oleh informasi yang tepat tentang keadaan lingkungan sosial budaya di mana iklan itu akan disebarluaskan. Tidak sedikit iklan dengan budget besar gagal karena kreativitas yang salah, isi pesan ternyata berbenturan kondisi penerimanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Keberhasilan dari suatu perekonomian secara nasional banyak ditentukan oleh kegiatan-kegiatan<span id="more-41"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">periklanan, periklanan menunjang usaha penjualan yang menentukan kelangsungan produksi pabrik-pabrik, terciptanya lapangan pekerjaan, serta adanya hasil yang menguntungkan dari seluruh uang yang telah diinvestasikan. Apabila proses ini terhenti, maka terjadilah resesi. Hal ini dibuktikan oleh</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">kenyataan bahwa negara-negara maju senantiasa disemarakkan oleh kegiatan-kegiatan periklanan yang gencar. Sedangkan di negara-negara dunia ketiga, di mana dasar perekonomiannya masih lemah dan kegiatan periklanannya masih berada dalam taraf minimum, lapangan kerja begitu sulit di dapat sehingga begitu banyak kaum muda yang potensial tidak dapat menemukan sumber nafkah. Kehidupan modern saat ini sangat tergantung pada iklan. Tanpa iklan para produsen dan distributor tidak akan dapat menjual barangnya, sedangkan di sisi lain konsumen tidak memiliki informasi yang memadai mengenai produk-produk barang dan jasa yang tersedia di pasar. Jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan tingkat keuntungannya, maka ia harus melangsungkan kegiatan-kegiatan periklanan secara memadai dan terus menerus. Produksi massal menuntut adanya suatu tingkat konsumsi yang juga bersifat massal dan prosesnya mau tidak mau harus melibatkan berbagai kegiatan periklanan melalui media-media iklan yang diarahkan ke pasar-pasar yang juga bersifat massal.<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong>SEMIOTIKA </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Semiotika berasal dari bahasa Yunani“<em>semeion</em>” yang berarti tanda, semiotika diartikan sebagai ilmu tanda, dengan tanda kita mencari keteraturan di pentas dunia. Tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya mencari dan menemukan jalan di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia (Sobur, 2003 : xxi). Menurut Ferdinand de Soussure, semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (2003 : vii). Sedangkan menurut Umberto Eco dalam <em>A</em> <em>Theory of Semiotics</em>, semiotika komunikasi adalah semiotika yang menekankan pada aspek produksi tanda dari pada sistem tanda. Sebagai sebuah mesin produksi makna, semiotika komunikasi bertumpu pada pekerja tanda, yang memilih tanda dari bahan baku t a n d a &#8211; tanda  yang ada dan mengkombinasikannya dalam rangka memproduksi sebuah bahasa bermakna. Istilah semiotika atau semiotik yang dimunculkan pada akhir abad ke –19 oleh filsuf aliran pragmatik Amerika, Charles Sanders Pierce, merujuk kepada “doktrin formal tentang tanda-tanda”. Yang menjadi dasar semiotika adalah konsep tentang tanda, tak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiri pun-sejauh terkait dengan pikiran manusia seluruhnya terdiri atas tanda-tanda karena jika tidak begitu, manusia tidak akan bisa menjalin hubungannya dengan realitas. Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda yang paling fundamental bagi manusia, sedangkan tanda nonverbal seperti gerak-gerik, bentuk-bentuk pakaian serta beraneka praktek konvensional lainnya, dapat dipandang sebagai sejenis bahasa yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan relasi-relasi. Menurut Littlejohn (1996 : 64), tanda adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Menurut Jakobson (Hoed, 2001 : 140), semiotika terdiri dari dua jenis yaitu semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Yang pertama menekankan kepada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu pengirim, penerima, pesan, saluran, dan acuan. Yang kedua memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. Pada jenis kedua tidak diutamakan tujuan berkomunikasi tapi pemahaman suatu tanda sehingga kognisinya pada penerima tanda lebih diperhatikan dari pada proses komunikasinya. Pada dasarnya semiotika dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat digambarkan sebagai hubungan antara lima istilah :</p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="border:medium none;margin-left:1.3pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height:21.05pt;">
<td style="border:1pt solid windowtext;width:110.45pt;height:21.05pt;padding:0 5.4pt;" width="147" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong>S ( s, i, e, r, c )</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">S adalah untuk <em>semiotic relation </em>(hubungan semiotik), s untuk <em>sign </em>(tanda), I untuk <em>interpreter</em> (penafsir), e untuk <em>effect </em>atau pengaruh, r untuk <em>reference </em>(rujukan) dan c untuk <em>context </em>(konteks) atau <em>conditions </em>(kondisi). Semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong>PEMAHAMAN MENGENAI PERIKLANAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em>Advertising </em>berasal dari bahasa Latin <em>advertere </em>yang berarti <em>to run toward </em>atau dalam<em> </em>terjemahan fungsional berarti sasaran iklan<em> </em>adalah mengubah jalan pikiran konsumen<em> </em>untuk membeli Kasali, 1993 : 10). AMA<em> </em>(<em>American Marketing Association</em>)<em> </em>mendefinisikan iklan sebagai <em>any paid form of</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em>non personal presentation and promotion of ideas, goods or services by an identified sponsor</em>,<em> </em>sedangkan Masyarakat periklanan Indonesia<em> </em>mendefinisikan iklan sebagai segala<em> </em>bentuk pesan tentang suatu produk yang<em> </em>disampaikan lewat media, ditujukan kepada<em> </em>sebagian atau seluruh masyarakat (Kasali,<em> </em>1993 : 11).<em> </em>Periklanan dapat didefinisikan juga sebagai<em> </em>komunikasi yang disponsori, yang ditempatkan<em> </em>di media massa dengan bayaran tertentu<em> </em>(Keegan,1996). Hal ini seiring dengan pendapat<em> </em>Kleppner (1990), periklanan adalah suatu<em> </em>metode penyampaian pesan dari suatu sponsor<em> </em>melalui medium impersonal (bukan tatap<em> </em>muka kepada banyak orang). Iklan merupakan<em> </em>bagian yang pokok dari hampir setiap rencana<em> </em>pemasaran. Anda memiliki suatu produk yang<em> </em>sangat dicari-cari publik, sesuatu yang benar-benar<em> </em>dibutuhkan. Namun jika Anda tidak<em> </em>mengatakan kepada mereka bahwa produk<em> </em>tersebut ada, apa kegunaannya bagi mereka<em> </em>dan bagaimana cara mendapatkannya, Anda<em> </em>juga tidak perlu susah memproduksinya. Hal<em> </em>ini mungkin tampak terbukti dengan sendirinya,<em> </em>tetapi mengejutkan betapa begitu banyak<em> </em>orang percaya bahwa produk yang baik akan<em> </em>menjual sendiri. Apakah iklan Anda sederhana<em> </em>atau canggih, apakah Anda menggunakan<em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">beberapa media atau hanya satu atau dua, itu akan bergantung pada produk dan pasar Anda. Namun, ada sedikit sekali bisnis yang dapat mencapai potensi penuh mereka tanpa iklan sama sekali.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Ada banyak alasan untuk membuat iklan, menurut Bennie (1997) beberapa alasan terpenting orang membuat iklan adalah :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">1. Untuk mengumumkan suatu produk baru atau modifikasi dari produk lama</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">2. Untuk mencapai pembeli-pembeli baru</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">3. Untuk mengumumkan penjualan obral atau penawaran istimewa</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">4. Untuk mengundang para peminta keterangan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">5. Untuk mengundang penjual</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">6. Untuk mempertahankan penjualan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">7. Untuk tetap berada di depan dan kompetisi</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Sebagian besar bisnis memasang iklan untuk berbagai alasan (kombinasi) dan mungkin dengan kombinasi berbagai jenis iklan. Misalnya suatu perusahaan hanya mengiklankan penjualan obral atau penawaran istimewa, Anda dapat mengubah citra Anda, publik cenderung menghubungkan Anda dengan citra penawaran istimewa bukan de-ngan kualitas yang Anda tawarkan. Dari perspektif komunikasi iklan merupakan salah satu sarana komunikasi yang digunakan produsen dalam dunia perdagangan terhadap konsumen, untuk memperoleh lebih banyak calon pembeli dengan biaya lebih rendah, dalam waktu yang lebih singkat. Sedangkan pengaruhnya akan melekat lebih lama pada ingatan pemirsa (Sudiana, 1986). Pembicaraan seputar manfaat iklan masih mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian menganggap iklan negatif, sebagian yang lain menganggap iklan bermanfaat bagi pembangunan masyarakat dan ekonomi, Menurut Kasali (1992 : 12) manfaat iklan adalah sebagai berikut :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">1. Dapat mengetahui adanya berbagai produk, yang pada giliranya dapat menimbulkan  adanya pilihan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">2. Iklan membantu produsen menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya. Iklan yang tampil secara gagah di hadapan masyarakat dengan ukuran besar dan logo yang cantik pembangkit kepercayaan yang bonafiditas perusahaan dan mutu produk yang ditawarkan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">3. Iklan membantu orang kenal, ingat, dan percaya diri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Di lihat dari segi omzet belanja iklan, bisnis di bidang ini masih merupakan kesempatan besar. Belanja iklan tahun 1994 akan mencapai kurang lebih 1,66 Trilyun Rupiah. Apabila termasuk industri penunjang iklan seperti rumah produksi dan jasa pembuatan film-film pendek (video klip), proyek tersebut akan menjadi 2,3 Trilyun Rupiah. Menurut Jules Backman dalam <em>Advertising And Competition</em> (1967) : Sesungguhnya iklan tidak akan memeras perekonomian dan memboroskan kehidupan konsumen. Iklan justru akan mampu mengembangkan serta mensejahterakan mereka. Pemasaran produk konsumen lebih memerlukan iklan untuk media komunikasi apabila dibandingkan dengan pemasaran produk industri. Produk yang sering dibeli, harganya relatif rendah memerlukan dukungan periklanan yang kuat. Tidak mengherankan perusahaan produk konsumen terdaftar sebagai pemasang iklan terbesar. Menurut Advertising Age (1989), Procter &amp; Gamble mengeluarkan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">US$ 2,7 Milyar untuk periklanan di seluruh dunia dan 34% diantaranya untuk iklan di luar Amerika Serikat, kemudian Philip Morris mengeluarkan US$ 2 Milyar untuk periklanan di seluruh dunia dan 17% diantaranya untuk iklan di luar Amerika Serikat, dan Unilever perusahaan di luar Amerika Serikat mengeluarkan US$ 1,7 Milyar untuk iklan di seluruh dunia dan 34% diantaranya untuk iklan di Amerika Serikat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>SEMIOTIKA PADA PERIKLANAN </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Alat dalam komunikasi periklanan selain bahasa, terdapat alat komunikasi lainnya yang sering dipergunakan yaitu  gambar, warna dan bunyi. Untuk mengkaji  iklan dalam perspektif semiotika, kita bisa mengkajinya melalui sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang baik verbal maupun berupa ikon. Pada dasarnya lambang yang digunakan dalam iklan terdiri dari dua jenis yaitu verbal dan nonverbal. Lambang verbal adalah bahasa yang kita kenal, lambang nonverbal adalah bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan yang tidak secara meniru rupa atas bentuk realitas. Ikon adalah bentuk dan warna yang serupa atau mirip dengan keadaan sebenarnya seperti gambar benda, orang atau binatang (Sobur, 2003 : 116). Kajian sistem tanda dalam iklan juga mencakup objek. Objek iklan adalah hal yang diiklankan. Dalam iklan, produk atau jasa itulah objeknya. Yang penting dalam meneelaah iklan adalah penafsiran kelompok sasaran dalam proses interpretan. Jadi sebuah kata seperti eksekutif meskipun dasarnya mengacu pada manajer  menengah, tetapi selanjutnya manajer menengah ini ditafsirkan “suatu tingkat keadaan ekonomi tertentu” yang juga kemudian ditafsirkan sebagai “gaya hidup” tertentu yang selanjutnya ditafsirkan “kemewahan” dan seterusnya. Penafsiran yang bertahap ini merupakan segi penting dalam iklan, proses seperti ini disebut <em>Semiosis </em>(Hoed, 2001 : 97). Menurut Berger (2000 : 199), bila akan menganalisis iklan kita harus mengambil iklan dengan orang, objek, latar belakang menarik, naskah yang menarik. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis iklan :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">1. Penanda dan petanda</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">2. Gambar, indeks dan simbol</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">3. Fenomena sosiologi, demografi orang dalam iklan dan orang-orang yang menjadi sasaran iklan, refleksikan kelas-kelas sosial ekonomi, gaya hidup dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">4. Sifat daya tarik yang dibuat untuk menjual produk, melalui naskah dan orang-orang yang dilibatkan dalam iklan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">5. Desain dari iklan, termasuk tipe perwajahan yang digunakan, warna dan unsur estetik yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">6. Publikasi yang ditemukan di dalam iklan dan khayalan yang diharapkan oleh publikasi tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong>SEMIOTIKA PADA IKLAN SUNSILK</strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>IKLAN SUNSILK MALAYSIA VERSI SUNSILK      SEGAR MURNI</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;">Iklan yang berdurasi 59 detik ini bercerita mengenai seorang mahasiswi berjilbab yang awalnya <em>agak gerah</em> dengan rambutnya. Ia diam-diam menyukai seorang teman mahasiswanya, namun tidak percaya diri. Dan ketika melihat bacaan mengenai arti penting dan manfaat jeruk nipis untuk kulit kepala membuatnya menggunakan sampo sunsilk jeruk nipis yang botolnya berwarna hijau. Dan setelah memakai sampo ini si mahasiswi pun menemukan kesegaran di kulit kepalanya yang selalu mengenakan jilbab. Setelah menemukan kesegaran dikulit kepalanya, kepercayaan diri pun tumbuh pada dirinya sehingga ia menjadi percaya diri untuk berdekatan dengan mahasiswa yang disukainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;">Dari pembahasan diatas mengenai semiotika periklanan, banyak bahasa gambar dan bahasa tanda yang bisa kita uraikan menjadi beberapa bagian diantaranya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa visual</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Bahasa visual yang ditampilkan dalam iklan ini diuraikan pada beberapa item yang mengandung konotasi visual. Jika dilihat dari lokasi kejadian adalah di sebuah perpustakaan kampus. Perpustakaan(sebagai tanda) yang berarti pendidikan. Pendidikan merujuk pada kaum terpelajar, yang artinya sasaran pemakai produk ini adalah kaum terpelajar dan berpendidikan bagus. Lalu item kedua dengan menampilkan tokoh utama seorang mahasiswi cantik yang mengenakan kerudung. Kerudung berarti simbol agama islam (tanda). Yang merujuk kepada seorang muslimah yang tetap menggunakan kerudung walaupun mengiklankan produk sampo. Tetapi lewat bahasa gambar yang tepat, rambut tokoh utama pun tidak dilihatkan. Hal ini berarti bahwa dengan berjilbab atau memakai kerudungpun, memilih sampo yang tepat juga sangat diperlukan. Dan sunsilk jeruk nipis memahami kebutuhan perempuan berjilbab. Dan jika dilihat dari unsur sosial atau kultur budaya tempat produk ini dipasarkan, yaitu Malaysia, dimana sangat ingin menciptakan image keislaman negerinya dan dimana rata-rata perempuan memakai kerudung. Disamping memang hukum pemerintahannya memakai hukum islam. Iklan ini jika dikaitkan dengan perekonomian dan sosial kultur  akan menjadi satu kesatuan yang utuh, dalam artian, iklan ini menempatkan bahasa gambar yang tepat terhadap pangsa pasar yang tepat pula. Selain dari simbol agama yang ditampilkan, iklan ini secara bahasa gambar yang menampilkan kepercayaan diri tokoh utama hadir setelah menggunakan sampo ini. Dan kisah pertemanan sepasang anak manusia disampaikan dengan halus. Walaupun sudah basi dengan simbol mengambil buku yang jatuh, tetapi tetap membuat keakraban yang terjalin setelahnya menjadi indah untuk dapat menghadirkan kesan/ image terpelajar dan islami yang ingin ditimbulkannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa warna</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Warna yang ditampilkan pada iklan ini adalah warna yang soft dan alami. Tetapi untuk tokoh utama perempuan warna yang dipakai adalah warna hijau layaknya jeruk nipis. Warna jeruk nipis berarti segar dan kesegaran rambut setelah memakai sampo membuat tokoh utama pun nampak segar dalam balutan busana muslimnya. Hal ini menimbulkan kesan cantik dan aura cantik yang keluar. Berbeda pada awalnya, tokoh utama perempuan memakai jilbab berwarna abu-abu sehingga memperlihatkan kesan kurang segar. Dalam simpulannya bahwa hijau menjadi bahasa simbol dan segar.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->3.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa editing</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Bahasa editing yang digunakan untuk memperlihatkan pergantian harinya adalah dengan memakai dissolve dip to black. Hal ini berarti ada proses yang dibutuhkan untuk mendapatkan kulit kepala yang segar sehingga kepercayaan diri pun tumbuh. Dan ukuran gambar yang dipakai cendrung closeup. Ini dikarenakan mengkhususkan ke kulit kepala yang menggunakan jilbab. Gambar full shot hanya ada pada awal dan akhir iklan untuk menjelaskan lokasi atau tempat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->4.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa bunyi</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Bunyi/ suara atau audio yang terdapat dalam iklan ini merujuk untuk keperluan pendukung suasana. Yaitu suasana asmara yang riang namun tetap <em>coolin down, </em>dalam artian bahwa audio yang dihadirkan berfungsi untuk membuat suasana kasamaran muncul dengan elegan, sama seperti image yang ingin ditimbulkan, yaitu muslimah cerdas, berpendidikan dan pintar sehingga memilih sampo sunsilk jeruk nipis untuk perawatan kulit kepalanya. Sementara itu pada akhir iklan disampaikan bahwa “adakalanya kecantikan itu tidak perlu dilafazkan karena kecantikan itu adalah kekuatannya”, hal ini berarti lebih memperjelaskan bahwa untuk memperlihatkan keindahan  rambut tidak harus dengan menampilkan rambut secara verbal, cukup dengan menampilkan kekuatannya sudah tergambarkan dengan jelas bahwa kecantikan mempunyai kekuatan yang hebat.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;"><!--[if !mso]&gt; &lt;!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"TimesNewRoman\,Italic"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:auto; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:TimesNewRoman; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:auto; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} @font-face 	{font-family:"TimesNewRoman\,Bold"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:auto; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:119079666; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1795814520 69271573 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:822550875; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1655270604 1507634466 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]-->&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Masalah periklanan tampaknya tetap menyimpan misteri, mistik dan kontradiktif. Tidak sedikit orang percaya bahwa iklan memiliki kekuatan luar biasa, melalui sebuah mekanisme yang disebut subliminal (bawah sadar). Untuk memaksimalkan efektivitas iklan, pihak pengiklan berlomba-lomba untuk mengembangkan gaya yang unik, namun kreativitas tidak akan cukup tanpa didasari oleh informasi yang tepat tentang keadaan lingkungan sosial budaya di mana iklan itu akan disebarluaskan. Tidak sedikit iklan dengan budget besar gagal karena kreativitas yang salah, isi pesan ternyata berbenturan kondisi penerimanya.</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="54" height="23"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td><img src="/DOCUME%7E1/MAR/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="519" height="348" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Keberhasilan dari suatu perekonomian secara nasional banyak ditentukan oleh kegiatan-kegiatan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">periklanan, periklanan menunjang usaha penjualan yang menentukan kelangsungan produksi pabrik-pabrik, terciptanya lapangan pekerjaan, serta adanya hasil yang menguntungkan dari seluruh uang yang telah diinvestasikan. Apabila proses ini terhenti, maka terjadilah resesi. Hal ini dibuktikan oleh</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">kenyataan bahwa negara-negara maju senantiasa disemarakkan oleh kegiatan-kegiatan periklanan yang gencar. Sedangkan di negara-negara dunia ketiga, di mana dasar perekonomiannya masih lemah dan kegiatan periklanannya masih berada dalam taraf minimum, lapangan kerja begitu sulit di dapat sehingga begitu banyak kaum muda yang potensial tidak dapat menemukan sumber nafkah. Kehidupan modern saat ini sangat tergantung pada iklan. Tanpa iklan para produsen dan distributor tidak akan dapat menjual barangnya, sedangkan di sisi lain konsumen tidak memiliki informasi yang memadai mengenai produk-produk barang dan jasa yang tersedia di pasar. Jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan tingkat keuntungannya, maka ia harus melangsungkan kegiatan-kegiatan periklanan secara memadai dan terus menerus. Produksi massal menuntut adanya suatu tingkat konsumsi yang juga bersifat massal dan prosesnya mau tidak mau harus melibatkan berbagai kegiatan periklanan melalui media-media iklan yang diarahkan ke pasar-pasar yang juga bersifat massal.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong>SEMIOTIKA </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Semiotika berasal dari bahasa Yunani“<em>semeion</em>” yang berarti tanda, semiotika diartikan sebagai ilmu tanda, dengan tanda kita mencari keteraturan di pentas dunia. Tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya mencari dan menemukan jalan di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia (Sobur, 2003 : xxi). Menurut Ferdinand de Soussure, semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (2003 : vii). Sedangkan menurut Umberto Eco dalam <em>A</em> <em>Theory of Semiotics</em>, semiotika komunikasi adalah semiotika yang menekankan pada aspek produksi tanda dari pada sistem tanda. Sebagai sebuah mesin produksi makna, semiotika komunikasi bertumpu pada pekerja tanda, yang memilih tanda dari bahan baku t a n d a &#8211; tanda  yang ada dan mengkombinasikannya dalam rangka memproduksi sebuah bahasa bermakna. Istilah semiotika atau semiotik yang dimunculkan pada akhir abad ke –19 oleh filsuf aliran pragmatik Amerika, Charles Sanders Pierce, merujuk kepada “doktrin formal tentang tanda-tanda”. Yang menjadi dasar semiotika adalah konsep tentang tanda, tak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiri pun-sejauh terkait dengan pikiran manusia seluruhnya terdiri atas tanda-tanda karena jika tidak begitu, manusia tidak akan bisa menjalin hubungannya dengan realitas. Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda yang paling fundamental bagi manusia, sedangkan tanda nonverbal seperti gerak-gerik, bentuk-bentuk pakaian serta beraneka praktek konvensional lainnya, dapat dipandang sebagai sejenis bahasa yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan relasi-relasi. Menurut Littlejohn (1996 : 64), tanda adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Menurut Jakobson (Hoed, 2001 : 140), semiotika terdiri dari dua jenis yaitu semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Yang pertama menekankan kepada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu pengirim, penerima, pesan, saluran, dan acuan. Yang kedua memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. Pada jenis kedua tidak diutamakan tujuan berkomunikasi tapi pemahaman suatu tanda sehingga kognisinya pada penerima tanda lebih diperhatikan dari pada proses komunikasinya. Pada dasarnya semiotika dipandang sebagai suatu proses tanda yang dapat digambarkan sebagai hubungan antara lima istilah :</p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="border:medium none;margin-left:1.3pt;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height:21.05pt;">
<td style="border:1pt solid windowtext;width:110.45pt;height:21.05pt;padding:0 5.4pt;" width="147" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong>S ( s, i, e, r, c )</strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">S adalah untuk <em>semiotic relation </em>(hubungan semiotik), s untuk <em>sign </em>(tanda), I untuk <em>interpreter</em> (penafsir), e untuk <em>effect </em>atau pengaruh, r untuk <em>reference </em>(rujukan) dan c untuk <em>context </em>(konteks) atau <em>conditions </em>(kondisi). Semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau ilmu tentang tanda secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong>PEMAHAMAN MENGENAI PERIKLANAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em>Advertising </em>berasal dari bahasa Latin <em>advertere </em>yang berarti <em>to run toward </em>atau dalam<em> </em>terjemahan fungsional berarti sasaran iklan<em> </em>adalah mengubah jalan pikiran konsumen<em> </em>untuk membeli Kasali, 1993 : 10). AMA<em> </em>(<em>American Marketing Association</em>)<em> </em>mendefinisikan iklan sebagai <em>any paid form of</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em>non personal presentation and promotion of ideas, goods or services by an identified sponsor</em>,<em> </em>sedangkan Masyarakat periklanan Indonesia<em> </em>mendefinisikan iklan sebagai segala<em> </em>bentuk pesan tentang suatu produk yang<em> </em>disampaikan lewat media, ditujukan kepada<em> </em>sebagian atau seluruh masyarakat (Kasali,<em> </em>1993 : 11).<em> </em>Periklanan dapat didefinisikan juga sebagai<em> </em>komunikasi yang disponsori, yang ditempatkan<em> </em>di media massa dengan bayaran tertentu<em> </em>(Keegan,1996). Hal ini seiring dengan pendapat<em> </em>Kleppner (1990), periklanan adalah suatu<em> </em>metode penyampaian pesan dari suatu sponsor<em> </em>melalui medium impersonal (bukan tatap<em> </em>muka kepada banyak orang). Iklan merupakan<em> </em>bagian yang pokok dari hampir setiap rencana<em> </em>pemasaran. Anda memiliki suatu produk yang<em> </em>sangat dicari-cari publik, sesuatu yang benar-benar<em> </em>dibutuhkan. Namun jika Anda tidak<em> </em>mengatakan kepada mereka bahwa produk<em> </em>tersebut ada, apa kegunaannya bagi mereka<em> </em>dan bagaimana cara mendapatkannya, Anda<em> </em>juga tidak perlu susah memproduksinya. Hal<em> </em>ini mungkin tampak terbukti dengan sendirinya,<em> </em>tetapi mengejutkan betapa begitu banyak<em> </em>orang percaya bahwa produk yang baik akan<em> </em>menjual sendiri. Apakah iklan Anda sederhana<em> </em>atau canggih, apakah Anda menggunakan<em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">beberapa media atau hanya satu atau dua, itu akan bergantung pada produk dan pasar Anda. Namun, ada sedikit sekali bisnis yang dapat mencapai potensi penuh mereka tanpa iklan sama sekali.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Ada banyak alasan untuk membuat iklan, menurut Bennie (1997) beberapa alasan terpenting orang membuat iklan adalah :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">1. Untuk mengumumkan suatu produk baru atau modifikasi dari produk lama</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">2. Untuk mencapai pembeli-pembeli baru</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">3. Untuk mengumumkan penjualan obral atau penawaran istimewa</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">4. Untuk mengundang para peminta keterangan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">5. Untuk mengundang penjual</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">6. Untuk mempertahankan penjualan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">7. Untuk tetap berada di depan dan kompetisi</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Sebagian besar bisnis memasang iklan untuk berbagai alasan (kombinasi) dan mungkin dengan kombinasi berbagai jenis iklan. Misalnya suatu perusahaan hanya mengiklankan penjualan obral atau penawaran istimewa, Anda dapat mengubah citra Anda, publik cenderung menghubungkan Anda dengan citra penawaran istimewa bukan de-ngan kualitas yang Anda tawarkan. Dari perspektif komunikasi iklan merupakan salah satu sarana komunikasi yang digunakan produsen dalam dunia perdagangan terhadap konsumen, untuk memperoleh lebih banyak calon pembeli dengan biaya lebih rendah, dalam waktu yang lebih singkat. Sedangkan pengaruhnya akan melekat lebih lama pada ingatan pemirsa (Sudiana, 1986). Pembicaraan seputar manfaat iklan masih mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat. Sebagian menganggap iklan negatif, sebagian yang lain menganggap iklan bermanfaat bagi pembangunan masyarakat dan ekonomi, Menurut Kasali (1992 : 12) manfaat iklan adalah sebagai berikut :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">1. Dapat mengetahui adanya berbagai produk, yang pada giliranya dapat menimbulkan  adanya pilihan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">2. Iklan membantu produsen menimbulkan kepercayaan bagi konsumennya. Iklan yang tampil secara gagah di hadapan masyarakat dengan ukuran besar dan logo yang cantik pembangkit kepercayaan yang bonafiditas perusahaan dan mutu produk yang ditawarkan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">3. Iklan membantu orang kenal, ingat, dan percaya diri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Di lihat dari segi omzet belanja iklan, bisnis di bidang ini masih merupakan kesempatan besar. Belanja iklan tahun 1994 akan mencapai kurang lebih 1,66 Trilyun Rupiah. Apabila termasuk industri penunjang iklan seperti rumah produksi dan jasa pembuatan film-film pendek (video klip), proyek tersebut akan menjadi 2,3 Trilyun Rupiah. Menurut Jules Backman dalam <em>Advertising And Competition</em> (1967) : Sesungguhnya iklan tidak akan memeras perekonomian dan memboroskan kehidupan konsumen. Iklan justru akan mampu mengembangkan serta mensejahterakan mereka. Pemasaran produk konsumen lebih memerlukan iklan untuk media komunikasi apabila dibandingkan dengan pemasaran produk industri. Produk yang sering dibeli, harganya relatif rendah memerlukan dukungan periklanan yang kuat. Tidak mengherankan perusahaan produk konsumen terdaftar sebagai pemasang iklan terbesar. Menurut Advertising Age (1989), Procter &amp; Gamble mengeluarkan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">US$ 2,7 Milyar untuk periklanan di seluruh dunia dan 34% diantaranya untuk iklan di luar Amerika Serikat, kemudian Philip Morris mengeluarkan US$ 2 Milyar untuk periklanan di seluruh dunia dan 17% diantaranya untuk iklan di luar Amerika Serikat, dan Unilever perusahaan di luar Amerika Serikat mengeluarkan US$ 1,7 Milyar untuk iklan di seluruh dunia dan 34% diantaranya untuk iklan di Amerika Serikat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>SEMIOTIKA PADA PERIKLANAN </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">Alat dalam komunikasi periklanan selain bahasa, terdapat alat komunikasi lainnya yang sering dipergunakan yaitu  gambar, warna dan bunyi. Untuk mengkaji  iklan dalam perspektif semiotika, kita bisa mengkajinya melalui sistem tanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang baik verbal maupun berupa ikon. Pada dasarnya lambang yang digunakan dalam iklan terdiri dari dua jenis yaitu verbal dan nonverbal. Lambang verbal adalah bahasa yang kita kenal, lambang nonverbal adalah bentuk dan warna yang disajikan dalam iklan yang tidak secara meniru rupa atas bentuk realitas. Ikon adalah bentuk dan warna yang serupa atau mirip dengan keadaan sebenarnya seperti gambar benda, orang atau binatang (Sobur, 2003 : 116). Kajian sistem tanda dalam iklan juga mencakup objek. Objek iklan adalah hal yang diiklankan. Dalam iklan, produk atau jasa itulah objeknya. Yang penting dalam meneelaah iklan adalah penafsiran kelompok sasaran dalam proses interpretan. Jadi sebuah kata seperti eksekutif meskipun dasarnya mengacu pada manajer  menengah, tetapi selanjutnya manajer menengah ini ditafsirkan “suatu tingkat keadaan ekonomi tertentu” yang juga kemudian ditafsirkan sebagai “gaya hidup” tertentu yang selanjutnya ditafsirkan “kemewahan” dan seterusnya. Penafsiran yang bertahap ini merupakan segi penting dalam iklan, proses seperti ini disebut <em>Semiosis </em>(Hoed, 2001 : 97). Menurut Berger (2000 : 199), bila akan menganalisis iklan kita harus mengambil iklan dengan orang, objek, latar belakang menarik, naskah yang menarik. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisis iklan :</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">1. Penanda dan petanda</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">2. Gambar, indeks dan simbol</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">3. Fenomena sosiologi, demografi orang dalam iklan dan orang-orang yang menjadi sasaran iklan, refleksikan kelas-kelas sosial ekonomi, gaya hidup dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">4. Sifat daya tarik yang dibuat untuk menjual produk, melalui naskah dan orang-orang yang dilibatkan dalam iklan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">5. Desain dari iklan, termasuk tipe perwajahan yang digunakan, warna dan unsur estetik yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">6. Publikasi yang ditemukan di dalam iklan dan khayalan yang diharapkan oleh publikasi tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong>SEMIOTIKA PADA IKLAN SUNSILK</strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="A">
<li class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>IKLAN SUNSILK MALAYSIA VERSI SUNSILK      SEGAR MURNI</strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;">Iklan yang berdurasi 59 detik ini bercerita mengenai seorang mahasiswi berjilbab yang awalnya <em>agak gerah</em> dengan rambutnya. Ia diam-diam menyukai seorang teman mahasiswanya, namun tidak percaya diri. Dan ketika melihat bacaan mengenai arti penting dan manfaat jeruk nipis untuk kulit kepala membuatnya menggunakan sampo sunsilk jeruk nipis yang botolnya berwarna hijau. Dan setelah memakai sampo ini si mahasiswi pun menemukan kesegaran di kulit kepalanya yang selalu mengenakan jilbab. Setelah menemukan kesegaran dikulit kepalanya, kepercayaan diri pun tumbuh pada dirinya sehingga ia menjadi percaya diri untuk berdekatan dengan mahasiswa yang disukainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;">Dari pembahasan diatas mengenai semiotika periklanan, banyak bahasa gambar dan bahasa tanda yang bisa kita uraikan menjadi beberapa bagian diantaranya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa visual</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Bahasa visual yang ditampilkan dalam iklan ini diuraikan pada beberapa item yang mengandung konotasi visual. Jika dilihat dari lokasi kejadian adalah di sebuah perpustakaan kampus. Perpustakaan(sebagai tanda) yang berarti pendidikan. Pendidikan merujuk pada kaum terpelajar, yang artinya sasaran pemakai produk ini adalah kaum terpelajar dan berpendidikan bagus. Lalu item kedua dengan menampilkan tokoh utama seorang mahasiswi cantik yang mengenakan kerudung. Kerudung berarti simbol agama islam (tanda). Yang merujuk kepada seorang muslimah yang tetap menggunakan kerudung walaupun mengiklankan produk sampo. Tetapi lewat bahasa gambar yang tepat, rambut tokoh utama pun tidak dilihatkan. Hal ini berarti bahwa dengan berjilbab atau memakai kerudungpun, memilih sampo yang tepat juga sangat diperlukan. Dan sunsilk jeruk nipis memahami kebutuhan perempuan berjilbab. Dan jika dilihat dari unsur sosial atau kultur budaya tempat produk ini dipasarkan, yaitu Malaysia, dimana sangat ingin menciptakan image keislaman negerinya dan dimana rata-rata perempuan memakai kerudung. Disamping memang hukum pemerintahannya memakai hukum islam. Iklan ini jika dikaitkan dengan perekonomian dan sosial kultur  akan menjadi satu kesatuan yang utuh, dalam artian, iklan ini menempatkan bahasa gambar yang tepat terhadap pangsa pasar yang tepat pula. Selain dari simbol agama yang ditampilkan, iklan ini secara bahasa gambar yang menampilkan kepercayaan diri tokoh utama hadir setelah menggunakan sampo ini. Dan kisah pertemanan sepasang anak manusia disampaikan dengan halus. Walaupun sudah basi dengan simbol mengambil buku yang jatuh, tetapi tetap membuat keakraban yang terjalin setelahnya menjadi indah untuk dapat menghadirkan kesan/ image terpelajar dan islami yang ingin ditimbulkannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa warna</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Warna yang ditampilkan pada iklan ini adalah warna yang soft dan alami. Tetapi untuk tokoh utama perempuan warna yang dipakai adalah warna hijau layaknya jeruk nipis. Warna jeruk nipis berarti segar dan kesegaran rambut setelah memakai sampo membuat tokoh utama pun nampak segar dalam balutan busana muslimnya. Hal ini menimbulkan kesan cantik dan aura cantik yang keluar. Berbeda pada awalnya, tokoh utama perempuan memakai jilbab berwarna abu-abu sehingga memperlihatkan kesan kurang segar. Dalam simpulannya bahwa hijau menjadi bahasa simbol dan segar.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->3.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa editing</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Bahasa editing yang digunakan untuk memperlihatkan pergantian harinya adalah dengan memakai dissolve dip to black. Hal ini berarti ada proses yang dibutuhkan untuk mendapatkan kulit kepala yang segar sehingga kepercayaan diri pun tumbuh. Dan ukuran gambar yang dipakai cendrung closeup. Ini dikarenakan mengkhususkan ke kulit kepala yang menggunakan jilbab. Gambar full shot hanya ada pada awal dan akhir iklan untuk menjelaskan lokasi atau tempat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->4.<span style="font-family:&amp;"> </span><!--[endif]-->Bahasa bunyi</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;line-height:150%;">Bunyi/ suara atau audio yang terdapat dalam iklan ini merujuk untuk keperluan pendukung suasana. Yaitu suasana asmara yang riang namun tetap <em>coolin down, </em>dalam artian bahwa audio yang dihadirkan berfungsi untuk membuat suasana kasamaran muncul dengan elegan, sama seperti image yang ingin ditimbulkan, yaitu muslimah cerdas, berpendidikan dan pintar sehingga memilih sampo sunsilk jeruk nipis untuk perawatan kulit kepalanya. Sementara itu pada akhir iklan disampaikan bahwa “adakalanya kecantikan itu tidak perlu dilafazkan karena kecantikan itu adalah kekuatannya”, hal ini berarti lebih memperjelaskan bahwa untuk memperlihatkan keindahan  rambut tidak harus dengan menampilkan rambut secara verbal, cukup dengan menampilkan kekuatannya sudah tergambarkan dengan jelas bahwa kecantikan mempunyai kekuatan yang hebat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mimpinda.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mimpinda.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mimpinda.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mimpinda.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mimpinda.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mimpinda.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mimpinda.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mimpinda.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mimpinda.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mimpinda.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mimpinda.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mimpinda.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mimpinda.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mimpinda.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mimpinda.wordpress.com&amp;blog=9227033&amp;post=41&amp;subd=mimpinda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mimpinda.wordpress.com/2010/04/10/semiotika-pada-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1015c7ba8d2797384e349feffcdccf2a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mimpinda</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
