Vignet 2014

Aku rupanya tetap menyimpan hasrat menjadi penulis (sastra). Satu kali aku ikut kelas workshop penulisan dengan seorang sastrawan perempuan. Tetapi itulah rupanya saat-saat aku menyatakan diri tidak berbakat menulis novel ataupun cerpen. Aku tak sabaran, pikiranku terlalu banyak, rumit, dan susah diurai pelan-pelan. Apalagi jika harus menulis menggunakan metafor seperti halnya pada karya sastra. Lihat kebiasaanku ketika berbicara. Aku bicara dengan apa adanya, ‘nyablak’, cepat sekaligus banyak. Bahkan cenderung kasar bagi sebagian orang yang tidak terbiasa berteman denganku. Meski mengundurkan diri menjadi sastrawan, hal itu tidak mengurangi kesenanganku membaca buku (sastra/fiksi).

Di masa belia aku pernah bercita-cita menjadi seorang penulis novel. Aku ingin menuliskan cerita tentang perjalanan keluarga kami yang tak semudah keluarga pada umumnya. Cita-cita itu tak kunjung dimulai. Sesekali aku menulis pada sebuah diari atau buku cita-cita yang bergambar dan penuh tempelan. Aku lebih sering menggambar dari pada menulis. Meski cita-cita menjadi pelukis atau seniman tak pernah ada di benakku. Dunia seniman terlalu hedon dan tak akan bisa menjadikanku hidup mapan, begitu pikiranku saat masih SMA. Bertemu dengan ‘jurusan Televisi dan Film’ di kampus seni membangkitkan keinginanku untuk memvisualkan kisah keluarga (lagi). Hari ini, rupanya kisah itu harus dituliskan dengan metode penelitian ilmiah. Bangke! Memang perjalanan hidup tak ada yang tau.

Suatu ketika di tahun 2005/2006 (lupa), teman-teman di komunitas desain mengajak membuat majalah, zine istilah kerennya di skena seni-senian. Aku dengan cepat menyetujuinya. Di zine itu aku menulis liputan acara (seni), menggambar komik, vignette, dan wawancara dengan seniman Sumatera Barat. Hingga akhirnya kami melebarkan sayap, mengajak komunitas seni rupa yang sedang moncer di Padang saat itu untuk menerbitkan majalah bersama. Aku semakin pede menulis. Sialnya tidak ada yang mengkritik tulisanku, gaya penulisan, terlebih isinya. Tentu saja, karena tidak ada satupun di antara kami serta teman-teman seniman pandai menulis. Hahaha. Kami berada di atas angin. Bahkan beberapa teman di luar kalangan seni pun menyukai bulletin kami yang suka-suka itu.

Saat itu aku sudah menyadari bahwa kerja-kerja kepenulisan dan penelitian ala ala yang dilakukan dengan teman-teman tidak cukup bernas. Tidak jelas standar penulisannya. Bahkan aku sendiri tidak paham kualitas tulisanku sendiri. Sampai satu saat seorang gebetanku mengatakan “Tulisan kalian di bulletin ini baru sebatas reportase, laporan”. Bahkan saat itu aku tidak begitu paham istilah tersebut. Aku kemudian bertanya, mana tulisanmu, biar aku baca. Begitu aku baca, ya cukup syok, ia seorang kritikus seni rupanya. Ahaha. Ternyata memang tulisanku baru kulit luar saja. Sejak saat itulah kusadari bahwa aku harus kuliah, harus belajar menulis dan meneliti, terutama berpikir dengan terstruktur. Otodidak bagus, tetapi jika bisa belajar merunutkan pikiran dan nalar lebih terstruktur, kenapa tidak? Tentu saja hal itu akan berpengaruh banyak terhadap tulisanku. Dan seperti yang kalian tau, aku akhirnya kuliah setelah empat tahun bekerja setamat SMA.

Salah sendiri, milihnya kampus seni! Aku menemukan bolong di mana-mana. Kebanyakan dosen kami tidak mampu menulis, bahkan tidak mampu beretorika di depan kelas dengan baik. Lalu aku putuskan belajar menulis di UKM Persma. Tadinya aku tak kunjung diterima sebagai anggota Pers Mahasiswa. Lama menunggu, justru pihak rektorat memanggil dan menunjukku (berdasarkan rekomendasi beberapa orang) untuk menjadi ketua Persma. Sialan! Niat belajar, tau-tau disuruh terjun bebas sekalian. Aku belajar ke siapa kalau begitu?! Salah satu tujuan kampus untuk keukeuh membuat Persma tetap bergerak adalah akreditasi kampus. Patut disyukuri, alasan itu membuatku bisa merancang konsep Persma sesuai keinginan dan kebutuhan kami. Rektorat tak banyak cincong selain memenuhinya.

Di Persma, aku mulai mengadakan pelatihan dan jadwal yang ketat untuk menerbitkan Koran kampus. Ya kami memang berhasil menerbitkannya dan bertahan beberapa tahun. Tetapi begitulah, aku tak serta merta bisa belajar leluasa dan fokus mengikuti kelas-kelas penulisan yang kami bikin. Tentu saja karena aku harus menjalankan fungsi-fungsi administrasi, mengawasi acara, dan menjadi tuan rumah yang baik bagi pembicara dan peserta yang kami undang. Kesempatan menulis dan mendapat kolom tulisan memang besar ketika itu, ya aku yang punya. Haha. Sedikit banyak memang mendapatkan ilmu jurnalistik, tetapi tetap saja aku masih terjun bebas menulis dan beretorika. Tetap merasa sendiri! Kan aku yang berada di atas, menjadi ketum Persma selama bertahun-tahun dengan pembimbing yang sangat baik, tak banyak mengkritik. Ibarat orang ingin belajar belajar berdagang, tau-tau disuruh memimpin perusahaan. Ya terjun bebas lagi! Hahha!

Mentor ku adalah insting, perasaan, orang-orang yang kuidolakan, dan semua wacana yang masuk dari mana-mana. Tetapi tentu saja, yang terlihat di luar bahwa aku percaya diri dan yakin tulisanku baik-baik saja. Hahaha. Ya mau bagaimana?

Awal kuliah S1, gebetanku yang lain menanyakan apakah aku punya blog. Ya namanya juga aku, tidak mau ketinggalan, langsung saja belajar buat blog dan menuliskan apa yang ada di pikiran. Yang penting punya blog dulu! Bisa pamer sama gebetan. Haha. Diariku berganti menjadi diari online, blogspot. Sayangnya alamat blog tersebut tak bisa diakses untuk kupamerkan ke-alay-an puisi dan coretan-coretan tra jelas kepada kalian. Hahahaa.

Satu hal yang membuat percaya diriku ambyar adalah ketika S2. Aku baru menyadari ternyata tidak bisa menulis dengan benar dan baik. Logika tulisanku kacau. Aku tidak bisa menulis kalimat sesuai aturan yang benar (SPOK). Kalimatku seringkali tidak utuh. Terkadang satu kalimat bisa sampai satu paragraf dan belum tentu ada gagasan yang jelas. Wkwkwkw. Syukurlah ada yang membantu mengeditkan tulisan dan jalan pikiranku saat itu. Pelan-pelan, tertatih (halaah), bahkan hingga menangis karena hal itu melukai harga diriku. Aku belajar menulis mulai dari awal (lagi)! Bayangkan saja bagaimana harga diriku tidak terluka. Sebagai mantan ketua persma, wartawan komunitas, dan founder beberapa majalah indie justru tak becus menulis! Kok bisa-bisanya aku menipu banyak pembaca (dan terutama diri sendiri) selama ini? Hahhaa.

Sejak saat itu, aku mulai menjadi kritikus bagi tulisanku sendiri. Sebelum menyerahkan tulisan untuk proses pengeditan, aku membaca berulang-ulang terlebih dahulu. Bahkan mengendapkan tulisan itu selama beberapa waktu. Aku baca lagi ketika sudah mengambil jarak barang sebentar. Aku mulai berhati-hati menerbitkan tulisan. Tidak seenak udel (emang udel enak?) seperti dahulu. Bahkan menerbitkan tulisan personal di blog ini saja malu soal kualitas! Lama aku tak menulis di blog ini. Sampai akhirnya karena memang keinginan menulis tak bisa begitu saja dikubur, aku menulis lagi.

Beberapa hari ini aku mengerjakan proyek penulisan. Menjadi reviewer, baca, dan tuliskan review-nya secara singkat. Aku tetap tidak percaya diri, tentu saja. Aku mulai memaksa diri untuk mengikuti proses ini dan memandangnya sebagai sebuah pelatihan menulis (lagi). Tentu saja paksaan ekonomi sebenarnya lebih utama. Wakaka. “Gapapa bodoh, gapapa gak bagus, gapapa harga diri terluka karena mengetahui tulisanmu jelek, nanti kan ada editornya yang ngasih masukan. Gapapa malu sama editornya yang temenmu sendiri, yang penting kamu sudah berusaha maksimal” begitu yang aku tanamkan di otak kecil. Memang sih tidak ada yang percaya bahwa aku orang yang tidak percaya diri. Kalian juga kan? Haha.

Dengan pengalaman yang seperti itu, aku menyampaikan keluhan ke temenku, Nita. Bahwa aku belajar menulisnya otodidak, aku gak pede. Dengan santainya Nita bilang kalau memang tidak semua kampus pun mengajarkan menulis dengan baik. Setiap mahasiswa memang pada akhirnya belajar menulis sendiri. Nita juga bilang kalau memang ada banyak faktor yang membuatku bagus menulis di jenis tulisan tertentu tetapi jelek di jenis lainnya. Itu wajar dan kebanyakan orang begitu kan. Ada banyak lagi kritik Nita (yang selalu moncer itu), tentu saja aku malu berbagi dengan kalian. Ihiiii! Yang ku sadari kemudian adalah (seperti yang dikatakan juga oleh Nita), bahwa jam terbang menulis memang tak pernah bisa bohong. Kita dengan sendirinya akan menemukan ritme tulisan kita sendiri. Apa yang bisa kita maksimalkan dan apa yang memang untuk saat ini diterima saja kalau bisanya segitu dulu. Yang penting (lagi) tetap saja menulis. Gak ada obatnya memang untuk langsung pintar dan bagus itu. Semua butuh proses gessss. Sudah bijak belum? Halah!

Selamat membaca, membaca, dan menulis terus yaaa!